- Tenaga Kesehatan Gugur
- 30 Pengungsi Tewas
- Tolak Pemeriksaan Jenazah
- Sanitasi Buruk Memperparah Risiko
- Bantuan AS Untuk Melawan Ebola
Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo berkembang sangat serius dan menyebar dengan sangat cepat, meskipun berbagai upaya penanganan kini terus ditingkatkan.
Direktur Kedaruratan WHO untuk Afrika, Marie Roseline Belizaire, menyatakan bahwa situasi wabah saat ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan negara tersebut. Ia mengatakan pihaknya masih berpacu untuk mengejar situasi yang memburuk di timur laut DRC yang menjadi pusat wabah.
WHO mencatat virus telah menyebar selama beberapa bulan sebelum wabah resmi diumumkan pada 15 Mei 2026, sehingga banyak tenaga kesehatan terpapar tanpa perlindungan yang memadai.
"Wabah ini tetap serius dan berkembang sangat cepat. Namun, saya telah melihat respons yang semakin kuat setiap hari," kata Belizaire yang dikutip Channel New Asia, Sabtu (20/6/2026).
Wabah yang terdeteksi pada 15 Mei lalu ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang telah disetujui. Kondisi tersebut membuat pengendalian wabah menjadi lebih sulit dibandingkan wabah Ebola jenis Zaire yang pernah terjadi sebelumnya.
Menurut informasi terbaru WHO, sejauh ini terdapat 896 kasus yang terkonfirmasi di DRC, termasuk 232 kematian yang terkonfirmasi, dengan 21 kasus baru dalam 24 jam terakhir.
Lebih dari 90 persen kasus yang diketahui di DRC terjadi di Ituri yang dilanda konflik.
Wabah ini juga telah menyebar ke provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.
Belizaire mengatakan epidemi tersebut berkembang begitu cepat sehingga respons yang diberikan berupaya keras untuk mengimbangi penyebaran virus, yang menyebar melalui kontak dekat dan cairan tubuh yang terinfeksi.
"Jumlah tempat tidur perawatan yang tersedia untuk pasien Ebola telah meningkat dari nol menjadi lebih dari 500. Dan tim pengawasan sekarang sedang menyelidiki hampir 400 peringatan dan mampu melakukan lebih dari 2.000 tes per hari, paparnya.
Belizaire juga menyoroti bahwa upaya untuk melacak kontak dari kasus Ebola yang diketahui telah meningkat, dengan 75 persen dari semua kontak sekarang telah dihubungi.
WHO telah menyatakan bahwa 95 persen kontak harus dilacak untuk mengatasi wabah tersebut.
Belizaire mengungkap beberapa orang yang jatuh sakit tinggal di rumah, kemudian pergi ke tabib tradisional, sebelum akhirnya pergi ke pusat kesehatan, sehingga menunda akses ke perawatan.
Di DRC, 78 orang telah pulih setelah tertular Ebola, yang disebutnya sebagai pengingat yang kuat bahwa diagnosis tepat waktu dan akses ke perawatan kesehatan berkualitas dapat menyelamatkan nyawa.
Belizaire mengatakan tenaga kesehatan sangat terpukul pada tahap awal epidemi. Sejauh ini, 75 tenaga kesehatan telah terinfeksi Ebola, di antaranya 17 meninggal dunia.
"Di DRC, karena kita melihat wabah komunitas yang besar, kita tidak dapat memastikan apakah mereka terinfeksi di fasilitas kesehatan. Ini adalah harga yang sangat mahal yang harus dibayar oleh sistem perawatan kesehatan," tambahnya.
Belizaire mengatakan tim medis China telah tiba di ibu kota Kinshasa dan akan menuju Bunia.
Di negara tetangga Uganda, satu-satunya negara lain yang terkena dampak, terdapat 19 kasus yang dikonfirmasi termasuk dua kematian, dan 10 pasien yang sembuh.
Uganda tidak melaporkan kasus baru selama 12 hari.
Sementara itu, badan migrasi PBB mengatakan telah melakukan lebih dari satu juta pemeriksaan kesehatan di perbatasan dan koridor perjalanan sebagai bagian dari langkah-langkah pengawasan yang bertujuan untuk mendeteksi kasus potensial.
30 Pengungsi TewasMengutip Reuters, setidaknya 30 orang telah meninggal sejak awal Mei di salah satu kamp pengungsi sipil di timur laut Kongo, tingkat kematian yang menurut pejabat kamp belum pernah terjadi sebelumnya, dan, karena gejalanya, dapat mengindikasikan Ebola menyebar dengan cepat di sana.
Penyebab kematian tidak dapat dipastikan karena pasien atau kerabat mereka di kamp Kigonze di Bunia - pusat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo - hingga Kamis menolak untuk diuji, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, kata juru bicara kamp dan organisasi bantuan Caritas.
Namun, semuanya menunjukkan gejala termasuk sakit kepala, demam, dan muntah, yang terkait dengan Ebola, kata seorang juru bicara kamp, seorang ayah yang berduka, tiga sumber bantuan, dan seorang pemimpin masyarakat sipil kepada Reuters.
"Orang-orang tidak pernah meninggal seperti ini sebelumnya," kata Juru bicara kamp, Desire Grodya Bapi.
Kematian di Kigonze, yang memiliki lebih dari 15.000 penduduk, menimbulkan kekhawatiran bahwa Ebola mungkin beredar tanpa terdeteksi di antara lebih dari 5 juta pengungsi di Kongo timur, dengan penolakan terhadap pengujian yang memperparah tantangan yang ditimbulkan oleh langkah-langkah sanitasi yang sangat terbatas.
Presiden kamp, Dz'djo Ndrutsi Etienne, menyebut sedikitnya 10 orang dimakamkan hanya dalam satu pekan terakhir. Sebelumnya, kamp tersebut biasanya hanya mencatat satu hingga tiga kematian setiap bulan.
Direktur organisasi bantuan Katolik Caritas Justin Zanamuzi, yang membantu penduduk Kigonze, mengatakan timnya pada hari Rabu melihat beberapa jenazah ditutupi kain, termasuk seorang wanita hamil dan anak-anak.
Rekaman dari hari Kamis (18/6) yang dibagikan oleh pemimpin masyarakat sipil dan diverifikasi oleh Reuters menunjukkan tim kesehatan dengan pakaian pelindung (hazmat suit) mendisinfeksi lebih banyak jenazah dan menyiapkan peti mati kecil di samping salib sementara para pelayat meratap.
"Tim kami mencoba membujuk orang-orang untuk menerima dokter memeriksa jenazah. Mereka menolak mentah-mentah," kata Zanamuzi.
Sementara itu Grodya mengatakan petugas kesehatan sekarang telah mengambil sampel dari lima korban dan sedang menunggu hasilnya. Kolera juga memiliki gejala seperti Ebola dan menyebar dengan cepat di komunitas miskin, meskipun cenderung tidak menular dari orang ke orang.
Warga kamp, Kato Lonu, 47 tahun, kehilangan dua anaknya, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan.
"Ini adalah kondisi yang seharusnya tidak dialami oleh manusia mana pun. Jika Anda melihat sekeliling, orang-orang meninggal satu demi satu," katanya.
Sanitasi Buruk Memperparah RisikoKondisi kamp yang padat dan minim fasilitas sanitasi turut memperbesar risiko penyebaran penyakit. Banyak keluarga tinggal berdesakan dalam tenda-tenda plastik dengan jarak sangat dekat.
Toilet umum yang tersedia tidak mencukupi dan sering meluap, sehingga penghuni terpaksa membersihkannya sendiri tanpa perlindungan memadai.
Sejumlah organisasi kemanusiaan menyebut berkurangnya pendanaan untuk program air bersih, sanitasi, dan kebersihan dalam beberapa tahun terakhir telah membuat komunitas pengungsi semakin rentan terhadap wabah penyakit menular, termasuk Ebola.
Data yang dikumpulkan oleh PBB menunjukkan bahwa pendanaan untuk toilet dan tempat cuci tangan di Kongo berkurang lebih dari setengahnya antara tahun 2024 dan 2025, menjadi sekitar $38 juta, dan permohonan dana sebesar $80 juta tahun ini baru didanai 21%.
Kongo memiliki ratusan kamp untuk warga sipil yang melarikan diri dari perang, beberapa di antaranya menampung 100.000 orang. Kematian akibat Ebola telah tercatat di kamp lain di provinsi Ituri yang sama, yang memiliki lebih dari 90% dari hampir 900 kasus yang dikonfirmasi.
Di Kigonze, keluarga besar berbagi tenda plastik yang sama dengan jarak kurang dari satu meter dan anak-anak berkeliaran di lorong-lorong tanahnya tanpa alas kaki.
Terdapat toilet bertanda USAID yakni badan bantuan internasional Washington yang dibubarkan oleh Trump dan sebuah sumber bantuan mengatakan bahwa badan tersebut membantu mendanai pembangunannya.
"Toilet-toilet itu cepat sekali penuh, dan orang-orang harus mengosongkannya sendiri, dengan tangan kosong," kata Grodya.
Bantuan AS Untuk Melawan EbolaWashington telah menjadi pendukung utama layanan WASH di Kongo, dan menyediakan lebih dari US$ 60 juta untuk layanan WASH pada tahun 2024 untuk mengurangi penyebaran penyakit, sebuah ringkasan yang dibagikan oleh mantan pejabat USAID menunjukkan.
Pemerintahan Trump membela pemotongan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka ingin fokus pada "bantuan kemanusiaan penyelamat jiwa yang sangat diprioritaskan". Washington telah berkomitmen lebih dari US$ 375 juta dalam pendanaan langsung untuk Ebola.
Hingga saat, belum ada respon langsung dari Departemen Luar Negeri AS.
Reuters tidak dapat memastikan berapa banyak, jika ada, yang sekarang diberikan Washington kepada Kigonze.
Namun empat kelompok bantuan - Mercy Corps, Danish Refugee Council, CARE International, dan Oxfam - mengatakan proyek WASH yang didanai AS untuk pengungsi di tiga provinsi yang terkena dampak Ebola telah dikurangi atau dihentikan sejak pemotongan tahun lalu.
Mercy Corps membangun 82 keran air dan lebih dari 400 toilet umum yang melayani lebih dari 125.000 pengungsi pada tahun 2024. Tahun ini, pemotongan dana berarti bahwa kurang dari 19.000 orang dilayani oleh enam keran air dan tidak ada toilet umum, kata kelompok bantuan tersebut.
(dce) Add as a preferred
source on Google




