Kompleksitas pengelolaan operasional lapangan masih menjadi tantangan yang dihadapi berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari telekomunikasi, manufaktur, layanan teknologi informasi, hospitality, hingga pengelolaan fasilitas.
Ketika aktivitas lapangan melibatkan banyak personel, aset, lokasi, dan target layanan secara bersamaan, perusahaan dituntut untuk memiliki visibilitas operasional yang lebih cepat dan akurat.Tantangan tersebut tidak lagi sebatas persoalan efisiensi, namun mulai berdampak terhadap kualitas layanan, produktivitas tenaga kerja, hingga kemampuan perusahaan dalam mengambil keputusan berbasis data.
Pengelolaan data operasional masih menjadi tantangan bagi banyak organisasi di tengah meningkatnya kebutuhan akan proses kerja yang lebih cepat dan terintegrasi. Survei global Syncron terhadap 600 pemimpin industri jasa menunjukkan bahwa 9 dari 10 organisasi mengidentifikasi data operasional sebagai hambatan utama dalam memonitor kinerja bisnis, sementara 42% menyatakan belum memiliki teknologi yang memadai untuk mendukung pengambilan keputusan secara efektif.
Sejalan dengan itu, berbagai laporan industri pada 2025 juga menunjukkan bahwa integrasi data dan visibilitas proses semakin menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan.Di Indonesia sendiri, transformasi operasional lapangan masih menunjukkan ruang pertumbuhan yang besar.
Berdasarkan Cisco AI Readiness Index, hanya sekitar 19% perusahaan di Indonesia yang dinilai memiliki kesiapan teknologi yang memadai untuk mengadopsi solusi digital secara optimal, sementara 81% lainnya masih belum memiliki fondasi sistem yang terintegrasi—termasuk dalam pengelolaan aktivitas operasional dan tenaga kerja lapangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat peluang yang besar untuk mempercepat integrasi proses operasional agar perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, visibilitas, dan kualitas layanan secara berkelanjutan.Tanpa sistem yang mengintegrasikan penjadwalan pekerjaan, pemantauan aktivitas lapangan, pengelolaan aset, dan pelaporan secara real-time, proses operasional kerap bergantung pada koordinasi manual yang meningkatkan risiko keterlambatan, beban kerja yang tidak merata, hingga menurunnya kualitas layanan kepada pelanggan.
Melihat kebutuhan tersebut, PT Akar Inti Teknologi (AIT) dan PT Media Antar Nusa (Nusanet) menjalin kemitraan strategis untuk memperluas akses perusahaan di Indonesia terhadap solusi operasional lapangan yang lebih terintegrasi.Melalui kolaborasi ini, kedua perusahaan akan memperkuat kapabilitas implementasi dan adopsi OpteraOne, platform yang mengintegrasikan pengelolaan tenaga kerja lapangan (Field Service Management/FSM) dan pengelolaan aset (Asset Management System/AMS) dalam satu ekosistem operasional.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk mengelola penjadwalan dan distribusi pekerjaan secara lebih terstruktur, memantau aktivitas lapangan secara real-time, serta mengurangi proses administratif yang selama ini menjadi hambatan produktivitas.
Michelle Suteja, selaku CEO AIT mengatakan, “Perusahaan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam mengelola aktivitas operasional yang tersebar di banyak lokasi, dengan kebutuhan respons yang semakin cepat dan ekspektasi layanan yang terus meningkat. Di saat yang sama, banyak organisasi masih menghadapi keterbatasan visibilitas dan integrasi data operasional.”
“Kemitraan ini dibangun dari keyakinan bahwa transformasi operasional tidak hanya tentang digitalisasi proses, tetapi bagaimana perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih cepat dan lebih akurat melalui sistem yang terhubung. Melalui kolaborasi dengan Nusanet, kami berharap dapat memperluas akses terhadap pendekatan operasional yang lebih efisien dan relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” tambahnya
Kolaborasi ini juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan industri yang semakin menuntut kecepatan layanan, efisiensi biaya operasional, serta kemampuan untuk mengoptimalkan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Ahmad Rais, VP Digital Business PT Media Antar Nusa, melihat kebutuhan pelanggan saat ini tidak lagi berfokus pada ketersediaan teknologi semata, tetapi pada kemampuan untuk mengintegrasikan proses operasional secara end-to-end dan menghasilkan visibilitas yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
"Melalui kemitraan ini, kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan operasional di lapangan serta mendukung perusahaan dalam membangun proses kerja yang lebih adaptif, terukur, dan berkelanjutan," ujar Rais.
”Ke depan, kebutuhan terhadap sistem operasional yang lebih terhubung diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya kompleksitas aktivitas lapangan dan tuntutan efisiensi di berbagai sektor industri. Kemitraan antara AIT dan Nusanet diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung percepatan transformasi operasional berbasis data di Indonesia," tambahnya.





