"In This Economy", Belajar Jadi Kru Kapal Pesiar Agar Bisa Melayari Dunia

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Percakapan di media sosial yang menyelipkan kalimat in this economy belakangan populer di kalangan anak muda. Mereka merasa relate dengan kalimat itu untuk mempertanyakan bagaimana mungkin bertahan dalam situasi ekonomi Indonesia yang susah cari kerja, atau kerja tapi bergaji kecil, sementara kebutuhan sehari-hari plus gaya hidup melampaui gaji per bulan.

Sebagai anak muda, Algy (20), warga Bandung, Jawa Barat, ini juga mempertanyakan situasi ekonomi belakangan ini. Seusai lulus SMA di 2024, sebenarnya ia hendak melanjutkan kuliah di bidang farmasi. Akan tetapi, mengamati perbincangan di media sosial, banyak anak muda alami kesulitan memperoleh kerja, meskipun itu berbekal gelar sarjana. Jika memiliki pekerjaan pun gajinya kecil.

Algy teringat saudaranya yang pernah ikut pendidikan satu tahun di International Hotel and Crusieship Trainging (IHCT), lembaga kursus dan pelatihan bidang perhotelan dan kapal pesiar di Bandung. Sepupunya jadi bisa bekerja di kapal pesiar dan berkeliling dunia. Ketika kembali ke Bandung, sepupunya itu bisa berkarier di hotel dengan gaji dua digit.

“Saya melihat keadaan sekarang susah juga cari kerja. Tetapi saya melihat ada prospek kerja di hotel-hotel sampai kapal pesiar di luar negeri,” kata Algy yang ditemui di Kampus IHCT di Kabupaten Bandung, Senin (15/6/2026).

Baca JugaPendidikan Vokasi, Jembatan Mengisi Kebutuhan Industri
Baca JugaKapal Pesiar, Puncak Simbol Kemakmuran Kaum Superkaya

Algy yang tak pernah memasak di dapur, memberanikan diri untuk nyemplung ke dalamnya dengan mengambil keahlian kitchen saat mendaftar di IHCT, dan keahlian itu dijalaninya selama satu tahun. Sejak saat itu, tak ada lagi istilah leha-leha dalam hidup Algy. Tidak ada lagi bangun siang yang jadi kebiasannya.

Dia digembleng untuk bisa memasak menu pembuka (appetizer), sup, menu utama, dan menu penutup dari masakan barat dan Asia. Dia juga diajar untuk mampu melayani di food and beverage service dan housekeeping yang umum dalam dunia kerja perhotelan. Dalam menjalani praktik, ia tak hanya melakukannya di hotel-hotel di Bandung tapi juga di Malaysia.

Saat ini, Algy tengah menunggu keberangkatan menuju salah satu hotel ternama di Turki untuk bekerja. Gaji bersih yang didapatnya sekitar Rp 12,5 juta sebulan, tanpa memikirkan lagi tempat tinggal dan makan.

In this economy, gaji itu bagus lah dibandingkan kerja di Indonesia. Tadinya saya mikir mau nikah muda. Tapi sekarang berubah, mau fokus kerja. Belum kepikiran apakah nanti akan ke kapal pesiar karena umur belum cukup. Tapi pengalaman kerja di hotel bintang 4 atau 5 di luar negeri bisa jadi modal yang bagus,” kata Algy.

Kesempatan menjajaki karier di kapal pesiar, juga menarik perhatian Andreas (24) yang sudah tak sanggup menuntaskan kuliahnya di bidang komputer akibat terlampau banyak belajar coding. Ia mengaku sempat mencoba bertahan empat semester di kampusnya di Bandung, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kuliahnya di bidang komputer itu.

Dengan adanya harapan bekerja di kapal pesiar, Andreas dengan antusias mengikuti pendidikan dan pelatihan di IHCT selama satu tahun. Walaupun selama menempuh pendidikan tersebut, dia harus kuat secara fisik, mental, dan tidak mengeluh saat bekerja panjang. Apalagi dia harus belajar banyak hal yang berbeda dari studi yang digeluti sebelumnya, seperti memberikan layanan di hotel.

“Saya sedang menyiapkan batu loncatan untuk ke kapal pesiar. Sebentar lagi saya kerja di salah satu hotel di Meklah. Sambil kerja, saya mau sering berdoa di Masjidil Haram supaya bisa diterima di kapal pesiar di Timur Tengah,” ujarnya.

Pilihan bekerja di kapal pesiar menjadi kesempatan baik bagi anak-anak muda yang ingin mendapat gaji yang lebih baik sambil keliling dunia.

Baca JugaMemasak untuk Belajar Mandiri dan Bekerja Sama
Baca JugaKafe di SMK Negeri 15 Bandung, Titian Siswa ke Dunia Kerja
Didukung alumni

Algy, Andreas, dan anak muda lainnya yang bergabung di IHCT merasa yakin untuk membidik peluang kerja di kapal peisar karena memperoleh dukungan dari para alumni. Dukungan itu baik berbagi cerita mengenai pengalaman menempuh pendidikan hingga pengalaman kerja.

Taufik (46), salah satu alumni IHCT, yang pernah bekerja di bagian service di salah satu perusahaan kapal pesiar di Amerika Serikat tahun 2005-2016, kerap membagikan pengalamannya kepada siswa di IHCT. “Saya berhenti karena menikah dan istri tidak menginjinkan lagi berlayar. Tapi melihat dollar AS yang saat ini tinggi, saya mau kembali lagi kerja di kapal pesiar. Ini mau coba beralih ke Eropa, kalau bisa di Belanda,” ujarnya.

Taufik mengaku, sudah memperoleh gelar sarjana ketika ikut pendidikan di IHCT. Menurutnya, sudah lama bermimpi kerja di kapal pesiar. Baru belakangan, setelah lulus sarjana, ia memperoleh informasi bahwa kesempatan berkarier di kapal pesiar bisa dijangkau dengan menempuh pendidikan di IHCT.

Taufik mengakui bekerja di kapal pesiar tidak mudah. Tidak bisa bekerja santai apalagi bermalas-malasan. Tiap berlayar, bisa sekitar 6.000 tamu yang dilayani, sehingga tiap orang bekerja dengan jam kerja yang ketat.

“Dengan ikut pelatihan dahulu, seperti di IHCT, ilmunya kepakai (untuk bekerja di kapal pesiar). Terutama untuk menyiapkan mental supaya tidak menyerah dengan tekanan kerja. Awal penyesuaian saja berat. Tapi selanjutnya ketika melihat gaji dollar, sampai bisa dapat tips dari tamu, bekerja di kapal pesiar akan menyenangkan. Banyak teman dari berbagai negara,” ujar Taufik.

Taufik mengatakan pilihan bekerja di kapal pesiar menjadi kesempatan baik bagi anak-anak muda yang ingin mendapat gaji yang lebih baik sambil keliling dunia. Sistem kerja kontrak bisa 8-10 bulan per tahun.

“Sepanjang kita tidak bermasalah, kontrak biasanya diperpanjang. Bahkan ada peluang karier naik sampai jadi manajer. Asal jangan baper-an (bawa perasaan) kerja di kapal pesiar,” ujar Taufik yang ketika itu bekerja di dining room bagian service.

Baca Juga2.843 Lowongan Program Padat Karya Dibuka, Gaji UMP Jakarta
Baca JugaGenerasi Z: Sudah Susah Cari Kerja, Dianggap Sebelah Mata Pula

Setidaknya 10 tahun lamanya Taufik menekuni pekerjaannya di kapal pesiar dengan berkeliling ke berbagai tempat di Amerika Serikat. Saat kembali pulang ke Indonesia, dia memilih bekerja di perhotelan di Bandung.

“Melihat kurs dollar AS sekarang, rasanya indah buat kembali lagi berlayar. Ini yang membuat saya dulu bertahan lama, gajian dollar AS per dua minggu, bisa mengirim uang ke keluarga. (Selama bekerja di kapal pesiar) teman-teman dari berbagai negara, dan akrab semua. Lama-lama, rasa rindu untuk pulang bisa diatasi,” ujarnya.

Menempa mental

Dikelilingi kawasan yang asri dengan pemandangan gunung dan persawahan di Banjaran, Kabupaten Bandung, menjadi kenyamanan tersendiri selama menempuh pendidikan di kampus IHCT. Pendidikan yang disediakan di institusi ini mulai dari keahlian kitchen, food and beverage services, housekeeping, dan barista.

Dengan bekal pendidikan di IHCT, para peserta didik dapat menjajal kemampuan mereka dengan bekerja di hotel. Setelah memiliki pengalaman bekerja di hotel selama 1-2 tahun, terbuka lebar kesempatan untuk bekerja di kapal-kapal pesiar yang mewah untuk berkeliling di kawasan Amerika, Eropa, hingga Timur Tengah terbuka Lebar.

Di ruang kitchen, Senin sore lalu, terdapat sejumlah siswa sibuk memasak. Ada yang menyiapkan bahan-bahan masakan, seperti memotong daun bawang, kentang, ayam, hingga membuat bumbu tomyam khas Thailand. Ada pula yang tengah memasak soto ayam khas Indonesia.

“Kami sedang mempraktikkan pembuatan potato cream soup, chicken tomyam dan soto ayam. Nanti pembimbing menguji rasanya,” kata Salman, asal Tasikmalaya, yang sedang menjalani pelatihan.

Mereka yang putus kuliah, bahkan yang sudah jadi sarjana, bisa mendaftar jadi peserta pelatihan.

Baca JugaKerja Aman di Luar Negeri untuk Anak Muda, Mungkinkah?
Baca JugaBekerja di Luar Negeri, Mengapa Tidak?

Saat itu, Salman dan juga siswa lainnya memperoleh materi untuk membuat empat tahapan menu dari appetizer (hidangan pembuka), soup (sup), main course (santapan utama), dan dessert (pencuci mulut). Setidaknya 30 menu masakan Barat dan Asia diajarkan kepada para siswa. Selain memperoleh pendidikan mengenai memasak, dalam satu minggu, para peserta juga diajarkan untuk melakukan public speaking, pendidikan moral dan karakter, dan juga memperaktikkannya.

Pendiri dan Direktur IHCT Bandung Herdyanto mengatakan anak muda lulusan SMA/SMK alias fresh graduate, mereka yang putus kuliah, bahkan yang sudah jadi sarjana, bisa mendaftar jadi peserta pelatihan. Pendidikan selama setahun menempa peserta untuk siap bekerja di hotel-hotel di Bandung hingga job training selama enam bulan di Malaysia.

Menempa karakter dan budaya kerja generasi sekarang yang lekat dengan dunia digital menjaid tantangan. Pendidikan model asrama pun dipilih agar sikap disiplin, bekerja sama, dan mandiri bisa terbangun di antara para peserta didik.

“Pekerja dari Indonesia sebenarnya didukai, karena hospitality-nya itu memang sudah ada. Lewat pendidikan ini (peserta) ditempa untuk kemampuan bahasa inggris, mental, dan skill-nya,” ujar Heryanto yang juga pernah bekerja di kapal pesiar di Amerika Serikat.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Tatang Muttaqin, sebelumnya, menyampaikan, bahwa dunia pendidikan vokasi saat ini dituntut menyiapkan lulusan yang siap go global. Lembaga kursus dan pelatihan, termasuk SMK, berusaha menjawab tuntutan itu.  

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BI Rate Naik, Airlangga Minta Himbara Tak Cepat Naikkan Bunga Kredit
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rumah Hingga Minimarket Milik Fadia Arafiq Disita KPK, Diduga Dibeli Hasil Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Saham SpaceX Jatuh Karena Euforia Pasca-IPO Mulai Mereda
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Masuk Babak Baru, Polda Metro Sebut Kasus Roy Suryo dan dr Tifa Akan Dilimpahkan ke Kejaksaan
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Rupiah Ditutup Tertekan ke Rp17.804 per USD usai The Fed Tahan Suku Bunga
• 3 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.