JAKARTA, DISWAY.ID-- Ditengah-tengah memanasnya aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung selama beberapa hari terakhir ini, penguatan nilai tukar Rupiah turut menjadi hal menarik perhatian banyak pihak.
Terkini, nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) juga masih tetap menguat hingga di kisaran angka Rp 17.804 per dollar AS.
BACA JUGA:Wacana Piala Dunia 2030 dengan Format 64 Tim, Peluang Timnas Indonesia Semakin Terbuka?
Dalam menilai kondisi ini, Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai bahwa Rupiah yang menguat adalah kabar baik, tetapi ia belum cukup memastikan bahwa stabilitas telah kembali.
"Rupiah yang menguat belum tentu berarti daya beli masyarakat meningkat atau kesejahteraan rakyat membaik. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa stabilitas tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas," tutur Achmad kepada Disway, pada Sabtu (20/06).
Lebih lanjut, Achmad juga menambahkan bahwa nilai tukar hanyalah salah satu indikator ekonomi, yang mencerminkan bagaimana pasar menilai stabilitas makroekonomi dan kredibilitas kebijakan.
BACA JUGA:Prabowo Beri Lampu Hijau, PSSI Gaspol Persiapan Menuju Piala Dunia 2030
"Ketika harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan berbagai pengeluaran rumah tangga terus meningkat, keresahan sosial akan tetap muncul meskipun indikator makro tertentu menunjukkan perbaikan," jelas Achmad.
"Oleh Karena itu, demonstrasi seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya dinilai oleh pasar," tambahnya.
Hal serupa pun juga turut diungkapkan oleh Ekonom dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita.
Dalam penuturannya, dirinya menilai bahwa memperbaiki strategi komunikasi pasar agar menjadi lebih kredibel dan mengakhiri segala bentuk penyangkalan terhadap realitas krisis.
BACA JUGA:Nasib Luke dan Baker Terjawab, Erick Thohir Bocorkan Keputusan Presiden
"Pendeknya, menjinakkan rupiah di level ekstrem ini membutuhkan keberanian untuk mengambil pilihan kebijakan yang pahit namun menyembuhkan demi mengembalikan kepercayaan pasar global ke pelukan perekonomian Indonesia," ujar Ronny.





