Beijing (ANTARA) - Sudah menjadi anggapan umum bahwa berbagai barang kecil seperti gantungan kunci, magnet kulkas, gelas, boneka, aksesori, atau aneka cendera mata yang muat dalam genggaman tangan berasal dari China alias "made in China".
Walau kini China telah memperluas kapasitas produksinya ke berbagai produk berteknologi tinggi, mulai dari peralatan elektronik rumah tangga, kendaraan listrik, hingga robot, komoditas kecil buatan Negeri Tirai Bambu tetap menjadi primadona dan dipasarkan ke berbagai negara.
Namun, tahukah Anda di mana tempat untuk mencari barang-barang kecil yang menarik sekaligus murah tersebut di China? Jawabannya ada di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, di bagian timur China.
Di Yiwu, terdapat pusat perbelanjaan barang kecil yang disebut "Yiwu International Trade City" seluas 4 juta meter persegi atau sekitar 5–6 kali luas Gelora Bung Karno dengan lebih dari 70.000 kios, 400 ribu jenis produk dengan 2.000 kategori berbeda.
"Jika Anda menghabiskan tiga menit di setiap toko dan mengunjungi pasar selama delapan jam setiap hari, Anda akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk mengunjungi seluruh toko,” kata seorang pemandu wisata kepada ANTARA saat berkunjung ke lokasi itu pada akhir Mei 2026.
Sebanyak 65 persen produk dari pusat perdagangan tersebut diekspor ke lebih dari 215 negara dan wilayah. Selain itu, lebih dari 90 persen toko menjual barang langsung dari produsen sehingga harga yang ditawarkan merupakan harga pabrik. Namun, pembeli umumnya harus membeli dalam jumlah besar karena barang tidak dijual secara eceran.
Karena itu tidak mengherankan bila masuk ke supermarket raksasa itu, banyak orang asing datang, bahkan sejak pagi sekitar pukul 09.00 saat mal mulai dibuka. Pedagang-pedagang yang ada di sana pun mampu memahami bahasa Inggris, setidaknya angka-angka saat melakukan tawar-menawar dengan pembeli.
Salah satu toko di "Yiwu International Trade Market" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia) Pusat perbelanjaan di Yiwu itu pertama dimulai pada 1960-an sebagai pasar tempat masyarakat menukarkan permen dengan bulu ayam, satu tradisi lokal untuk bertahan hidup.
Kala itu, Yiwu hanyalah sebuah wilayah kecil yang tersembunyi di kawasan pegunungan. Sebagian besar lahannya tandus sehingga tidak banyak pilihan mata pencaharian bagi penduduknya. Kondisi tersebut mendorong masyarakat setempat untuk mencari nafkah melalui perdagangan. Lambat laun, Yiwu berkembang menjadi titik pertemuan antara para produsen dari berbagai daerah dengan pembeli yang datang dari lokasi berbeda.
Perkembangan tersebut mencapai tonggak penting pada September 1982 dengan dibukanya Pasar Terbuka Huqingmen. Pasar pinggir jalan dan terbuka itu memiliki 705 kios dan menawarkan lebih dari 2.200 barang. Saat itu penjual belum punya kios tetap sehingga mereka harus datang lebih pagi untuk merebut kios paling strategis.
Renovasi pasar kemudian dilakukan beberapa tahap hingga pindah ke lokasi saat ini yaitu di Futian dengan pembangunan dari tahun 2002-2017 hingga disebut sebagai "Pasar Grosir Komoditas Kecil Terbesar di Dunia" dan meluncurkan "platform" AI untuk menerjemahkan video promosi ke lebih dari 30 bahasa.
Baca juga: Jelang Piala Dunia 2026, merchandise dari Yiwu diminati pasar global
Pusat perdagangan ini terbagi ke dalam lima distrik dengan kategori produk yang berbeda-beda.
Distrik 1 menawarkan bunga artifisial, mainan, perhiasan, bingkai foto, produk seni dan kerajinan, furnitur serta dekorasi rumah, hingga aksesori rambut.
Distrik 2 menjadi pusat penjualan koper, tas, payung, jas hujan, perkakas elektronik, kunci, peralatan dapur, perlengkapan sanitasi, peralatan rumah tangga kecil, perlengkapan telekomunikasi, jam tangan, dan jam dinding.
Distrik 3 menampung berbagai produk alat tulis, barang budaya, perlengkapan olahraga, kosmetik, kacamata, ritsleting, kancing, serta aksesori pakaian.
Distrik 4 didominasi oleh produk tekstil dan kebutuhan sehari-hari, seperti kaus kaki, syal, sarung tangan, topi, alas kaki, ikat pinggang, dasi, handuk, barang berbahan wol, serta berbagai produk tekstil lainnya.
Sementara itu, Distrik 5 mencakup perlengkapan tempat tidur, tekstil, bahan rajutan, produk otomotif, dan pakaian rajut.
Salah satu toko di "Yiwu International Trade Market" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Salah satu ciri khas jutaan produk yang diperdagangkan di Yiwu adalah penggunaan sistem OEM (Original Equipment Manufacturer). Dalam skema ini, pabrik memproduksi barang berdasarkan desain atau spesifikasi yang diberikan oleh pemesan, kemudian produk tersebut dipasarkan menggunakan merek milik pemesan. Model ini juga dikenal sebagai manufaktur kontrak.
Sistem lain yang digunakan adalah ODM atau "Original Design Manufacturer" yaitu pabrik sudah punya desain/produk sendiri, lalu pembeli tinggal memilih, sedikit menyesuaikan, dan menjualnya dengan mereknya sendiri atau disebut pelabelan pribadi.
Meski efektif untuk menghasilkan volume produksi yang besar, kedua model bisnis tersebut umumnya menawarkan margin keuntungan yang relatif rendah.
Karena itu, pemerintah setempat bersama para pelaku usaha mulai mendorong terobosan baru melalui pengembangan merek sendiri dan produk yang dilindungi hak kekayaan intelektual. Langkah ini menandai pergeseran dari sekadar memproduksi barang pesanan bagi merek lain menuju penciptaan produk bernilai tambah yang bertumpu pada inovasi dan identitas merek.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, mulai 14 Oktober 2025, pemerintah kota pun membuka lokasi baru bernama "Yiwu Global Digital Trade Center" seluas 1,25 km persegi dengan nilai investasi 8,3 miliar RMB yang memuat lebih dari 3.700 pedagang dengan 68 persen mengelola merek sendiri atau menjalankan bisnis berbasis hak cipta yang dilindungi.
Hal menarik lainnya, sebanyak 52 persen pedagang di lokasi baru itu adalah generasi kedua atau generasi ketiga dari pedagang yang memulai usaha di supermarket raksasa Yiwu, sehingga usaha keluarga tersebut dilestarikan bahkan dikembangkan.
Kawasan baru itu mencakup 10 sektor usaha, mulai dari perhiasan fesyen, mainan kreatif, produk perawatan kulit dan kecantikan medis, drone serta perangkat nirawak, produk berbasis kekayaan intelektual, hingga berbagai produk teknologi cerdas.
Salah satu toko di "Yiwu Global Digital Trade Center" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Wakil manajer umum Yiwu Global Digital Trade Center Zhu Xingping mengatakan produk kini ditata berdasarkan skenario konsumsi tertentu, seperti fesyen atau barang ibu dan bayi, sehingga pembeli dapat mencari barang dengan lebih efisien melalui solusi yang telah dikurasi.
Pusat perbelanjaan baru itu juga menggunakan teknologi lanjutan yaitu 13 aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mencakup desain bantuan kecerdasan buatan dan pembuatan konten visual hingga penerjemahan video multibahasa, yang membantu pedagang dalam pengembangan produk, pemasaran, dan jangkauan global.
Baca juga: Potret Yiwu International Trade City yang kembali beroperasi setelah libur Imlek
Salah satu aplikasi membantu para pedagang untuk membuat video promosi produk yang otomatis menerjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa asing seperti Inggris dan Spanyol
Pasar tujuan barang-barang tersebut tetap sama yaitu Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, Eropa Barat hingga Eropa Timur. Dalam tiga tahun terakhir, Afrika disebut menjadi pasar ekspor terbesar bagi Yiwu.
Pengelola pusat perbelanjaan juga membuat "platform" logistik digital yang mengumpulkan pesanan-pesanan dalam jumlah kecil tapi tersebar di berbagai pedagang menjadi satu partai pesanan besar.
Setelah itu pengelola mengajukan harga yang lebih rendah dibanding perusahaan pengiriman barang. Cara ini dianggap dapat mengurangi risiko barang tidak terangkut atau tertinggal dari jadwal pengiriman.
Yiwu juga membangun 281 gudang di luar negeri di seluruh dunia, atau sepersepuluh dari gulang luar negeri milik China.
Platform tersebut membangun sistem "dua gudang satu jalur". Artinya, terdapat satu gudang di dalam negeri, satu gudang di luar negeri, dan satu jalur transportasi di antara keduanya. Dari layar di pusat perbelanjaan, pedagang dapat melihat volume pengiriman platform tersebut sejak mulai digunakan.
Lewat "platform" tersebut, pedagang hanya perlu menyerahkan barang kepada pengelola setelah ada permintaan pengiriman barang dari pembeli. Operator yang melakukan pengiriman adalah grup logistik pengelola pasar, "COSCO Shipping" untuk pengiriman luar negeri dan perusahaan lain yang menangani pergudangan dan logistik.
Pengiriman barang itu menurut pemandu wisata lebih ke "business to business" alias dalam partai besar dan bukan eceran. Tahun lalu, volume pengiriman mencapai 174.000 TEUs atau naik 78,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk pengunjung individu dapat memanfaatkan sistem navigasi pintar berbasis koneksi "bluetooth" koneksi untuk melakukan penentuan posisi secara akurat, sekaligus merencanakan rute terpendek dari satu titik ke titik lain.
Salah satu toko di "Yiwu Global Digital Trade Center" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Aplikasi cerdas lain adalah sistem yang berfungsi layaknya rekening bersama untuk mencegah praktik pencucian uang. Hingga kini, sistem tersebut telah digunakan oleh sekitar 300.000 pengguna, dengan 40 persen di antaranya berasal dari luar Provinsi Zhejiang.
Sistem ini memungkinkan untuk menampung dana dari transaksi jual beli di pusat perbelanjaan itu secara sementara hingga ada kejelasan sumber dana aman dan tidak terkait penipuan telekomunikasi atau pencucian uang
"Jika lolos pemeriksaan, dana akan diteruskan ke dalam negeri. Jika tidak lolos, dana akan kami cegat atau tangani. Dengan cara ini, kami dapat memastikan rekening pedagang tetap aman. Kami belum pernah menemukan satu pun kasus pembekuan rekening bagi para pedagang atau rekening bermasalah lainnya setelah sistem ini diperkenalkan tiga tahun lalu," kata pemandu.
Saat ini, platform tersebut mendukung transaksi dalam 29 mata uang dan telah menjangkau 178 negara serta kawasan di dunia.
Keistimewaan lain dari Yiwu Global Digital Trade Center adalah keberadaan kawasan khusus di lantai empat yang didedikasikan untuk memasarkan berbagai produk dari industri teknologi cerdas.
Beragam produk berteknologi tinggi ditampilkan di area tersebut, salah satunya adalah drone berbentuk kupu-kupu yang menggunakan sayap menyerupai kupu-kupu untuk menghasilkan aliran udara saat terbang, sehingga tidak mengandalkan baling-baling seperti drone pada umumnya.
Drone kupu-kupu tersebut banyak digunakan untuk acara pernikahan, wisata budaya, maupun berbagai kegiatan lain yang membutuhkan suasana hangat dan atraktif. Menurut salah satu pedagang, pesanan untuk produk tersebut disebut sudah penuh hingga September 2026.
Selain itu, terdapat pula berbagai inovasi lain, seperti layanan pembuatan materi promosi live streaming menggunakan manusia digital, kacamata pintar untuk penerjemahan bahasa secara langsung, hingga robot humanoid dalam berbagai bentuk dan fungsi.
Yiwu pun menjadi contoh dari apa yang disebut oleh Jake Sullivan dalam artikelnya di jurnal Foreign Policy edisi Mei–Juni 2026 sebagai strategi China dalam menerjemahkan kemajuan teknologi menjadi kapabilitas yang dapat diterapkan secara luas, baik di sektor ekonomi maupun perangkat keamanan nasional.
Dengan kata lain, China telah membangun atau sedang membangun posisi dominan dalam banyak lapisan fundamental yang menopang ekonomi modern negara tersebut. Kebijakan industri Beijing disebut dibentuk dari prinsip "Chinese state power" itu sendiri dan didesain untuk jangka panjang sehingga membuat dunia jadi tergantung kepada China dan sebaliknya, China semakin mandiri dari pihak lain.
Baca juga: "Yiwu" Memukau Dunia pada Tahun Kuda
Baca juga: Materi Promosi "World's Yiwu, City of Warmth & Integrity" Menghiasi Sejumlah Spot Ikonik di Seluruh Dunia
Walau kini China telah memperluas kapasitas produksinya ke berbagai produk berteknologi tinggi, mulai dari peralatan elektronik rumah tangga, kendaraan listrik, hingga robot, komoditas kecil buatan Negeri Tirai Bambu tetap menjadi primadona dan dipasarkan ke berbagai negara.
Namun, tahukah Anda di mana tempat untuk mencari barang-barang kecil yang menarik sekaligus murah tersebut di China? Jawabannya ada di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, di bagian timur China.
Di Yiwu, terdapat pusat perbelanjaan barang kecil yang disebut "Yiwu International Trade City" seluas 4 juta meter persegi atau sekitar 5–6 kali luas Gelora Bung Karno dengan lebih dari 70.000 kios, 400 ribu jenis produk dengan 2.000 kategori berbeda.
"Jika Anda menghabiskan tiga menit di setiap toko dan mengunjungi pasar selama delapan jam setiap hari, Anda akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk mengunjungi seluruh toko,” kata seorang pemandu wisata kepada ANTARA saat berkunjung ke lokasi itu pada akhir Mei 2026.
Sebanyak 65 persen produk dari pusat perdagangan tersebut diekspor ke lebih dari 215 negara dan wilayah. Selain itu, lebih dari 90 persen toko menjual barang langsung dari produsen sehingga harga yang ditawarkan merupakan harga pabrik. Namun, pembeli umumnya harus membeli dalam jumlah besar karena barang tidak dijual secara eceran.
Karena itu tidak mengherankan bila masuk ke supermarket raksasa itu, banyak orang asing datang, bahkan sejak pagi sekitar pukul 09.00 saat mal mulai dibuka. Pedagang-pedagang yang ada di sana pun mampu memahami bahasa Inggris, setidaknya angka-angka saat melakukan tawar-menawar dengan pembeli.
Salah satu toko di "Yiwu International Trade Market" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia) Pusat perbelanjaan di Yiwu itu pertama dimulai pada 1960-an sebagai pasar tempat masyarakat menukarkan permen dengan bulu ayam, satu tradisi lokal untuk bertahan hidup.
Kala itu, Yiwu hanyalah sebuah wilayah kecil yang tersembunyi di kawasan pegunungan. Sebagian besar lahannya tandus sehingga tidak banyak pilihan mata pencaharian bagi penduduknya. Kondisi tersebut mendorong masyarakat setempat untuk mencari nafkah melalui perdagangan. Lambat laun, Yiwu berkembang menjadi titik pertemuan antara para produsen dari berbagai daerah dengan pembeli yang datang dari lokasi berbeda.
Perkembangan tersebut mencapai tonggak penting pada September 1982 dengan dibukanya Pasar Terbuka Huqingmen. Pasar pinggir jalan dan terbuka itu memiliki 705 kios dan menawarkan lebih dari 2.200 barang. Saat itu penjual belum punya kios tetap sehingga mereka harus datang lebih pagi untuk merebut kios paling strategis.
Renovasi pasar kemudian dilakukan beberapa tahap hingga pindah ke lokasi saat ini yaitu di Futian dengan pembangunan dari tahun 2002-2017 hingga disebut sebagai "Pasar Grosir Komoditas Kecil Terbesar di Dunia" dan meluncurkan "platform" AI untuk menerjemahkan video promosi ke lebih dari 30 bahasa.
Baca juga: Jelang Piala Dunia 2026, merchandise dari Yiwu diminati pasar global
Pusat perdagangan ini terbagi ke dalam lima distrik dengan kategori produk yang berbeda-beda.
Distrik 1 menawarkan bunga artifisial, mainan, perhiasan, bingkai foto, produk seni dan kerajinan, furnitur serta dekorasi rumah, hingga aksesori rambut.
Distrik 2 menjadi pusat penjualan koper, tas, payung, jas hujan, perkakas elektronik, kunci, peralatan dapur, perlengkapan sanitasi, peralatan rumah tangga kecil, perlengkapan telekomunikasi, jam tangan, dan jam dinding.
Distrik 3 menampung berbagai produk alat tulis, barang budaya, perlengkapan olahraga, kosmetik, kacamata, ritsleting, kancing, serta aksesori pakaian.
Distrik 4 didominasi oleh produk tekstil dan kebutuhan sehari-hari, seperti kaus kaki, syal, sarung tangan, topi, alas kaki, ikat pinggang, dasi, handuk, barang berbahan wol, serta berbagai produk tekstil lainnya.
Sementara itu, Distrik 5 mencakup perlengkapan tempat tidur, tekstil, bahan rajutan, produk otomotif, dan pakaian rajut.
Salah satu toko di "Yiwu International Trade Market" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Salah satu ciri khas jutaan produk yang diperdagangkan di Yiwu adalah penggunaan sistem OEM (Original Equipment Manufacturer). Dalam skema ini, pabrik memproduksi barang berdasarkan desain atau spesifikasi yang diberikan oleh pemesan, kemudian produk tersebut dipasarkan menggunakan merek milik pemesan. Model ini juga dikenal sebagai manufaktur kontrak.
Sistem lain yang digunakan adalah ODM atau "Original Design Manufacturer" yaitu pabrik sudah punya desain/produk sendiri, lalu pembeli tinggal memilih, sedikit menyesuaikan, dan menjualnya dengan mereknya sendiri atau disebut pelabelan pribadi.
Meski efektif untuk menghasilkan volume produksi yang besar, kedua model bisnis tersebut umumnya menawarkan margin keuntungan yang relatif rendah.
Karena itu, pemerintah setempat bersama para pelaku usaha mulai mendorong terobosan baru melalui pengembangan merek sendiri dan produk yang dilindungi hak kekayaan intelektual. Langkah ini menandai pergeseran dari sekadar memproduksi barang pesanan bagi merek lain menuju penciptaan produk bernilai tambah yang bertumpu pada inovasi dan identitas merek.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, mulai 14 Oktober 2025, pemerintah kota pun membuka lokasi baru bernama "Yiwu Global Digital Trade Center" seluas 1,25 km persegi dengan nilai investasi 8,3 miliar RMB yang memuat lebih dari 3.700 pedagang dengan 68 persen mengelola merek sendiri atau menjalankan bisnis berbasis hak cipta yang dilindungi.
Hal menarik lainnya, sebanyak 52 persen pedagang di lokasi baru itu adalah generasi kedua atau generasi ketiga dari pedagang yang memulai usaha di supermarket raksasa Yiwu, sehingga usaha keluarga tersebut dilestarikan bahkan dikembangkan.
Kawasan baru itu mencakup 10 sektor usaha, mulai dari perhiasan fesyen, mainan kreatif, produk perawatan kulit dan kecantikan medis, drone serta perangkat nirawak, produk berbasis kekayaan intelektual, hingga berbagai produk teknologi cerdas.
Salah satu toko di "Yiwu Global Digital Trade Center" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Wakil manajer umum Yiwu Global Digital Trade Center Zhu Xingping mengatakan produk kini ditata berdasarkan skenario konsumsi tertentu, seperti fesyen atau barang ibu dan bayi, sehingga pembeli dapat mencari barang dengan lebih efisien melalui solusi yang telah dikurasi.
Pusat perbelanjaan baru itu juga menggunakan teknologi lanjutan yaitu 13 aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang mencakup desain bantuan kecerdasan buatan dan pembuatan konten visual hingga penerjemahan video multibahasa, yang membantu pedagang dalam pengembangan produk, pemasaran, dan jangkauan global.
Baca juga: Potret Yiwu International Trade City yang kembali beroperasi setelah libur Imlek
Salah satu aplikasi membantu para pedagang untuk membuat video promosi produk yang otomatis menerjemahkan dari bahasa Mandarin ke bahasa asing seperti Inggris dan Spanyol
Pasar tujuan barang-barang tersebut tetap sama yaitu Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, Eropa Barat hingga Eropa Timur. Dalam tiga tahun terakhir, Afrika disebut menjadi pasar ekspor terbesar bagi Yiwu.
Pengelola pusat perbelanjaan juga membuat "platform" logistik digital yang mengumpulkan pesanan-pesanan dalam jumlah kecil tapi tersebar di berbagai pedagang menjadi satu partai pesanan besar.
Setelah itu pengelola mengajukan harga yang lebih rendah dibanding perusahaan pengiriman barang. Cara ini dianggap dapat mengurangi risiko barang tidak terangkut atau tertinggal dari jadwal pengiriman.
Yiwu juga membangun 281 gudang di luar negeri di seluruh dunia, atau sepersepuluh dari gulang luar negeri milik China.
Platform tersebut membangun sistem "dua gudang satu jalur". Artinya, terdapat satu gudang di dalam negeri, satu gudang di luar negeri, dan satu jalur transportasi di antara keduanya. Dari layar di pusat perbelanjaan, pedagang dapat melihat volume pengiriman platform tersebut sejak mulai digunakan.
Lewat "platform" tersebut, pedagang hanya perlu menyerahkan barang kepada pengelola setelah ada permintaan pengiriman barang dari pembeli. Operator yang melakukan pengiriman adalah grup logistik pengelola pasar, "COSCO Shipping" untuk pengiriman luar negeri dan perusahaan lain yang menangani pergudangan dan logistik.
Pengiriman barang itu menurut pemandu wisata lebih ke "business to business" alias dalam partai besar dan bukan eceran. Tahun lalu, volume pengiriman mencapai 174.000 TEUs atau naik 78,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk pengunjung individu dapat memanfaatkan sistem navigasi pintar berbasis koneksi "bluetooth" koneksi untuk melakukan penentuan posisi secara akurat, sekaligus merencanakan rute terpendek dari satu titik ke titik lain.
Salah satu toko di "Yiwu Global Digital Trade Center" di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China pada 26 Mei 2026 (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Aplikasi cerdas lain adalah sistem yang berfungsi layaknya rekening bersama untuk mencegah praktik pencucian uang. Hingga kini, sistem tersebut telah digunakan oleh sekitar 300.000 pengguna, dengan 40 persen di antaranya berasal dari luar Provinsi Zhejiang.
Sistem ini memungkinkan untuk menampung dana dari transaksi jual beli di pusat perbelanjaan itu secara sementara hingga ada kejelasan sumber dana aman dan tidak terkait penipuan telekomunikasi atau pencucian uang
"Jika lolos pemeriksaan, dana akan diteruskan ke dalam negeri. Jika tidak lolos, dana akan kami cegat atau tangani. Dengan cara ini, kami dapat memastikan rekening pedagang tetap aman. Kami belum pernah menemukan satu pun kasus pembekuan rekening bagi para pedagang atau rekening bermasalah lainnya setelah sistem ini diperkenalkan tiga tahun lalu," kata pemandu.
Saat ini, platform tersebut mendukung transaksi dalam 29 mata uang dan telah menjangkau 178 negara serta kawasan di dunia.
Keistimewaan lain dari Yiwu Global Digital Trade Center adalah keberadaan kawasan khusus di lantai empat yang didedikasikan untuk memasarkan berbagai produk dari industri teknologi cerdas.
Beragam produk berteknologi tinggi ditampilkan di area tersebut, salah satunya adalah drone berbentuk kupu-kupu yang menggunakan sayap menyerupai kupu-kupu untuk menghasilkan aliran udara saat terbang, sehingga tidak mengandalkan baling-baling seperti drone pada umumnya.
Drone kupu-kupu tersebut banyak digunakan untuk acara pernikahan, wisata budaya, maupun berbagai kegiatan lain yang membutuhkan suasana hangat dan atraktif. Menurut salah satu pedagang, pesanan untuk produk tersebut disebut sudah penuh hingga September 2026.
Selain itu, terdapat pula berbagai inovasi lain, seperti layanan pembuatan materi promosi live streaming menggunakan manusia digital, kacamata pintar untuk penerjemahan bahasa secara langsung, hingga robot humanoid dalam berbagai bentuk dan fungsi.
Yiwu pun menjadi contoh dari apa yang disebut oleh Jake Sullivan dalam artikelnya di jurnal Foreign Policy edisi Mei–Juni 2026 sebagai strategi China dalam menerjemahkan kemajuan teknologi menjadi kapabilitas yang dapat diterapkan secara luas, baik di sektor ekonomi maupun perangkat keamanan nasional.
Dengan kata lain, China telah membangun atau sedang membangun posisi dominan dalam banyak lapisan fundamental yang menopang ekonomi modern negara tersebut. Kebijakan industri Beijing disebut dibentuk dari prinsip "Chinese state power" itu sendiri dan didesain untuk jangka panjang sehingga membuat dunia jadi tergantung kepada China dan sebaliknya, China semakin mandiri dari pihak lain.
Baca juga: "Yiwu" Memukau Dunia pada Tahun Kuda
Baca juga: Materi Promosi "World's Yiwu, City of Warmth & Integrity" Menghiasi Sejumlah Spot Ikonik di Seluruh Dunia





