Jakarta, CNBC Indonesia - Iran berpotensi memperoleh akses ke dana rekonstruksi dan pembangunan senilai sedikitnya US$300 miliar atau sekitar Rp 5.332,5 triliun.
Selain itu, Amerika Serikat disebut akan membuka kembali akses ekspor minyak Iran, mencairkan sebagian aset yang selama ini dibekukan, serta melonggarkan sanksi secara bertahap.
Sebagai gantinya, Teheran diminta meyakinkan dunia bahwa program nuklirnya tidak akan menghasilkan senjata nuklir.
Kesepakatan damai terbaru antara Amerika Serikat dan Iran pada dasarnya dibangun di atas satu pertaruhan yakni apakah insentif ekonomi mampu menghasilkan stabilitas yang gagal dicapai melalui perang?
Perdamaian dengan Imbalan EkonomiJika perundingan berjalan sesuai rencana, Amerika Serikat juga akan membuka blokir aset Iran senilai puluhan miliar dolar AS, mencabut berbagai sanksi ekonomi, serta membantu pembentukan dana rekonstruksi dan pembangunan senilai sedikitnya US$300 miliar.
Sebagai imbalannya, Iran berjanji tidak mengembangkan senjata nuklir, menurunkan tingkat pengayaan sebagian stok uranium, dan melanjutkan pembahasan mengenai program nuklirnya.
Singkatnya, akses ekonomi ditukar dengan komitmen keamanan.
Batas KesepakatanNamun yang menarik justru bukan hanya apa yang masuk ke dalam perjanjian, melainkan apa yang ditinggalkan.
Kesepakatan ini tidak memuat perubahan rezim, tidak membatasi program rudal balistik Iran, tidak mengatur dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan, dan tidak menyentuh agenda demokratisasi domestik.
Artinya, ruang lingkupnya jauh lebih sempit dibanding berbagai tujuan yang sempat dikaitkan dengan perang tersebut.
Fokusnya bukan membentuk Iran baru. Fokusnya adalah menurunkan risiko konflik dan mengendalikan isu nuklir.
Selat Hormuz Setelah PerangKesepakatan ini juga menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu prioritas utama.
Bagi pasar energi global, jalur sempit ini bukan sekadar wilayah geografis. Ia merupakan salah satu koridor terpenting bagi perdagangan minyak dunia.
Sebelum konflik, kapal dapat melintas tanpa hambatan berarti. Setelah perang dan negosiasi panjang, jalur tersebut memang berpotensi kembali terbuka, tetapi dengan aturan dan biaya tambahan yang mungkin tidak pernah ada sebelumnya.
Perang bisa berakhir dalam hitungan minggu. Dampak ekonominya sering kali bertahan jauh lebih lama.
Taruhan yang SebenarnyaNilai terbesar dari kesepakatan ini bukan terletak pada angka US$300 miliar. Taruhan sebenarnya adalah asumsi yang mendasarinya.
Washington tampaknya percaya bahwa akses terhadap perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi akan memberi Iran lebih banyak alasan untuk menjaga stabilitas dibanding memperpanjang konfrontasi.
Logikanya mudah dipahami. Negara yang memiliki lebih banyak hal untuk dipertahankan biasanya memiliki insentif lebih besar untuk menghindari konflik.
Namun politik Timur Tengah jarang sesederhana itu.
Bagi banyak pihak di Iran, program nuklir dan pengaruh regional bukan sekadar persoalan ekonomi. Isu tersebut juga berkaitan dengan keamanan, posisi strategis, dan identitas politik negara.
Dari Tekanan ke InsentifSelama beberapa dekade, pendekatan utama Barat terhadap Iran didominasi oleh sanksi.
Akses perdagangan dibatasi, investasi dipersempit, dan ruang gerak ekonomi ditekan dengan harapan perilaku Iran ikut berubah.
Kesepakatan terbaru ini bergerak ke arah yang berbeda.
Alih-alih meningkatkan tekanan, perjanjian tersebut menawarkan akses. Alih-alih memperbesar biaya, pendekatan baru ini mencoba memperbesar manfaat ekonomi.
Dengan kata lain, kesepakatan ini dibangun di atas keyakinan bahwa kesejahteraan ekonomi dapat membantu menciptakan stabilitas politik.
Apakah pendekatan tersebut akan berhasil masih menjadi tanda tanya.
Sejarah kawasan menunjukkan bahwa uang dan keamanan tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Setelah Tinta MengeringPerjanjian damai sering dinilai dari apa yang berhasil ditandatangani. Namun sejarah biasanya menilainya dari apa yang terjadi setelahnya.
Untuk saat ini, Amerika Serikat memperoleh komitmen baru terkait program nuklir Iran. Sementara Iran mendapatkan peluang ekonomi yang jauh lebih besar dibanding beberapa tahun terakhir.
Kedua pihak memperoleh sesuatu yang mereka inginkan. Yang belum diketahui adalah apakah itu cukup untuk menghasilkan stabilitas yang bertahan lama.
Karena di Timur Tengah, seperti di banyak kawasan lain, uang dapat membeli waktu.
Tetapi tidak selalu dapat membeli kepastian.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




