Sepatu Sepasang sampai Tua

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Di rak sepatu paling lusuh di rumah paling sederhana sekalipun, tersimpan sebuah filsafat yang belum pernah mampu dirumuskan oleh Aristoteles maupun Kant dengan lebih tepat. Ia tidak ditulis dalam bahasa Latin. Ia tidak butuh kelas hermeneutika untuk dipahami. Ia hanya berdiri diam, berpasangan, menunggu pagi hari berikutnya. Sepasang sepatu tua yang sudah lupa berapa ribu langkah telah ditempuhnya bersama.

Kita selalu mencari metafora untuk cinta di tempat yang salah.

Kita pinjam gambaran dari langit dan lautan. Dari api yang berkobar dan bintang yang tidak pernah padam. Para penyair menulis sampai tangan mereka kram, para filsuf berdebat sampai lilin mereka habis, dan setelah semua itu, cinta tetap tidak bisa dijelaskan dengan sempurna. Mungkin karena kita terlalu sering mendongak ke atas. Mungkin jawaban itu justru ada di bawah, di level paling rendah, di tempat yang paling dekat dengan tanah dan debu dan perjalanan.

Di kaki kita.

Perhatikan dengan seksama sepasang sepatu. Kanan dan kiri dibentuk dari cetakan yang berlainan. Lekukan sol kanannya mengikuti tekanan ibu jari yang sedikit lebih berat. Sol kirinya mencatat bekas kebiasaan seseorang yang bertumpu berbeda ketika lelah. Keduanya tidak bisa saling menggantikan. Jika dipaksakan, yang terjadi bukan harmoni melainkan luka. Lecet di tumit. Nyeri di telapak. Tubuh tahu ketika sesuatu tidak pada tempatnya, dan ia tidak diam.

Tidak ada cinta yang tumbuh dari upaya menjadi orang lain demi menyenangkan pasangan. Yang tumbuh dari sana hanyalah kapalan dan diam.

Namun justru di sini paradoks yang paling indah itu bersembunyi. Mereka tidak pernah sama persis. Kaki kanan dan kaki kiri manusia sendiri tidak identik, satu sedikit lebih besar, satu sedikit lebih melengkung, dan pembuat sepatu yang baik tahu bahwa keserasian bukan soal kesamaan bentuk. Keserasian adalah soal bagaimana dua hal yang berbeda bisa membuat satu perjalanan terasa utuh. Bukan meski berbeda. Tapi karena berbeda.

Mereka juga tidak pernah melangkah bersisian. Kaki kanan maju, kaki kiri menahan. Kaki kiri maju, kaki kanan menunggu. Tidak pernah satu irama, tidak pernah bersamaan menyentuh tanah. Jika keduanya melangkah serentak, manusia akan jatuh. Hubungan yang sehat pun begitu. Bukan tentang siapa yang lebih cepat atau lebih jauh. Tapi tentang bagaimana giliran memberi dan menerima itu dijaga tanpa perlu dikontrakkan, tanpa perlu dinegosiasikan setiap pagi, karena tubuh sudah tahu, karena hati sudah tahu, bahwa yang satu akan selalu ada ketika yang lain sedang melangkah lebih jauh ke depan.

Dan sepatu tidak pernah bertukar posisi. Sepatu kiri tidak akan tiba-tiba berpindah menjadi sepatu kanan hanya karena hari ini jalanannya lebih berbatu. Ia tetap di tempatnya, dengan identitasnya, dengan caranya sendiri membaca permukaan tanah. Kesetiaan bukan soal menjadi sama dengan pasangan. Kesetiaan adalah soal bertahan menjadi diri sendiri sambil tetap memilih untuk berjalan ke arah yang sama.

Generasi kita keliru memahami ini. Kita diajarkan bahwa cinta yang dalam adalah cinta yang melebur, yang menyatu tanpa sisa, yang lupa di mana aku berakhir dan kamu dimulai. Namun peleburan tanpa batas itu bukan kedekatan. Itu kehilangan diri. Sepatu yang mencoba menjadi sol dari pasangannya hanya akan membuat keduanya tidak bisa dipakai oleh siapa pun. Cinta yang matang justru adalah cinta yang cukup percaya diri untuk berbeda, cukup lembut untuk tetap serasi, dan cukup bijak untuk tidak memaksa salah satu berubah bentuk demi menyesuaikan yang lain.

Al-Quran berbicara tentang ini jauh sebelum psikologi modern punya nama untuknya.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 187, Allah memilih satu kata untuk menggambarkan suami dan istri, dan kata itu bukan "mitra" atau "teman" atau "kawan seperjuangan." Kata itu adalah libas. Pakaian. "Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna." Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Para mufasir klasik menjelaskan bahwa pakaian itu menutup aib yang tidak ingin dilihat orang lain, menghangatkan di malam yang dingin, memperindah penampilan di hadapan dunia, dan menempel paling dekat dengan tubuh dari semua benda yang kita miliki. Tidak ada yang lebih setia dari pakaian. Ia tidak pergi ketika kamu sakit. Ia tidak memilih tubuh yang lebih muda. Ia hanya ada, melekat, diam-diam melindungi.

Sepatu adalah bagian dari pakaian itu. Dan ia menggenapi metafora Qurani tersebut dengan cara yang lebih rendah hati lagi, karena ia tidak menempel di bagian tubuh yang terlihat orang, tapi di kaki, di tempat paling bawah, paling dekat dengan tanah dan kerikil dan lumpur. Tidak ada yang memperhatikan sepatu ketika segala sesuatunya berjalan baik. Orang baru sadar ada sepatu ketika kakinya kesakitan, ketika solnya bocor, ketika pasangannya hilang.

Surah Ar-Rum ayat 21 menyebut hubungan suami istri sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang paling dekat dengan keseharian manusia. "Wa ja'ala baynakum mawaddatan wa rahmah." Ia menanamkan di antara kalian mawaddah dan rahmah. Dua kata yang sering diterjemahkan sekaligus sebagai "cinta dan kasih sayang," padahal keduanya berbeda kedalamannya. Mawaddah adalah cinta yang hangat dan bersemangat, yang hadir ketika segalanya baik, ketika wajah masih segar dan langkah masih ringan.

Rahmah adalah sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam dari itu. Ia adalah kasih sayang yang justru semakin kuat ketika segalanya sulit, ketika wajah sudah berkerut dan langkah sudah berat. Sepatu baru punya mawaddah. Sepatu lama punya rahmah. Dan kita semua tahu sepatu mana yang lebih sulit ditinggalkan ketika ia akhirnya rusak.

Rumi menulis tentang seruling buluh yang menangis sejak dipisahkan dari rumpunnya. Bukan karena ia lemah. Tapi karena memang seperti itulah fitrah sesuatu yang diciptakan untuk berpasangan. Ketika terpisah, nadanya menjadi ratapan. Ketika bersatu, nadanya menjadi musik yang membuat orang berhenti berjalan hanya untuk mendengarkan. Sepatu pun demikian. Sendirian, ia hanya sepotong kulit dan karet yang tidak tahu harus pergi ke mana. Bersama, ia adalah perjalanan.

Dunia modern menjual kita mimpi tentang pasangan yang sempurna. Wajahnya harus begini. Karirnya harus begitu. Hobinya harus cocok, visinya harus selaras, cara tidurnya tidak boleh mengganggu. Dan ketika kenyataan datang dengan segala ketidaksempurnaannya, dengan kebiasaan yang menjengkelkan dan cara berpikir yang kadang berlawanan dan langkah yang tidak selalu seirama, kita mulai bertanya-tanya apakah kita telah membuat pilihan yang salah.

Sepatu tidak pernah bertanya seperti itu.

Sepatu kiri tidak pernah melirik sepatu display di etalase toko dan membandingkan dirinya. Sepatu tidak menghitung apakah ia sudah memberi lebih banyak dari yang ia terima. Sepatu tidak menyimpan catatan tentang berapa kali ia terkena lumpur karena keputusan kaki kanan yang tidak ia setujui. Sepatu tahu bahwa keserasian bukan ditemukan di toko yang tepat. Keserasian dibentuk, di jalanan yang panjang, di bawah hujan yang tidak direncanakan, di atas aspal yang lebih panas dari perkiraan.

Kenyamanan sejati bukan tentang menemukan yang sempurna. Tapi tentang bersama cukup lama hingga yang tidak sempurna itu terasa seperti rumah.

Dan rumah di sini bukan bangunan. Rumah adalah rasa itu. Rasa bahwa ketika kamu melangkah, ada yang siap menyusul tanpa diminta. Ketika kamu berhenti, ada yang menunggu tanpa mengeluh. Ketika kamu lelah dan hampir menyerah di tengah jalan, ada yang menanggung separuh beban perjalanan itu tanpa perlu tahu bahwa ia sedang melakukannya.

Itulah sakinah yang disebut Al-Quran. Bukan kegembiraan yang meledak-ledak. Bukan kebahagiaan yang perlu difoto agar terasa nyata. Tapi ketenangan yang mengendap perlahan, seperti debu yang akhirnya berhenti beterbangan dan memilih satu tempat untuk menetap selamanya.

Allah menciptakan kita berpasangan. Itu bukan kebetulan kosmik dan bukan sekadar kebutuhan biologis. Itu rancangan. Dan rancangan itu tidak menuntut kesempurnaan dari masing-masing pihak. Ia hanya menuntut satu hal yang jauh lebih sulit dari sempurna yaitu kesetiaan pada arah yang sama, hari demi hari, bahkan ketika arahnya menanjak dan solnya mulai menipis dan tidak ada lagi tepuk tangan dari orang-orang di pinggir jalan.

Bayangkan sepatu yang kehilangan pasangannya. Ia masih utuh secara fisik. Kulitnya masih baik. Solnya masih tebal. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan dengannya. Tidak ada tujuan yang bisa dicapai. Tidak ada perjalanan yang bisa dimulai. Ia hanya duduk di rak, sendirian, menjadi pengingat bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak dirancang untuk berfungsi tanpa pasangannya.

Kelengkapan itu tidak bisa diganti oleh sepatu baru yang datang kemudian, meski ukurannya sama dan warnanya serupa dan mereknya bahkan lebih mahal. Karena ada sesuatu yang hanya bisa dibentuk oleh waktu yang dilalui bersama. Oleh jalanan yang sama-sama pernah diinjak. Oleh hujan yang sama-sama pernah ditahan. Oleh ribuan pagi yang tidak satu pun terasa istimewa pada saat itu, tapi ketika dijumlahkan menjadi sebuah hidup yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.

Itulah yang para nenek kita sebut pasangan hidup. Bukan yang paling sempurna sendirian. Bukan yang paling bersinar dalam kesendirian. Tapi yang bersama kita telah membentuk narasi yang tidak bisa ditulis ulang oleh orang lain.

Mungkin itulah ukuran cinta yang paling jujur. Bukan berapa besar bunga yang pernah kamu beli. Bukan berapa jauh kamu pergi untuk membuktikan sesuatu. Bukan berapa dramatis kata-katamu di momen yang tepat. Tapi ini: ketika kamu sudah lusuh, ketika solmu sudah menipis, ketika tidak ada lagi yang baru untuk dibuktikan dan tidak ada lagi penonton yang perlu terkesan, apakah kamu masih memilih untuk berada di rak yang sama, menunggu pagi yang sama, melangkah ke arah yang sama?

Sepasang sampai tua.

Bukan karena tidak ada pilihan lain.

Bukan karena tidak ada yang lebih baru dan lebih mengkilap di luar sana.

Tapi karena kamu sudah tahu bentuk kakimu sendiri, dan kamu tahu bahwa tidak semua yang mengkilap bisa menanggung berat perjalanan yang sesungguhnya.

Dan karena memang tidak ada yang lebih benar dari ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Siap Dukung Penuh Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Arab Saudi Desak Penyaluran Bantuan Kemanusiaan ke Gaza Tanpa Hambatan
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menghadap Presiden Prabowo, Menpora Laporkan Persiapan Indonesia Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Gerakan Ayah Mengambil Rapor, Sekda Banten Deden Buktikan Ajakan GEMAR Dampingi Anak di Sekolah
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
BRI Region 6 Gelar Pelatihan Leadership dan Analisis Data
• 2 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.