Menakar Peluang Investasi Indonesia Pascadeeskalasi AS-Iran

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan optimisme baru di pasar global. Bagi Indonesia, kondisi ini dinilai dapat menjadi peluang untuk memperkuat arus investasi seiring membaiknya sentimen investor.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menilai kondisi tersebut dapat meningkatkan kepercayaan investor internasional.

"Ini momentum eksternal yang signifikan membuat confidence global membaik dan ini akan berdampak positif termasuk ke Indonesia karena mengurangi ketidakpastian yang terjadi akibat perang," katanya kepada Bisnis melalui pesan teks, Jumat (19/6/2026).

Data International Monetary Fund (IMF) menunjukkan bahwa penurunan ketidakpastian geopolitik umumnya diikuti peningkatan arus modal ke negara berkembang. Indonesia sendiri mencatat realisasi investasi melampaui Rp2.100 triliun pada 2025, salah satu yang tertinggi dalam sejarah.

Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Sjahrir menilai meredanya ketegangan geopolitik akan berdampak positif terhadap perekonomian. Menurutnya, stabilitas harga minyak dapat memperbaiki kondisi fiskal dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pandu menjelaskan bahwa harga minyak yang lebih stabil akan mengurangi tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, neraca perdagangan, dan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut juga memberi ruang fiskal lebih besar bagi pemerintah untuk memperkuat investasi infrastruktur, mendukung hilirisasi, memperluas insentif industri, serta meningkatkan belanja produktif.

Baca Juga

  • Kementerian Ekonomi Kreatif Targetkan Tarik Investasi Rp157 Triliun pada 2027
  • Perang Iran-AS Usai, Rosan Optimistis Iklim Investasi Indonesia Menguat
  • Kementerian Investasi Baru Serap 44,71% Anggaran, DPR Beri Catatan

Ia juga menilai sentimen positif tersebut tercermin pada pasar keuangan global, termasuk tingginya minat investor terhadap instrumen obligasi.

Peluang Bersifat Kondisional

Meski sentimen pasar membaik, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengingatkan agar optimisme tidak berubah menjadi euforia. Menurutnya, kondisi saat ini lebih tepat disebut sebagai deeskalasi yang masih rapuh ketimbang perdamaian yang benar-benar mapan.

"Yang terjadi saat ini bukan perdamaian yang benar-benar mapan, melainkan deeskalasi yang masih rapuh. Karena itu, ketika membahas dampaknya terhadap investasi, kita sedang berbicara mengenai peluang yang bersifat kondisional, bukan kepastian," ujarnya kepada Bisnis.

Yusuf menilai jika ketegangan AS-Iran benar-benar mereda dalam jangka panjang, Indonesia berpotensi memperoleh tambahan arus investasi asing.

Namun, dampak yang paling mungkin terjadi bukanlah lonjakan investasi yang signifikan, melainkan percepatan dari tren investasi yang selama ini sudah menunjukkan kinerja positif.

Menurutnya, sektor yang paling berpeluang menikmati tambahan investasi tetap merupakan sektor yang memiliki keunggulan struktural, terutama hilirisasi mineral.

"Hilirisasi mineral akan tetap menjadi magnet utama, terutama industri pengolahan nikel, logam dasar, bahan baku baterai, dan rantai pasok kendaraan listrik," ujarnya.

Selain itu, sektor energi, khususnya energi terbarukan dan infrastruktur pendukung transisi energi, juga berpotensi menarik minat investor yang lebih besar. Sementara itu, ekonomi digital tetap menjanjikan berkat besarnya pasar domestik, demografi muda, dan tingkat adopsi teknologi yang terus meningkat.

Kepastian Regulasi Jadi Kunci

Meski peluang investasi terbuka, Yusuf menilai tantangan terbesar Indonesia tetap berasal dari persoalan domestik, bukan faktor geopolitik.

"Namun, saya menilai tantangan terbesar Indonesia justru bukan berasal dari faktor geopolitik, melainkan dari persoalan domestik yang sudah lama menjadi perhatian investor," ujarnya.

Menurut Yusuf, investor masih menghadapi masalah yang sama dari tahun ke tahun, seperti ketidakpastian regulasi, perubahan aturan yang sulit diprediksi, tumpang tindih kebijakan, dan perizinan yang belum sepenuhnya sederhana. Kondisi tersebut meningkatkan biaya investasi karena investor menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

Tantangan itu semakin besar mengingat Indonesia harus bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam menarik investasi global.

"Negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand juga aktif menawarkan berbagai insentif untuk menarik investasi global," kata Yusuf.

Ia mencontohkan Vietnam yang berhasil menjadi basis produksi perusahaan teknologi global, Malaysia yang memperkuat industri semikonduktor, serta Thailand yang terus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.

"Modal internasional pada dasarnya akan mengalir ke negara yang mampu memberikan kombinasi terbaik antara kepastian hukum, efisiensi birokrasi, kualitas infrastruktur, dan prospek keuntungan jangka panjang," tuturnya.

Di tengah persaingan tersebut, Indonesia memiliki keunggulan berupa politik luar negeri bebas aktif yang memungkinkan hubungan baik dengan berbagai blok kekuatan dunia.

Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF) Teuku Rezasyah menilai investasi pascakonflik tidak akan mengalir secara otomatis.

"Arus investasi global akan menargetkan negara-negara yang mampu menjalankan tertib administrasi secara benar dan berkelanjutan, dipimpin oleh pemerintahan yang demokratis, dan benar-benar memiliki fokus mengupayakan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) secara bersungguh-sungguh," jelasnya.

Menurut Teuku, investor juga akan mencari negara yang memiliki sumber daya strategis dan bersedia menjalin kerja sama jangka panjang.

Indonesia dinilai memenuhi syarat tersebut berkat cadangan nikel, tembaga, bauksit, timah, panas bumi, serta pasar domestik yang besar. Namun, keunggulan itu harus dibarengi dengan tata kelola yang baik.

"Indonesia hendaknya membuktikan dirinya mampu bekerja sesuai semua prinsip pembangunan berkelanjutan, yang dipraktikkan secara konsisten di tingkat pusat dan daerah," ucapnya.

Selain itu, Indonesia juga perlu terus meningkatkan daya saing ekonominya.

“Indonesia hendaknya mampu mengembangkan segala potensi 'comparative advantage' dan 'competitive advantage' yang, ditujukan pada semua mitra strategis,” tandas Reza.

Pada akhirnya, meredanya konflik AS-Iran memang membuka peluang baru bagi Indonesia. Namun, peluang itu hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika pemerintah mampu menyelesaikan persoalan domestik yang selama ini menjadi perhatian utama investor.

Tanpa pembenahan regulasi, birokrasi, dan tata kelola, sentimen positif global berisiko menjadi kesempatan yang kembali terlewat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
2 Pemuda yang Tewas di Selokan Bekasi Diserang Sekelompok Orang Usai Terjatuh
• 2 jam lalukompas.com
thumb
CIMB Niaga Hadirkan OCTO Land di Blok M, Targetkan Transaksi Naik 30%
• 23 menit lalukumparan.com
thumb
Bahaya Kecanduan TikTok-IG Reels Terungkap, Otak Pengguna Bisa Berubah
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sinergi Bank BTN, REI Sulsel Siap Gelar Turnamen Padel Perdana Berhadiah Rp150 Juta
• 53 menit laluharianfajar
thumb
Imigrasi Soekarno-Hatta Tunda Keberangkatan Tiga WNI yang Diduga Hendak Bekerja Ilegal ke Kamboja
• 10 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.