Uruguay vs Tanjung Verde: kejutan lain atau kejutan yang tertaklukkan?

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Perhatian publik terlalu terfokus pada Spanyol ketika tim Matador dipaksa berbagi poin dengan Tanjung Verde pada laga perdana Grup H Piala Dunia 2026, Senin (15/6).

Sorotan lebih tertuju pada kegagalan Spanyol, ketimbang keberhasilan yang dibuat Tanjung Verde.

Dari situ muncul klaim bahwa skuad Spanyol kali ini adalah yang terburuk yang pernah merepresentasikan Spanyol dalam Piala Dunia.

Padahal Spanyol tidak bermain buruk. Justru penampilan impresif Tanjung Verde yang membuat La Roja terlihat tidak berada dalam performa terbaiknya.

Lagi pula, apa yang diperlihatkan Tanjung Verde bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Hasil imbang melawan Spanyol merupakan kelanjutan dari rangkaian penampilan positif yang mereka tunjukkan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga hasil tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Sejak dikalahkan Mauritania 0-1 dalam kualifikasi Piala Afrika pada 19 November 2024, Tanjung Verde nyaris tak terkalahkan dalam 13 laga setelah itu.

Selama periode itu, mereka hanya kalah melalui adu penalti dari Iran dan Mesir dalam dua laga persahabatan. Bahkan, sekitar dua pekan sebelum kickoff Piala Dunia 2026, mereka mampu menumbangkan Serbia dengan skor meyakinkan 3-0.

Dari belasan laga itu, sudah hampir selusin tim kesulitan menjebol gawang Tanjung Verde.

Mengapa tim liliput dari negeri kepulauan liliput di Afrika bagian barat yang dikurung Samudera Atlantik dan berpenduduk sebanyak jumlah penduduk Kecamatan Cakung di Jakarta itu begitu sulit dikalahkan oleh lawannya

Jawabannya adalah karena Tanjung Verde telah berubah menjadi tim yang kuat, yang dibangun melalui proses rekrutmen pemain yang agresif, terencana, dan tepat sasaran selama bertahun-tahun.

Negara ini gencar mencari bakat global dari diaspora mereka, selain berinvestasi serius dalam infrastruktur sepak bola, dan sekaligus mengembangkan identitas tim yang menekankan organisasi serta kohesi.

Mereka mengimitasi proses itu dari keberhasilan mengubah diri menjadi salah satu negara demokratis paling makmur di Afrika, dari sebelumnya berstatus negara low income.

Transformasi mereka menjadi negara makmur itu bersandar pada optimalisasi potensi ekonomi terbesarnya, yakni pariwisata, dan membangun sumber daya manusia berkualitas.

Baca juga: Tanjung Verde yang tahan banting

Anti-kasar

Menurut UNESCO, Tanjung Verde adalah salah satu negara dengan tingkat literasi paling tinggi di Afrika, berkat upaya agresif pemerintahnya dalam memberikan pendidikan gratis kepada rakyatnya.

Dan keberhasilan itu beresonansi ke aspek-aspek lain, termasuk tim nasional sepak bola.

Meminjam laporan Irish Independent, banyak anggota skuad Tanjung Verde memiliki latar belakang perguruan tinggi, atau sekolah-sekolah elite sepak bola di Eropa.

Latar belakang itu membuat Tanjung Verde bukan tim yang hanya mengandalkan fisik dan keterampilan, tapi juga inteligensia.

Bisa menahan seri tim sangat eksplosif seperti Spanyol yang melepaskan 27 tembakan selama hampir 100 menit, tak mungkin terjadi hanya karena fisik dan keterampilan.

Pasti ada faktor inteligensia di dalamnya, terutama dalam kaitan dengan membentuk mental yang kuat dan dalam membaca kecenderungan pertandingan.

Kemampuan itu sendiri bisa merisaukan Uruguay yang akan menjadi lawan mereka berikutnya di Grup H, di Miami Gardens, Florida, Amerika Serikat, Senin (22/6) pukul 05.00 WIB.

Uruguay sendiri dibuat frustrasi oleh Arab Saudi karena Green Falcons memaksa mereka hanya mampu mengonversi satu dari 27 tembakan menjadi gol.

Jika keadaan ini tak segera dievaluasi dan diatasi, Uruguay bisa kembali frustrasi, apalagi Tanjung Verde sudah melakukan hal itu kepada tim yang dalam turnamen apa pun selalu menyerang, tak peduli lawan, tak peduli tempat, tak peduli waktu.

Tim asuhan Marcelo Bielsa kembali akan menghadapi lawan yang berkonsentrasi di daerah pertahanan sendiri, dan sabar menunggu momen serangan balik.

Pelatih Pedro "Bubista" Leitao Brito juga senang oleh kedisiplinan pemain-pemainnya saat bergerak tanpa bola.

Mereka memang terus mengganggu pemain-pemain Spanyol, tetapi melakukannya tanpa banyak mengandalkan pelanggaran, padahal saat itu La Roja menguasai peredaran bola hingga 74 persen.

Dalam posisi diungguli seekstrem itu, Tanjung Verde hanya melakukan satu pelanggaran. Menurut statistik, jumlah tersebut bahkan tergolong sangat rendah untuk sebuah pertandingan yang memperlihatkan kesenjangan penguasaan bola sedemikian besar.

Baca juga: Profil Grup H Piala Dunia 2026, Spanyol dan Uruguay diunggulkan

Tidak panik

Bubista juga akan mengandalkan Vozinha untuk membakar semangat rekan-rekannya lewat penampilan solid di bawah mistar gawang. Kiper veteran itu menjadi salah satu faktor utama di balik keberhasilan Tanjung Verde mencatatkan clean sheet saat menghadapi tim seofensif Spanyol.

Pico Lopes, yang memimpin kuartet pertahanan Tanjung Verde, akan kembali menjadi pelindung utama bagi Vozinha. Bersama rekan-rekannya di lini belakang, ia kemungkinan akan menghadapi kesibukan yang sama seperti saat meredam serangan Spanyol.

Itu karena Uruguay juga sama agresif dengan Spanyol . La Celeste melepaskan 34 umpan silang yang memaksa Saudi berjibaku. Situasi ini bisa terulang ketika mereka menghadapi Tanjung Verde.

Namun, kali ini Federico Valverde dkk mungkin lebih klinis setelah belajar dari kesalahan-kesalahan mereka saat melawan Saudi dan mempelajari titik lemah Tanjung Verde dari laga melawan Spanyol.

Dengan cara begitu Uruguay tak lagi memiliki alasan untuk panik saat kesulitan menjebol gawang Tanjung Verde.

Sebaliknya, mereka bisa lebih sabar ketimbang saat melawan Saudi, karena inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi tim yang menumpuk pemain di area sendiri, yang kemungkinan dilakukan pula oleh Tanjung Verde.

Uruguay juga bisa berpegang pada statistik yang menunjukkan mereka tidak perlu terlalu khawatir menghadapi tim yang bermain rapat di belakang.

Dalam sembilan pertandingan terakhir fase grup Piala Dunia, Uruguay hanya sekali menelan kekalahan, yakni saat takluk 0-2 dari Portugal pada Piala Dunia Qatar 2022.

Bahkan Portugal yang mengalahkan Uruguay empat tahun lalu itu, bukan tim yang mengandalkan serangan balik, melainkan tim berorientasi menyerang seperti Uruguay.

Kini, yang perlu dilakukan Marcelo Bielsa nanti adalah mendorong timnya tampil lebih klinis agar tak kehilangan tiga poin dari Tanjung Verde.

Skenario selain kemenangan akan sangat memberatkan Uruguay, karena pertandingan terakhirnya di fase grup harus menghadapi tim terkuat grup ini, Spanyol.

Tanjung Verde sendiri mungkin akan cukup dengan satu poin, sambil berharap Uruguay tergelincir saat melawan Spanyol dalam laga terakhir, dan mereka sendiri memetik tiga poin dari laga terakhir melawan Arab Saudi.

Baca juga: Ekuador ditahan imbang Curacao tanpa gol

Baca juga: Belgia vs Iran: tekanan mental bebani kedua tim


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mewah & Elegan: Menilik Gaun Pengantin Dua Lipa Lansiran Chanel Haute Couture
• 48 menit lalukumparan.com
thumb
Mahasiswa Gelar Aksi Demo di Tengah Kegiatan CFD Jakarta, Tolak Kenaikan Harga BBM
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Wamenhaj: Presiden Prabowo instruksikan masa tunggu haji dipangkas
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Gencatan Senjata Tak Ngaruh, Serangan Israel Tewaskan 11 Orang
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sempat Melonjak, Harga Cabai Kini Turun
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.