Ringkasan Berita:
- Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya menghibahkan mesin pencacah sampah organik kepada Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
- Mesin berkapasitas 400–500 kilogram per jam tersebut dirancang untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan bank sampah desa.
- Sampah organik hasil pencacahan akan diolah menjadi produk bernilai ekonomi seperti ekoenzim dan pakan maggot Black Soldier Fly (BSF).
- Program mendapat dukungan DLH Kabupaten Malang yang menargetkan Desa Ngabab menjadi percontohan desa dengan pengelolaan sampah mandiri menuju zero waste.
Malang (beritajatim.com) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan inovasi mesin pencacah sampah organik untuk membantu masyarakat Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, mengurangi volume sampah sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular berbasis desa.
Program yang didanai melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Universitas Brawijaya itu mengusung tema Pemberdayaan Bank Sampah dengan Mesin Pencacah Organik untuk Ekonomi Sirkular di Desa Ngabab. Penyerahan mesin beserta sosialisasi program dilaksanakan di Balai Desa Ngabab pada Jumat (19/6/2026).
Ketua Tim PKM Universitas Brawijaya, Yasa Palaguna Umar, S.TP., M.Sc., Ph.D., menjelaskan mesin pencacah tersebut dirancang untuk menjawab berbagai kendala operasional yang selama ini dihadapi masyarakat dalam mengelola sampah organik.
Mesin bertenaga 8 Horse Power (HP) tersebut mampu mencacah 400 hingga 500 kilogram sampah organik setiap jam, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengolahan limbah di tingkat desa.
“Karena populasi setiap tahun terus naik dan area tempat pembuangan sampah tidak bertambah, salah satu cara terbaik adalah memanfaatkan kembali sampah yang ada. Inovasi mesin pencacah kami ini didesain agar mudah dimobilisasi karena dilengkapi roda, serta dirancang kuat untuk bertahan di berbagai kondisi cuaca, baik panas maupun hujan,” ungkap Yasa yang juga merupakan akademisi Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya.
Program pengabdian tersebut turut melibatkan Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU., ASEAN Eng. dari Universitas Brawijaya dan Demmy Filsafa Ratna Putra, S.P., M.P. dari Universitas Kahuripan Kediri. Selain itu, mahasiswa jenjang sarjana dan magister juga dilibatkan dalam proses pendampingan kepada masyarakat.
Yasa menjelaskan proses pencacahan merupakan tahapan penting sebelum sampah organik diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti ekoenzim maupun pakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Selain mengedepankan fungsi, desain mesin juga memperhatikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Mesin dilengkapi pendorong serta pengait khusus sehingga operator tidak perlu membungkuk maupun mengeluarkan tenaga berlebih saat mengoperasikannya secara terus-menerus.
Ke depan, tim PKM Universitas Brawijaya berencana mengajukan paten atas desain mesin tersebut. Namun, fokus utama program tetap pada pemberdayaan masyarakat, bukan komersialisasi teknologi.
“Tujuan utama kami bukan untuk komersialisasi, melainkan murni untuk kebermanfaatan. Kami menghibahkan alat ini sepenuhnya kepada masyarakat. Mahasiswa kami dari Teknik Lingkungan UB juga akan turun langsung memberikan bimbingan teknis, pelatihan perawatan mesin, hingga pemantauan berkala agar alat ini benar-benar dikuasai dan bermanfaat bagi warga,” tegas Yasa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Dr. Ahmad Dzulfikar Nurrahman, S.T., M.T., mengapresiasi inovasi yang dikembangkan Universitas Brawijaya. Menurutnya, pengelolaan sampah sejak dari tingkat desa menjadi langkah strategis untuk menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Konsepnya seperti mencegah sakit itu lebih baik daripada mengobati. Jika volume sampah bisa dikurangi sebanyak mungkin di tingkat desa, ini akan sangat membantu. Mengingat jarak geografis Kecamatan Pujon ke TPA cukup jauh, kami memiliki roadmap agar Pujon bisa melakukan pengolahan sampah secara mandiri,” jelas Dzulfikar.
Ia berharap Desa Ngabab dapat berkembang menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang nantinya bisa direplikasi di desa maupun kecamatan lain di Kabupaten Malang.
Kepala Desa Ngabab, Amin Afandi, juga menyambut positif program tersebut. Menurutnya, keberadaan mesin pencacah sangat sesuai dengan kebutuhan desa yang setiap hari menghasilkan limbah sayur dan buah dalam jumlah besar.
“Ini luar biasa. Selain menjaga kebersihan lingkungan, ini juga menjadi ajang pemberdayaan ekonomi. Masyarakat tidak perlu membeli bahan kimia, cukup memanfaatkan potensi sisa sayur dan buah di desa untuk dijadikan ekoenzim dan pupuk organik. Kami dari pemerintah desa pasti men-support penuh segala kebutuhan program ini, karena selama ini biaya penanganan sampah yang dibuang sembarangan dan merusak jalan desa sangatlah besar,” papar Amin.
Ia menambahkan keberhasilan program akan sangat bergantung pada sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat, khususnya kalangan ibu rumah tangga yang menjadi penghasil utama sampah domestik.
“Besar harapan kami, ini bisa menjadikan Ngabab sebagai percontohan desa 0% sampah,” imbuhnya.
Manfaat program juga dirasakan langsung oleh warga. Baharuddin, salah seorang warga Desa Ngabab, menilai pendampingan dari Universitas Brawijaya tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
“Ini sangat membantu warga desa. Selain kami bisa mengatasi masalah sampah dalam jangka panjang, program ini juga bisa melatih kemandirian ekonomi masyarakat di desa kami, buat tambah-tambah pendapatan warga,” pungkas Baharuddin. [dan/beq]




