Jakarta, tvOnenews.com - Kasus gangguan skin barrier dan kulit sensitif kini menjadi perhatian serius di dunia dermatologi. Perubahan gaya hidup masyarakat urban, tingginya paparan polusi udara, stres, hingga cuaca ekstrem disebut ikut memicu meningkatnya masalah kesehatan kulit, termasuk dermatitis atopik yang banyak ditemukan pada anak-anak maupun orang dewasa.
Di Indonesia, dermatitis atopik bahkan tercatat sebagai salah satu penyakit kulit yang paling sering ditangani pada layanan dermatologi anak. Data menunjukkan prevalensinya berkisar antara 10–20 persen pada bayi dan anak-anak serta 1–3 persen pada populasi dewasa.
Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) juga menyebut dermatitis atopik menempati urutan pertama dalam kasus dermatologi anak di berbagai pusat layanan kesehatan.
Para ahli menilai kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan skin barrier atau lapisan pelindung kulit kini tidak bisa lagi dianggap sepele. Sebab, kerusakan skin barrier dapat membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi, kemerahan, kering, hingga peradangan berulang.
Berbagai penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti polusi udara, sinar ultraviolet, perubahan suhu ekstrem, hingga tekanan psikologis dapat memperburuk fungsi pelindung alami kulit. Akibatnya, risiko munculnya kulit sensitif maupun kekambuhan dermatitis atopik menjadi lebih tinggi.
Dermatologi modern pun kini mulai mengubah pendekatan perawatan kulit. Tidak hanya fokus mengatasi gejala yang muncul di permukaan, tetapi juga memperkuat fungsi skin barrier agar kesehatan kulit lebih terjaga dalam jangka panjang.
Topik mengenai pentingnya skin barrier ini turut menjadi pembahasan dalam Scientific Anniversary Symposium yang diselenggarakan Uriage Indonesia dalam rangkaian AMUSE 2026. Forum tersebut menghadirkan berbagai diskusi mengenai perkembangan terapi kulit sensitif, kesehatan sawar kulit, hingga pentingnya pendekatan berbasis sains dalam praktik dermatologi modern.
President Direktur PT Regenesis Indonesia, Ir Emmy Noviawati, menilai kolaborasi dan pertukaran pengetahuan bersama komunitas medis memiliki peran penting dalam perkembangan layanan dermatologi di Indonesia.
"Perjalanan satu tahun ini tidak terlepas dari dukungan dan kolaborasi yang terjalin bersama komunitas medis di Indonesia. Kami percaya bahwa pertukaran pengetahuan dan kolaborasi yang berkelanjutan memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan praktik dermatologi yang berbasis sains," ujar Ir Emmy Noviawati, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (20/6/2026).




