Washington (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pihaknya dapat melakukan operasi militer terhadap Kuba seperti yang dilakukannya terhadap Venezuela pada awal tahun ini.
"Mungkin, mungkin saja," kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Jumat (19/6).
Meskipun tidak ada linimasa tertentu yang ditetapkan terkait tindakan terhadap Kuba, Trump memastikan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio akan "sangat" terlibat dalam isu tersebut. Trump pun mengeklaim Kuba "sangat ingin" berdialog dengan AS.
Pada akhir Januari lalu, AS menetapkan tarif impor terhadap negara-negara yang menyuplai minyak ke Kuba, selain menyatakan keadaan darurat dengan dalih adanya ancaman Kuba terhadap keamanan AS.
Kuba menuding Amerika memanfaatkan embargo energinya untuk "mencekik" ekonomi negara pulau tersebut dan menghancurkan kondisi kehidupan masyarakatnya.
Baca juga: Soal Kuba setelah Iran, Wapres Vance sebut masih dalam diskusi
Langkah AS tersebut memperparah kelangkaan bahan bakar dan berdampak pada layanan pasokan listrik, transportasi, produksi pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Pada pertengahan Mei lalu, Departemen Kehakiman AS mendakwa Raul Castro, mantan presiden Kuba, beserta lima personel militer Kuba atas keterlibatan mereka menembak jatuh dua pesawat yang terkait dengan kelompok eksil Kuba di Miami "Brothers to the Rescue".
Kuba menuding tuduhan tersebut sebagai provokasi politik sembari menegaskan hak membela diri karena pesawat milik kelompok eksil tersebut berulang kali melanggar batas ruang udara Kuba.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Kuba luncurkan reformasi besar-besaran untuk pulihkan ekonomi
Baca juga: AS jatuhkan sanksi ke Presiden Kuba Diaz-Canel dan anak Raul Castro
"Mungkin, mungkin saja," kata Trump dalam wawancara dengan Axios, Jumat (19/6).
Meskipun tidak ada linimasa tertentu yang ditetapkan terkait tindakan terhadap Kuba, Trump memastikan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio akan "sangat" terlibat dalam isu tersebut. Trump pun mengeklaim Kuba "sangat ingin" berdialog dengan AS.
Pada akhir Januari lalu, AS menetapkan tarif impor terhadap negara-negara yang menyuplai minyak ke Kuba, selain menyatakan keadaan darurat dengan dalih adanya ancaman Kuba terhadap keamanan AS.
Kuba menuding Amerika memanfaatkan embargo energinya untuk "mencekik" ekonomi negara pulau tersebut dan menghancurkan kondisi kehidupan masyarakatnya.
Baca juga: Soal Kuba setelah Iran, Wapres Vance sebut masih dalam diskusi
Langkah AS tersebut memperparah kelangkaan bahan bakar dan berdampak pada layanan pasokan listrik, transportasi, produksi pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Pada pertengahan Mei lalu, Departemen Kehakiman AS mendakwa Raul Castro, mantan presiden Kuba, beserta lima personel militer Kuba atas keterlibatan mereka menembak jatuh dua pesawat yang terkait dengan kelompok eksil Kuba di Miami "Brothers to the Rescue".
Kuba menuding tuduhan tersebut sebagai provokasi politik sembari menegaskan hak membela diri karena pesawat milik kelompok eksil tersebut berulang kali melanggar batas ruang udara Kuba.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Kuba luncurkan reformasi besar-besaran untuk pulihkan ekonomi
Baca juga: AS jatuhkan sanksi ke Presiden Kuba Diaz-Canel dan anak Raul Castro





