Bisnis.com, JAKARTA — Pembukaan kembali Selat Hormuz yang mendorong penurunan harga minyak dunia dinilai belum mampu menjadi katalis pemulihan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, semester II/2026 lebih tepat dipandang sebagai fase stabilisasi dibandingkan pemulihan penuh bagi industri tekstil. Pembukaan kembali Selat Hormuz memang meredakan salah satu sumber tekanan terbesar terhadap biaya produksi.
Normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz juga mendorong penurunan harga minyak dunia sehingga membuka peluang turunnya biaya produksi industri tekstil. Saat gangguan pasokan energi terjadi, harga paraxylene sebagai bahan baku utama polyester sempat melonjak sekitar 40% sehingga menggerus margin pelaku usaha.
Dengan membaiknya pasokan energi global, tekanan biaya tersebut diperkirakan mulai mereda. Namun, manfaatnya tidak akan langsung dirasakan industri.
"Membaiknya kondisi energi global tidak serta-merta membalikkan keadaan industri tekstil nasional karena sebagian besar tantangan yang dihadapi bersifat struktural," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (19/6/2026).
Terkait alasannya, Yusuf menyebut tiga indikator yang menjadi perhatian. Pertama adalah biaya produksi.
Baca Juga
- Paradoks Hulu-Hilir Industri Tekstil
- AGTI Ungkap Syarat Industri Tekstil RI Bisa Tembus US$100 Miliar pada 2035
- Manufaktur Tertekan: Sektor Kayu Lapis Diversifikasi, Tekstil Desak Stimulus Fiskal
Ketika disrupsi terjadi, harga paraxylene sebagai bahan baku utama polyester sempat melonjak sekitar 40% dalam waktu singkat sehingga menekan margin industri. Dengan normalisasi pasokan energi, tekanan biaya ini berpotensi berkurang secara bertahap.
Kedua, tingkat utilisasi industri TPT yang masih rendah. Sejumlah produsen polyester, kata Yusuf, masih beroperasi di bawah 40% kapasitas, mencerminkan bahwa industri belum mampu memanfaatkan kapasitas produksi secara optimal.
Ketiga yaitu derasnya arus impor yang masih menjadi ancaman bagi industri tekstil domestik. Produk tekstil dari negara-negara yang menghadapi hambatan masuk ke pasar Amerika Serikat akibat perang dagang diperkirakan akan dialihkan ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Situasi ini diperburuk oleh dugaan praktik transshipment yang membuat produk impor semakin sulit bersaing secara sehat," tegasnya.
Di sisi logistik, Yusuf mengakui pembukaan kembali Selat Hormuz membantu menurunkan premi risiko pengiriman, biaya bahan bakar kapal, serta premi asuransi kargo. Namun, dampaknya terhadap industri tekstil Indonesia dinilai relatif terbatas karena jalur tersebut bukan rute utama ekspor tekstil ke Amerika Serikat maupun Eropa.
"Manfaat yang diterima industri tekstil lebih bersifat tidak langsung melalui penurunan biaya energi dan biaya transportasi secara umum," katanya.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah masih menggerus potensi penghematan biaya produksi. Yusuf menjelaskan banyak kebutuhan industri tekstil, mulai dari kapas, sebagian bahan petrokimia, hingga mesin produksi, masih bergantung pada impor sehingga depresiasi rupiah membuat biaya dalam negeri tetap tinggi.
Oleh karena itu, dia berpendapat, prospek industri tekstil ke depan lebih ditentukan oleh kemampuan memperluas akses pasar ekspor dibandingkan sekadar turunnya harga energi. Peluang memperoleh fasilitas tarif nol persen untuk sejumlah produk tekstil Indonesia ke pasar Amerika Serikat dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan produksi dan investasi.
Kendati demikian, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila industri mampu meningkatkan kapasitas produksi dan pemerintah berhasil mengendalikan tekanan impor di pasar domestik.
Untuk itu, Yusuf menilai pemerintah perlu memanfaatkan momentum penurunan harga energi dengan memperkuat pengawasan impor dan praktik transshipment, mempercepat pengembangan industri petrokimia domestik, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan efisiensi logistik.
"Langkah-langkah tersebut akan memberikan dampak yang jauh lebih permanen dibandingkan sekadar menikmati penurunan harga energi yang sifatnya sementara," pungkasnya.





