Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang rencananya digelar di Swiss pada Jumat (19/6) resmi dibatalkan. Pembatalan tersebut memicu meningkatnya ketidakpastian gencatan senjata di Timur Tengah.
Pembatalan ini terjadi setelah Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana kunjungan ke Jenewa, Swiss, yang sebelumnya menjadi lokasi pertemuan.
"Logistik dari negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi," kata juru bicara Gedung Putih dalam pernyataan pada Kamis (18/6) malam, dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan bahwa delegasi AS sebenarnya sudah siap berangkat begitu jadwal final disepakati.
Pemerintah Swiss mengonfirmasi bahwa pertemuan di resor Burgenstock tidak akan berlangsung, namun tidak menjelaskan alasan pembatalan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Swiss hanya menyebut bahwa agenda tersebut dibatalkan tanpa rincian tambahan.
Iran belum memberikan respons resmi terkait pembatalan ini.
MoU Sementara Sudah DitekenSebelumnya, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) untuk damai pada Rabu (17/6).
Teheran menyatakan siap memulai pembicaraan teknis setelah kesepakatan sementara 14 poin memperpanjang gencatan senjata hingga 60 hari, termasuk di front Lebanon.
"Pihak Iran perlu melihat tanda-tanda implementasi kesepakatan interim terlebih dahulu," kata kantor berita semi-resmi Tasnim.
Trump juga menegaskan ingin mengakhiri perang dengan tuntutan "menyerah tanpa syarat" dari Iran.
Namun kesepakatan terbaru justru mencakup pelonggaran sanksi ekonomi dan pembekuan aset bernilai puluhan miliar dolar.
Komentar Petinggi IranPemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyebut Trump bertindak karena "keputusasaan".
Ia juga memperingatkan bahwa negosiasi nuklir lanjutan akan berlangsung sulit.
"Jika pihak Amerika terlalu menuntut, kami tidak akan menerimanya," ujarnya dalam pesan resmi yang dilansir Reuters.
Kesepakatan itu memberi waktu 60 hari untuk menentukan status program nuklir Iran.
Lebanon Masih DiserangSementara itu, Israel yang tidak ikut dalam perundingan tetap melanjutkan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.
Serangan terbaru Israel di Lebanon kembali menewaskan sedikitnya 15 orang, menurut laporan media negara NNA.
Situasi ini menambah keraguan terhadap keberlanjutan kesepakatan damai yang sedang diupayakan.
Dua pejabat Israel pada Kamis (18/6) menyebut pihaknya bernegosiasi dengan AS untuk mempertahankan pasukan di Lebanon selatan.





