”Nimbang Balita” Cerdas di Posyandu untuk Deteksi Dini ”Stunting”

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Posyandu membutuhkan dukungan dalam menghadirkan layanan digitalisasi yang tepat bagi anak balita. Dukungan itu juga diperlukan untuk memudahkan pelaporan oleh kader untuk mencegah tengkes atau stunting sejak dini. Kemudahan itu di antaranya ditawarkan melalui inovasi Smart Antropometri ”Nimbang Balita”.

Inovasi itu berupa sistem pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan suhu tubuh secara cerdas yang mampu secara otomatis mengklasifikasikan status gizi dan mendeteksi risiko stunting sejak dini. Sistem Smart Antropometri ”Nimbang Balita” dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menggabungkan perangkat keras dengan perangkat lunak cerdas.

Perangkat keras yang digunakan yaitu alat pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan suhu tubuh yang didukung perangkat lunak cerdas yang mampu secara otomatis mengklasifikasikan status gizi dan mendeteksi risiko stunting sejak dini berdasarkan teknologi nirkabel radio (RFID). Semua hasil pengukuran disajikan dalam bentuk status gizi melalui aplikasi berbasis web yang mudah diakses oleh orangtua, petugas kesehatan, dan pembuat kebijakan.

Satu alat pengukuran untuk anak balita hingga berat 100 kilogram ini dirancang dengan standar akurasi tinggi, ramah anak, dan mudah dioperasikan di posyandu, puskesmas, dan rumah sakit. Alat ini mendukung proses pemantauan pertumbuhan yang lebih cepat, lebih tepat, dan berbasis data untuk mencegah dan mengatasi stunting.

Baca JugaPerkuat Intervensi pada Perempuan dan Anak untuk Cegah Tengkes

Guru Besar Bidang Fisika Instrumentasi Kesehatan UNJ Umiatin, yang memimpin penelitian ini, mengungkapkan, pihaknya tergerak setelah melihat para kader posyandu yang secara manual memasukkan data hasil penimbangan anak balita. Selain itu, data perkembangan anak balita yang penting ini harus bisa diinput secara real time agar dapat melihat perkembangan bayi dari waktu ke waktu dengan berbasis data yang tepat.

”Waktu itu kami melihat alat timbangan bayi digital yang dipakai kader posyandu modelnya yang langsung muncul angka. Namun, kader masih tetap harus menulis lagi berat badan, tinggi badan, atau lingkar kepala tiap anak balita. Bahkan, masih ada posyandu yang menimbang bayi dengan timbangan bayi gantung. Ini sangat merepotkan,” kata Umiatin, Jumat (12/6/2026).

Umiatin mengatakan, ide untuk membuat sistem Smart Antropometri ”Nimbang  Balita” muncul saat dia membantu siswa S-1 Fisika yang menyusun skripsi di tahun 2020. Dia mendorong mahasiswa membuat penelitian yang bisa membantu masyarakat, lalu teringat pada beban kerja administrasi di posyandu yang secara umum masih dikerjakan secara manual. Adapun dosen lain yang terlibat yakni Taryudi, Bedy Purnama, dan Irma Ratna Kartika.

Inovasi bukan hanya tentang menghasilkan prototipe, melainkan tentang menghadirkan kebermanfaatan sosial dan kemandirian bangsa.

Umiatin mengingat rutinitas kader posyandu yang masih mencatat identitas anak balita dan beragam pengukuran secara manual. Hasil pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar badan, dan suhu (ketika masa pandemi Covid-19) dicatat pada Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan empat komponen utama, yaitu umur, berat badan, tinggi badan, dan jenis kelamin anak balita. 

Setelah mengisi buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara manual, kader menginput lagi data yang sama ke sistem pelaporan digital milik Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Platform BKKBN ini juga terhubung dengan Kementerian Kesehatan, seperti aplikasi ASIK/Sehat Indonesiaku.

Pengukuran dengan menggunakan Smart Antropometri ”Nimbang Balita” ini memudahkan kader dalam memperoleh status gizi, kurva pertumbuhan, dan memudahkan pengambil kebijakan memonitoring pertumbuhan anak balita secara mudah, cepat, dan akurat. Peralatan ini menggunakan layar integratif yang mudah diintegrasikan dan kartu KMS yang berisi data anak balita.

Dalam satu alat

Pengukuran anak balita di ”Nimbang Balita” dilakukan dalam satu alat. Ketika ibu dan anak balita datang ke posyandu, kader memberikan kartu elektronik (e-KMS) yang berisi identitas dari nama, jenis kelamin, tanggal lahir, nama ayah dan ibu, serta e-mail yang dapat dihubungi. Setiap pemeriksaan, kartu wajib dibawa.

Bagi anak balita yang sudah bisa berdiri sendiri, pengukuran dilakukan dengan berdiri, sedangkan bayi dilakukan dengan berbaring. Alat ini juga bisa mengeluarkan suara musik atau video sehingga membuat anak balita tidak merasa takut.

Baca JugaPosyandu dan Puskesmas Diintegrasikan guna Tekan Risiko Penyakit

Pengukuran dimulai dengan menempelkan kartu di alat. Lalu, anak balita menyentuhkan satu jari sekitar lima detik di sensor suhu. Di alat ada layar sehingga kader, orangtua, dan anak balita bisa melihat data berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan suhu tubuh di layar yang tersimpan secara otomatis dan terkoneksi ke laman internet nimbangbalita.id. Melalui laman ini, hasil pengukuran sebenarnya juga bisa terintegrasi dengan Sistem Informasi Posyandu Elektronik (SIPE), Sistem Pakar Status Gizi (Sipaksi), Aplikasi KMS, dan situs posyandu.

Data pengukuran yang tersimpan di web akan diolah otomatis. Hasilnya memberikan klasifikasi status gizi dan grafik pertumbuhan anak balita.

Umiatin mengatakan, ada dua prototipe ”Nimbang Balita” yang sudah diujicobakan di posyandu di Cianjur Jawa Barat dan Tangerang, Banten. Dari hasil uji coba didapati kesenjangan infrastruktur internet dan perangkat pendukung yang bisa membuat penginputan data menjadi lambat atau bermasalah.

Selain itu, literasi digital kader posyandu masih rendah sehingga perlu pelatihan untuk menggunakan alat. ”Kami masih sulit mendapatkan akses platform pencatatan gizi milik pemerintah, termasuk sulitnya berkolaborasi dengan industri dan pemerintah dalam hilirisasi alat antropometri ’Nimbang Balita’, “ kata Umiatin.

Baca JugaKader Posyandu, Menumpu Beban Berat Tanpa Topangan Kuat

Berbagi sertifikat telah diupayakan peneliti, antara lain lulus pengujian keselamatan SNI ISO/IEC 60601 1:2014 dan kinerja timbangan digital dan termometer di Balai Pengamanan Alat dan Fasilitas Kesehatan Jakarta; pengujian produk timbangan anak balita dan digital SNI 16-6646:2002; serta sertifikat desain industri oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum.

Menurut Umiatin, penyempurnaan masih terus dilakukan agar dapat dihilirisasi. Untuk memproduksi prototipe satu alat ”Nimbang Balita” dibutuhkan biaya berkisar Rp 10 juta. Diharapkan, ketika alat ini sudah bisa diproduksi ke publik, harga pasarannya bisa sekitar Rp 6 juta.

Kebutuhan orang dewasa

Umiatin mendapatkan hibah penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2026. Kader posyandu yang merasa senang dengan kinerja ”Nimbang Balita” memberi masukan supaya alat bisa sekaligus digunakan untuk orang dewasa, seperti ibu hamil dan orang lanjut usia, yang juga dilayani di posyandu secara rutin.

”Untuk yang bisa dipakai juga oleh orang dewasa nanti bisa diberikan fitur tambahan pengukuran tekanan darah hingga komposisi tubuh. Namanya Anjungan Tes Kesehatan Mandiri,” kata Umiatin.

Umiatin berharap inovasi perguruan tinggi mendukung digitalisasi posyandu ini dapat dimanfaatkan hingga hilirisasi. Apalagi, posyandu kini menjadi ujung tombak untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dasar ibu dan anak balita.

Ada lebih dari 338.000 posyandu di Indonesia. Regulasi pemerintah mendorong setiap posyandu memiliki alat antropometri sebagai salah satu alat pemantauan yang membantu menekan angka stunting.

”Saat ini alat antropometri yang ada di pasaran di Indonesia baru sebatas alat pengukuran berat badan dan tinggi badan anak balita, belum menerapkan teknologi pintar yang dapat membantu menganalisisi dan memprediksi stunting maupun gangguan pertumbuhan pada anak balita lainnya,” ujar Umiatin.

Baca JugaAlat Kesehatan Buatan Dalam Negeri Mulai Dilirik

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Sistem Informasi UNJ Fahrurrozi mengatakan, inovasi dari peneliti UNJ dapat memperkuat ekosistem riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. ”Inovasi bukan hanya tentang menghasilkan prototipe, melainkan tentang menghadirkan kebermanfaatan sosial dan kemandirian bangsa,” katanya.

Ia mengatakan, hasil riset dosen UNJ tersebut telah memasuki tahap strategis hilirisasi dan siap berkontribusi bagi industri alat kesehatan nasional. Ia menyatakan, UNJ merupakan universitas yang bekerja nyata untuk Indonesia.

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penataan Rasuna Said dan Halte Integritas Resmi Rampung
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Investor Asing Catat Net Sell Rp 904 M Sepekan, DSSA dan AMMN Terbanyak Dijual
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dari Pilkada ke Pilkada, Appi Sebut PPP Bagian Penting Perjalanan Politiknya
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Catat! Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini 21 Juni, Tarif Flat Rp8 Ribu
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
FITT Jual Fitra Hotel demi Akuisisi Perusahaan Alat Berat
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.