Dulu Dilarang Main Sepak Bola, Kini Juneti Latihan Bareng Tim Jerman HSV

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

“Perempuan kok main bola?”

Kalimat itu bukanlah sesuatu yang asing bagi perempuan yang ingin menekuni sepak bola. Buat sebagian orang, lapangan hijau memang masih dianggap sebagai ruang milik laki-laki.

Juneti juga pernah merasakannya sendiri.

Siswi asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), itu sempat mendapat larangan bermain sepak bola—bukan dari orang tuanya, melainkan dari kakak laki-lakinya.

Saat itu, keinginannya untuk sekadar menendang bola dianggap tidak lazim bagi seorang perempuan. Menurut sang kakak, anak perempuan seharusnya membantu pekerjaan rumah tangga, bukan berlari mengejar bola di lapangan.

Namun, larangan tersebut tak membuat Juneti menjauh dari sepak bola. Sedikit demi sedikit, ia terus bermain dan membuktikan bahwa anak perempuan juga berhak mengejar apa yang mereka sukai, termasuk di lapangan hijau.

Kini, di usia 14 tahun, Juneti menjadi salah satu peserta aktif Girls Football 3.0, sebuah program yang dijalankan Plan Indonesia bersama Plan International Germany yang bertujuan untuk mendorong kesetaraan gender melalui sepak bola.

Program itulah yang mempertemukan kumparanBOLANITA dengan Juneti di sebuah pagi berkabut di Mollo Utara.

***

Langit masih cukup gelap ketika kumparanBOLANITA bertolak dari Jakarta menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (15/6).

Kami mendapat kesempatan mengikuti agenda Plan Indonesia dan Plan International Germany untuk melihat secara langsung bagaimana sepak bola digunakan sebagai ruang pemberdayaan bagi anak-anak perempuan di Timor Tengah Selatan (TTS).

Selama tiga hari, kumparanBOLANITA meliput rangkaian kegiatan Girls Football 3.0, termasuk coaching clinic bersama pemain dan pelatih klub sepak bola wanita asal Jerman, Hamburger SV (HSV).

Penerbangan dari Jakarta menuju Kupang memakan waktu hampir tiga jam. Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 07.00 WIB, kami pun tiba di Bandara El Tari sekitar pukul 11.00 WITA.

Namun, perjalanan panjang ini masih belum selesai.

Bersama rombongan Plan Indonesia, Plan International Germany, serta pemain-pelatih Hamburger SV, kami melanjutkan perjalanan darat menuju Timor Tengah Selatan dengan waktu kurang lebih dua jam menggunakan mobil van berwarna putih.

Jalanan menuju TTS cukup berkelok-kelok hingga membuat kami harus menggunakan seat belt. Meski begitu, para penumpang di dalam mobil van berwarna putih ini dibuat terpukau oleh pemandangan padang-padang luas yang mulai menguning diterpa musim kemarau.

Semakin mendekati TTS, udara semakin sejuk. Berbeda dengan Kupang yang gersang, kota kecil di dataran tinggi ini menyambut kami dengan angin yang sesekali membuat jaket tipis terasa diperlukan.

Pemandangan pun mulai berubah; gereja berdiri di berbagai sudut pemukiman, angkutan kota melintas sambil memutar musik dengan volume tinggi, di pinggir jalan, anjing-anjing milik warga berkeliaran bebas seolah menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Sesampainya di TTS, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. kumparanBOLANITA bersama rombongan menghabiskan waktu dengan beristirahat di hotel.

Selasa, 16 Juni 2026, perjalanan kembali berlanjut.

Setelah sarapan di hotel tempat kami menginap, mobil van berwarna putih kemudian bergerak menuju SMPN 1 Mollo Utara, lokasi coaching clinic bersama Hamburger SV. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 30 menit.

Pagi itu, gerimis turun di TTS. Kabut tipis menyelimuti perbukitan yang kami lewati, sementara udara dingin cukup menusuk hingga membuat sebagian dari kami memilih tetap mengenakan jaket sepanjang perjalanan.

Sesampainya di SMPN 1 Mollo Utara, suasana hangat langsung menyambut kami.

Para peserta Girls Football 3.0 telah duduk manis di dalam kelas. Senyum mereka mengembang ketika rombongan Plan Indonesia, Plan International Germany, pemain dan pelatih Hamburger SV Frauen, serta awak media memasuki kelas.

Sayangnya, di luar kelas, cuaca masih belum bersahabat. Kabut menggantung di perbukitan sekitar sekolah. Gerimis yang turun sejak pagi membuat udara di Mollo Utara terasa jauh lebih dingin, berkali-kali lipat dibandingkan Kupang.

Namun, cuaca dingin ini tak menyurutkan semangat para peserta.

Begitu acara coaching clinic sebentar lagi akan dimulai, para peserta Girls Football 3.0 berhamburan keluar kelas menuju lapangan. Sesampainya di sana, mereka langsung melakukan sesi latihan bersama pemain dan pelatih HSV, Pauline Machtens dan Kristin Witte.

Di antara puluhan peserta itu, perhatian kumparanBOLANITA tertuju kepada seorang siswi yang kakinya seolah tak pernah lepas dari bola sejak kegiatan dimulai.

Namanya Juneti.

Gadis berusia 14 tahun itu tampak begitu antusias mengikuti setiap instruksi yang diberikan pemain dan pelatih HSV. Sesekali ia bertepuk tangan, sesekali ia memperagakan apa yang sudah dipelajarinya, dan sesekali ia tertawa lepas bersama teman-temannya.

Sulit membayangkan bahwa beberapa tahun lalu, Juneti sempat tidak mendapat dukungan dari orang terdekatnya dalam menjalani hobinya bermain sepak bola

"Saya suka sepak bola dari kelas enam SD," kata Juneti saat kumparanBOLANITA berbincang kepadanya usai sesi coaching clinic berakhir.

Awalnya, Juneti tertarik dengan sepak bola karena sering melihat orang-orang di sekitar tempat tinggalnya bermain. Menurut Juneti, permainan si kulit bundar itu terlihat menyenangkan.

"Kalau lihat orang-orang bermain bola itu sangat seru. Jadi pengin mencoba dan pengin juga jadi atlet bola," ujarnya.

Keinginannya itu ternyata tak langsung mendapat dukungan. Kata Juneti, kakak laki-lakinya pernah melarangnya bermain sepak bola karena menganggap sepak bola bukan olahraga yang cocok dimainkan perempuan.

"Menurut kakak, anak perempuan itu di rumah untuk masak-masak, bantu orang tua, bersih-bersih rumah. Tidak boleh bermain bola, cukup laki-laki saja yang boleh bermain bola," tuturnya.

Namun, larangan itu tidak membuat Juneti menyerah. Alih-alih berhenti bermain, ia tetap datang ke lapangan. Bahkan sesekali ia berdebat dengan kakaknya demi mempertahankan hobinya tersebut.

"Ya biasa, saya melawan dengan kakak. Kakak tetap marah dan bilang jangan bermain, tapi orang tua kasih izin jadi saya tetap ikut bermain," katanya sambil tersenyum.

Beruntung, orang tuanya punya pandangan yang berbeda dengan kakaknya. Mereka mendukung Juneti dalam menekuni si kulit bundar. Bahkan ibunya menjadi orang pertama yang selalu menyemangatinya untuk terus bermain sepak bola.

"Mama selalu suruh tetap semangat. Mama selalu berdoa dan kasih semangat yang luar biasa," kata Juneti.

Sang ayah juga memberikan dukungan serupa. Keduanya berpesan agar Juneti bermain dengan sportif dan tetap menghormati lawan saat berada di lapangan.

Perlahan, sikap kakaknya mulai berubah.

Semakin sering melihat Juneti bermain, sang kakak mulai memahami bahwa sepak bola bukan sekadar permainan bagi adiknya. Kini, orang yang dulu paling keras melarangnya justru menjadi salah satu pendukung terbesarnya.

Perubahan itu semakin terasa ketika Juneti mendapat kesempatan mengikuti coaching clinic bersama Hamburger SV. Saat mendengar tim asal Jerman tersebut akan datang ke sekolahnya, sang kakak ikut merasa senang.

"Kakak malah dukung. Pas dengar tim Jerman mau datang, kakak malah senang," ujar Juneti.

Tak hanya kakaknya, Juneti sendiri juga nyaris tak percaya bisa berlatih bersama klub dari Eropa tersebut. Baginya, kesempatan itu adalah pengalaman yang mungkin tak akan datang dua kali.

"Sangat senang dan sangat bangga," pungkas Juneti.

Setelah sesi coaching clinic dan perbincangan dengan kumparanBOLANITA berakhir, Juneti kembali berkumpul bersama teman-temannya. Tawa mereka terdengar memenuhi lapangan yang masih basah oleh gerimis.

Mungkin, perjalanan Juneti menuju cita-citanya sebagai pesepak bola masih panjang. Namun setidaknya, hari itu ia sudah membuktikan satu hal bahwa lapangan hijau bukan hanya milik laki-laki.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PLN Buka Suara soal Siswi SMAN 6 Tewas Usai Motor Tersangkut Kabel, Siap Dukung Investigasi
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Kenaikan Belanja Pegawai Polri Jadi Sorotan, Dinilai Terlalu Besar
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jejak Perjalanan Selembar Rupiah
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Menjawab Aspirasi Warga, Wapres Pastikan Revitalisasi Sekolah di Ende Diprioritaskan
• 19 jam laludisway.id
thumb
Kronologi 3 Pemotor Tewas di Pelintasan Kebumen, Tertabrak KA Diduga usai Terobos Palang Pintu
• 7 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.