Fakta-Fakta Terbaru Gempa M6,7 Palu, Waspada Likuefaksi-Tanah Retak

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan usai diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026). (Dok. BPBD Kabupaten Sigi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan potensi bencana ikutan berupa retakan tanah dan likuefaksi pasca gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah. Pemetaan tersebut didasarkan pada analisis geofisika bawah permukaan yang mengidentifikasi adanya aktivitas intensif pada Struktur Graben Palolo.

Badan Geologi menjelaskan, guncangan yang berpusat di daratan 42 kilometer (km) tenggara Kota Palu tersebut memiliki mekanisme sesar turun (normal fault). Tim di lapangan saat ini memantau ketat distribusi lebih dari 150 gempa susulan yang tercatat dengan kekuatan bervariasi antara Magnitudo 2,5 hingga 5,1 hingga 18 Juni 2026.

"Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa bumi susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit, dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," tulis Badan Geologi dalam unggahan di akun Instagram resmi, dikutip Sabtu (20/6/2026).


"Gempa bumi dapat diikuti oleh bahaya ikutan seperti retakan tanah, penurunan lahan, dan longsoran, serta likuefaksi. Masyarakat diimbau waspada dan menghindari area tebing yang berpotensi mengalami longsor," tegas Badan Geologi. 

Baca: Penampakan Rumah Hancur-Rata Tanah Usai Gempa Merusak M6,7 di Sulteng

Berdasarkan data Badan Geologi, terdapat perbedaan parameter kekuatan gempa dari berbagai lembaga internasional, di mana USGS mencatat Magnitudo 6,99 pada kedalaman 11,5 km, sementara GFZ melaporkan Magnitudo 6,66 pada kedalaman 10 km. Meskipun demikian, guncangan di permukaan dirasakan sangat kuat mencapai intensitas IX MMI yang dipicu oleh kondisi tanah lunak di wilayah pemukiman penduduk.

"Analisis menunjukkan mekanisme sesar turun yang dipicu oleh Sesar Palolo (graben), bukan Sesar Palu-Koro atau Sausu yang memiliki mekanisme sesar mendatar. Kami juga tidak menemukan indikasi Sesar Palu-Koro ikut aktif akibat gempa ini," lanjut Badan Geologi.

Ditegaskan, kejadian naiknya air laut diikuti gelombang surut bukan karena terjadi tsunami. Melainkan efek perubahan kondisi fisik pantai akibat kuatnya goncangan, termasuk ada penurunan tanah.

"Bukan indikasi tsunami," kata Badan Geologi.

Baca: Gempa Kerak Dangkal-Merusak Hantam Palu, Ahli Tunjuk Sumber Bahaya

Dampak fisik di lapangan menunjukkan adanya penurunan lahan atau land subsidence yang mengakibatkan air laut di Teluk Palu sempat terlihat surut sesaat setelah guncangan. Selain itu, ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora juga memicu terjadinya fenomena longsoran material serta amblesan pada badan jalan akses menuju wilayah Napu.

Wilayah terdampak yang berada pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) tingkat menengah hingga tinggi ini memiliki klasifikasi tanah mulai dari batuan lunak hingga tanah sangat lunak (Vs30 kelas C, D, dan E). Kondisi ini memicu munculnya potensi likuefaksi di Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, hingga sebagian wilayah Kabupaten Poso.

Badan Geologi merekomendasikan agar setiap bangunan di wilayah rawan dirancang sesuai kaidah tahan gempa serta dilengkapi dengan jalur evakuasi yang memadai.

Masyarakat juga diimbau untuk selalu memeriksa kondisi struktur bangunan guna memastikan keamanan sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah guna menghindari risiko tertimpa reruntuhan akibat gempa susulan.

Terkait potensi likuefaksi yang juga dipengaruhi tingkat guncangan dan jenis tanah, Badna Geologi menegaskan masih akan melakukan pantauan ketat di lapangan.

"Selalu mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, dan tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan. Jangan terpengaruh oleh informasi yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi maupun tsunami," tegas Badan Geologi.

"Tetap tenang, tidak perlu panik, namun harus tetap waspada. Karena gempa susulan adalah hal yang wajar, hindari bangunan retak. Jangan mudah percaya isu atau hoaks, dan selalu rujuk informasi resmi dari BPBD, BNPB, serta pemerintah daerah," tutup Badan Geologi.

Baca: Heboh Sesar Kendeng Bisa Picu Gempa M7 di Jawa, Ini Rute-Penjelasannya


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Breaking! Palu Diguncang Gempa Magnitudo 6,7

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Salat Kota Bandung 20 Juni 2026
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kuasa Hukum Ungkap Penyebab Dokter Tifa Dirawat di RS Polri: GERD dan Tekanan Ujian
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Kok Bisa Unggul Jumlah Pemain Tapi Tetap Mandul? Turki Resmi Tersingkir Tragis dari Piala Dunia 2026 Usai Dipermalukan Paraguay
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Gubernur Khofifah Dampingi Kapolri Ziarah ke Makam Proklamator RI Bung Karno dan Presiden RI Ke-4 Gus Dur
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Daftar Pemain Penerima Kartu Merah di Piala Dunia 2026, Lebih Banyak dari Tahun-tahun Sebelumnya?
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.