BEI Bingung MSCI Persoalkan Ketersediaan Informasi Berbahasa Inggris di Bursa

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan diskusi bersama MSCI terkait hasil penilaian lembaga penyedia indeks global itu terhadap pasar RI dalam review terbarunya. Pembahasan dalam diskusi nanti termasuk soal penilaian atas transparansi pasar modal Indonesia dan permintaan penyediaan informasi dalam Bahasa Inggris.

Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya mengapresiasi masukan yang diberikan MSCI. Menurut dia, sejumlah catatan tersebut telah menjadi bagian dari diskusi antara BEI dan MSCI selama ini.

"Untuk melakukan klarifikasi atas beberapa poin yang menjadi concern, ya misalnya ada informasi yang tidak tersedia dalam Bahasa Inggris, nah itu informasi yang mana, sedangkan kan sesuai dengan peraturan bursa, seluruh laporan keuangan itu sudah harus disampaikan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris)," kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (19/6).

Dia menilai secara keseluruhan hasil kajian MSCI memuat lebih banyak aspek positif terhadap pasar modal Indonesia. Adapun sejumlah catatan yang diberikan akan menjadi bagian dari agenda reformasi pasar modal yang tengah dijalankan otoritas bursa.

Jeffrey memastikan BEI akan terus memperkuat tata kelola pasar melalui berbagai pembenahan, mulai dari infrastruktur perdagangan, penyempurnaan regulasi hingga pengawasan pasar.

"Perbaikan infrastruktur perdagangan sudah pasti kami lakukan. Perbaikan dari sisi peraturan juga akan kami lakukan," ujarnya.

Menurut Jeffrey, penguatan pengawasan diharapkan dapat memperbaiki penanganan praktik manipulasi pasar maupun orchestrated trading, tanpa mengurangi upaya menjaga likuiditas pasar.

Di sisi lain, Jeffrey meyakini reformasi yang dilakukan saat ini akan terus berjalan sehingga meningkatkan transparansi, tata kelola serta kredibilitas pasar modal Indonesia sehingga mampu memperkuat kepercayaan investor.

"Yang diharapkan tentu akan menumbuhkan keyakinan investor bahwa reformasi terus berjalan dan membawa transparansi serta tata kelola yang lebih baik," kata Jeffrey.

Terkait status Indonesia dalam klasifikasi MSCI, Jeffrey berharap Indonesia tetap berada dalam kelompok emerging market. Namun, ia menegaskan keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan MSCI. 

"Kalau melihat apa yang disampaikan hari ini, tentu besar harapan kita Indonesia tetap berada di emerging market. Tetapi pasar akan menilai secara objektif apa yang sudah dilakukan bursa dalam beberapa bulan terakhir. Kami tidak ingin berandai-andai, kita tunggu saja hasilnya," ujarnya.

Sebelumnya MSCI menurunkan penilaian information flow Indonesia dari “+” menjadi "-". Penurunan itu dinilai karena keterbatasan transparansi kepemilikan saham dan potensi perdagangan terkoordinasi yang memengaruhi mekanisme pembentukan harga di bursa.

Meskipun menurunkan penilaian kriteria aksesibilitas pasar, MSCI belum mengubah status Indonesia sebagai emerging market. Hasil Tinjauan Klasifikasi Pasar Tahunan MSCI 2026 yang akan menentukan status tersebut akan diumumkan pada 23 Juni 2026 atau Selasa pekan depan.

MSCI menilai masih terdapat kekhawatiran terkait aksesibilitas pasar modal Indonesia akibat kurang transparannya struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perdagangan yang dilakukan secara terkoordinasi. Menurut MSCI, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pembentukan harga yang wajar di pasar.

Selain itu, MSCI mengatakan hal itu akan membatasi kemampuan investor institusional global dalam menilai jumlah saham beredar yang sebenarnya (free float) serta mengandalkan harga pasar untuk penyusunan portofolio dan replikasi indeks. 

Hal serupa juga ditemukan di Turki, terutama pada emiten berkapitalisasi kecil. Praktik tersebut dinilai dapat menghambat proses pembentukan harga dan meningkatkan volatilitas pasar.

“Akibatnya, kriteria information flow diturunkan untuk kedua pasar tersebut, mencerminkan masih adanya kekhawatiran terkait transparansi free float dan proses pembentukan harga (price formation) yang wajar,” tulis MSCI dalam pengumumannya, Jumat (19/6).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bingung Nagih Utang? Ini Contoh Kalimat Sopan yang Tetap Efektif
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Tiga gol Jonathan David antar Kanada hancurkan Qatar 6-0
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Menhut Klaim Indonesia Semakin Mampu Tangani Karhutla
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Perintahkan Matangkan Persiapan Timnas untuk Piala Dunia 2030
• 33 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Kalahkan Korsel, Meksiko Negara Pertama yang Lolos Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Ini Daftar Tim yang Hampir Pasti Lolos
• 12 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.