Kisah Sukses Kampung Organik Brenjonk Mojokerto Buka Akses Pasar Premium Para Petani Lokal

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA – Kampung Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, terus memperkuat ekosistem pertanian berkelanjutan di Provinsi Jawa Timur melalui integrasi budidaya tanaman organik yang bersertifikasi dengan sektor pariwisata. 

Inovasi ini terbukti mampu mendongkrak ratusan ekonomi warga sekitar yang menjadi anggota komunitas sekaligus berperan dalam menjaga ketahanan pangan di wilayah aglomerasi Surabaya Raya.

Slamet Inisiator Kampung Organik Brenjonk mengungkapkan bahwa komunitas yang didirikannya pada 2007 tersebut saat ini telah bertransformasi, dari sekadar kelompok tani konvensional menjadi unit kewirausahaan sosial yang mandiri. 

Dengan berfokus pada aspek kesehatan, ekonomi, dan lingkungan, Kampung Organik Brenjonk saat ini telah menjadi pemasok tetap komoditas untuk jaringan ritel modern dan industri hotel, restoran, dan kafe (horeka).

"Mimpi kita itu jadi produknya ibu-ibu itu sejajar dengan produknya almarhum Bob Sadino. Jadi, itu menjadi satu kebanggaan karena selama ini petani kecil memang untuk mendapat akses ke pasar premium itu sangat-sangat terbatas," ujar Slamet.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi di sisi hulu, Kampung Organik Brenjonk mulai menerapkan teknologi digital farming. Lewat dukungan yang diberikan oleh Bank Indonesia (BI), komunitas saat ini telah memiliki serta memanfaatkan peralatan drone sprayer untuk aplikasi pupuk cair pada lahan pertanian milik masing-masing anggota.

Baca Juga

  • Didukung BI, Kampung Organik Brenjonk Tembus Ritel Modern di Jatim
  • Pengolahan Sampah Organik Berbasis Maggot yang Menarik Perhatian
  • Kratos Bidik Pertumbuhan Organik, Ekspansi ke Sektor Pertahanan dan Antariksa RI

Langkah digitalisasi ini menyokong praktik budidaya organik yang ketat, di mana produktivitas rata-rata lahan mampu terjaga di angka 5-6 ton per hektar. Selain itu, Kampung Organik Brenjonk telah memiliki laboratorium kecil untuk perbanyakan sembilan jenis mikroba guna memastikan stabilitas ekosistem tanah.

"Bumi itu sudah ditata sedemikian rupa. Sistem perairan organik itu kita memperkaya mikroba dalam tanah, biota tanah. Cacing-cacing itu tetap tumbuh ideal bagus karena mereka sebenarnya itu relawan yang bekerja 24 jam tanpa harus kita gaji," ucap Slamet.

Di sisi hilir, Brenjonk juga telah mengantongi sertifikasi organik berstandar SNI, yang memungkinkan produk mereka dapat menembus rak retail premium di metropolis. 

Produk utama yang dipasarkan mencakup 45 jenis hasil bumi, mulai dari beras bermacam warna (putih, merah, hitam, coklat), kacang-kacangan, sayur-mayur, hingga buah-buahan berkualitas tinggi yang bebas dari pestisida dan pupuk kimia.

“Sayur itu ya macam-macam ya. Ada caisim, kailan, siomak, bayam merah, bayam hijau, lettuce, ada tomat ceri, tomat sayur, timun, Lalu kalau buah-buahan ini lebih banyak pisang, pisang ambon, pisang berlin, salak, labu madu, hingga rimpang,” ungkapnya. 

Setiap pekannya, Slamet menyebut pihaknya telah mendistribusikan produk ke Surabaya, termasuk ke jaringan retail modern terkemuka, seperti Ranch Market, Hokky, Papaya, hingga Superindo di seluruh Jawa Timur. Strategi ini berhasil memberikan harga jual yang lebih kompetitif bagi para petani dibandingkan pasar tradisional.

“Kalau Senin kita kirim ke Surabaya, salah satunya Ranch Market, Hokky, Papaya, dan lain-lain. Kemudian untuk Jumat, kita kirim ke Superindo. Kebetulan gudang Superindo Jatim di Mojokerto. Jadi kita mendistribusi di 45 toko di Jawa Timur yang khusus menjual produk organik. Jadi, kami senang itu khususnya yang di Mojokerto sehingga dekat. Jadi cost transport-nya menjadi rendah,” tuturnya.

Slamet mengungkapkan Bank Indonesia telah menjadi mitra strategis Kampung Organik Brenjonk sejak 2018, dengan memberikan intervensi mulai dari pengembangan sumber daya manusia hingga infrastruktur fisik. Dukungan ini memicu lahirnya unit edu wisata dan kuliner organik yang kini menjadi motor baru ekonomi desa.

Slamet menyebut lebih dari 11.000 orang telah berkunjung untuk belajar mengenai sistem budidaya organik. Selain itu, kawasan wisata kuliner yang dikembangkan secara kolaboratif telah menarik sekitar 8.500 pengunjung per bulan dengan perputaran uang mencapai Rp300 juta dan menyerap tenaga kerja dari 50 pemuda setempat.

"Sejak ada intervensi dari Bank Indonesia, terhitung sudah ada 11.000 orang yang datang untuk melakukan edukasi. Ada 50 anak-anak muda yang bisa bekerja. Itu sedikit cerita keberhasilannya," pungkas Slamet.

Melalui perpaduan antara kearifan lokal, perlindungan sumber daya air, serta penggunaan teknologi modern, Kampung Organik Brenjonk saat ini menjadi model bagi pengembangan klaster pangan yang tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim di Jawa Timur.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dasco Antar Mahasiswa Usai Audiensi ke Depan DPR, Naik Mobil Komando
• 8 jam laludetik.com
thumb
Jaga Mutu Tata Kelola Manajemen, KAI Logistik Jalani Proses Resertifikasi ISO
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Kemenhut Gelar Konsultasi Publik Guna Bangun Perekonomian Kehutanan yang Inklusif & Berkelanjutan
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Kisi-kisi Soal OSN Geografi SMA 2026: Materi, Bentuk Tes, dan Jadwal Seleksi
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Di Hadapan Mahasiswa, DPR Janji Hapus Status Tersangka 16 Mahasiswa Trisakti
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.