“Tenang saja, semua masalah akan kami urus.”
Begitu kata Presiden FIFA, Gianni Infantino, di depan wartawan dengan wajah tenang. Namun beberapa detik kemudian suasana berubah ketika seorang jurnalis BBC menyanggahnya.
Ia menyebut ada wasit FIFA yang ditolak masuk Amerika Serikat karena dicurigai terkait terorisme. Tim Iran bahkan harus memindahkan lokasi latihan ke Meksiko. Belum lagi fans dan wartawan dari beberapa negara yang kesulitan mengurus visa dan melewati pemeriksaan berlapis di bandara.
Tiba-tiba Piala Dunia terasa berbeda. Bukan lagi sekadar tentang gol dan sorak suporter, melainkan tentang dunia yang semakin mudah curiga satu sama lain.
Di iklan resmi FIFA semuanya tampak indah: semua negara terlihat setara dan slogan football unites the world terdengar meyakinkan. Tetapi di bandara, kenyataannya sering berbeda.
Ada paspor yang membuat seseorang bisa lewat dengan mudah, ada pula yang membuat pemiliknya harus menjawab banyak pertanyaan sebelum diizinkan masuk. Ada yang datang seperti tamu kehormatan, ada juga yang diperlakukan seperti ancaman.
Ironis memang. Padahal nanti di lapangan semuanya melakukan hal yang sama: berlari dan mengejar satu bola.
Di situlah Piala Dunia terasa seperti cermin besar. Sebab sepak bola tidak pernah hanya soal sepak bola. Di dalamnya ada identitas, sejarah, politik, bahkan luka lama antarnegara yang belum benar-benar selesai.
Secara psikologi sosial, manusia memang cenderung lebih nyaman dengan “kelompok sendiri”. Kita lebih mudah percaya pada sesuatu yang terasa familiar dan lebih gampang curiga pada yang dianggap berbeda. Karena itu pertandingan sepak bola sering terasa sangat personal. Yang bermain bukan hanya atlet, tetapi juga rasa memiliki.
Itulah sebabnya suasana pertandingan cepat memanas ketika dunia sedang tegang. Kekalahan terasa menyakitkan, kemenangan terasa seperti harga diri bangsa. Sepak bola menyerap emosi zamannya.
Mungkin itu sebabnya Piala Dunia selalu terasa lebih besar daripada olahraga biasa. Karena yang bermain bukan cuma kaki, tetapi juga identitas dan emosi manusia.
Dan mungkin itu juga alasan miliaran orang tetap menonton. Bukan cuma untuk melihat siapa yang juara, tetapi karena di tengah dunia yang makin sibuk saling curiga, sepak bola masih menyediakan ruang kecil tempat manusia bisa merasakan kebersamaan—walau hanya selama 90 menit.





