Pengusaha Bawang Fermentasi dan Peternak Ayam Keluhkan Dampak Pemadaman Listrik

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM mengeluhkan dampak pemadaman listrik yang masih terus terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Akibat pemadaman listrik yang terjadi selama berjam-jam tersebut, produksi bawang fermentasi hingga usaha peternakan ayam pedaging terganggu.

Pemadaman listrik salah satunya terjadi di wilayah Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Hingga Jumat sekitar pukul 15.00 WIB, listrik di wilayah tersebut belum juga menyala.

Pemadaman yang terjadi selama berjam-jam itu dikeluhkan oleh Agnes Tan (50), pelaku UMKM di Tembalang. Akibat pemadaman tersebut, proses produksi bawang putih fermentasi yang dilakoni Agnes terganggu.

"Untuk produksi bawang fermentasi diperlukan kestabilan pasokan listrik selama 24 jam. Sebab, proses fermentasi itu memerlukan warmer (penghangat) yang menjaga suhu bawang itu tetap hangat. Kalau mati listrik, proses ini terganggu, akibatnya proses fermentasinya tidak sempurna, bahkan bisa sampai gagal," kata Agnes saat dihubungi, Jumat.

Agnes khawatir, proses fermentasi yang gagal itu berdampak pada kualitas produknya. Oleh karena itu, tak jarang, Agnes harus mengulang dari awal proses produksi. Padahal, dalam satu kali produksi, waktu yang diperlukan sekitar 21 hari.

Akibat proses produksi yang terganggu, pengiriman barang kepada konsumennya jadi terlambat. Kondisi itu dikhawatirkan Agnes berpengaruh terhadap kepercayaan konsumen pada produknya.

Baca JugaPemadaman Listrik di Jateng Ganggu Pendaftaran Peserta Didik dan Hambat WFH

Setiap bulannya, Agnes empat kali memproduksi empat batch (kelompok) bawang putih fermentasi. Untuk setiap batch produksi, bawang putih yang dibutuhkan Agnes sekitar 2-3 kilogram.

Dalam tiga bulan terakhir, Agnes menyebut, pemadaman listrik menjadi lebih sering terjadi di wilayah Tembalang. Sepanjang Juni, pemadaman terjadi berulang kali. Namun, pemadaman yang berlangsung lebih dari 3 jam terjadi sebanyak dua kali.

Selain pada Jumat, pemadaman juga sempat terjadi pekan lalu. Kala itu, listrik padam mulai pukul 18.00 WIB hingga di atas pukul 24.00 WIB.

"Saya bingung kenapa akhir-akhir ini pemadaman listrik sering terjadi. Seperti hari ini, tidak ada hujan, tidak ada angin, atau peristiwa apapun di sekitar sini yang mengisyaratkan akan terjadi pemadaman, tapi tetap ada pemadaman. Sudah begitu, waktunya cukup lama," ucap Agnes.

Agnes juga mempertanyakan alasan Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak memberitahu warga bahwa akan ada pemadaman. Padahal, pemberitahuan sangat diperlukan supaya warga, terutama pelaku usaha yang bergantung pada listrik seperti dirinya, bisa menyiapkan antisipasi.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jateng Susilo mengatakan, pemadaman listrik juga berdampak pada usaha peternakan ayam pedaging. Pada ayam berusia 1-14 hari, lampu harus menyala, khususnya pada malam hari, untuk menjaga ayam tetap hangat.

"Kalau listrik padam, ayam akan menumpuk karena kondisinya gelap. Nah, kalau ayam numpuk, akibatnya deplesi atau kematian ayam akan tinggi. Kalau peternak kecil yang tidak punya genset, deplesinya paling banyak bisa sampai 50 persen kalau mati listrik," ujar Susilo.

Baca JugaListrik Byarpet: Masalah Pasokan Batubara atau Manajemen Pemeliharaan?

Dalam satu kandang, ada 5.000-10.000 ekor ayam pedagang yang dipelihara. Jika deplesi terjadi sebanyak 50 persen, populasi ayam yang mati bisa mencapai 2.500-5.000 ekor. Padahal, harga satu ekor ayam berusia 1-14 hari sekitar Rp 6.000. Artinya, kerugian yang terjadi dimungkinkan mencapai Rp 15 juta-Rp 30 juta.

Untuk menekan risiko kematian ayam akibat pasokan listrik yang tak stabil, peternak biasanya membeli genset dengan harga sekitar Rp 15 juta. Sayangnya, tak semua peternak ayam mampu membeli genset sehingga mereka hanya bergantung pada pasokan listrik dari PLN.

Kendati tak mencatat jumlahnya, Susilo mengaku mulai mendapakan keluhan dari anggota Pinsar terkait pemadaman listrik yang terjadi belakangan. Susilo berharap, ke depan, pasokan listrik bisa lebih stabil sehingga para peternak tidak merugi.

Sementara itu, pemadaman listrik yang terjadi pada Kamis (18/6/2026) di wilayah Kecamatan Semarang Selatan membuat sejumlah minimarket terdampak.

Saya bingung kenapa akhir-akhir ini pemadaman listrik sering terjadi

Minimarket yang tak memiliki genset terpaksa beroperasi dalam kondisi gelap gulita. Produk-produk yang harus disimpan pada suhu dingin, seperti es krim dan makanan beku, pun mulai mencair.

Selain itu, konsumen yang berbelanja harus menyalakan senter di ponselnya untuk memilih belanjaan. Sementara itu, kasir harus mencari daftar harga barang dan mencatat belanjaan konsumen secara manual.

Asih (25), kasir di minimarket tersebut, mengatakan, pembayaran hanya bisa dilayani secara tunai. Kondisi itu membuat para pembeli yang tak membawa uang tunai tidak jadi berbelanja.

"Sudah lebih dari dua jam listrik masih padam. Beberapa pembeli tidak jadi belanja karena tidak bawa uang tunai. Pembayaran nontunai tidak bisa dilakukan karena alatnya juga mati kalau tidak ada listrik," kata Asih.

Manager Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi Jateng Prayudha Fasya Perdana mengatakan, pihaknya mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan di wilayahnya. Hal itu menyusul adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang disebutnya menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik.

"Untuk menjaga stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak di Jateng, serta terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar pasokan listrik dapat kembali normal," ujar Prayudha.

Menurut Prayudha, PLN akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal serta pasokan terjaga. Perkembangan proses penanganan dan pemulihan disebut Prayudha akan disampaikan melalui kanal komunikasi resmi PLN.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kurikulum Tak Pernah Polos: Mitos Netralitas Pendidikan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Wapres Gibran Soal Desakan Stop MBG: Bermanfaat untuk Wilayah 3T
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Pemadaman Listrik Bergilir di Bandung Raya
• 20 menit laludetik.com
thumb
Nathalie Holscher Akan Nikah Lagi, Sule Buka Suara Soal Kabar Adzam Akan Dapat Papa Baru
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Skandal MBG: Mahfud Bongkar Korupsi Dadan, Layak Dieksekusi!
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.