Bagi Para Lansia, Konsumsi Probiotik Setiap Hari dapat Redakan Depresi dan Kecemasan

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Konsumsi probiotik setiap hari dapat menjadi pelengkap terapi untuk meredakan depresi dan kecemasan pada lansia. Temuan dalam uji klinis skala kecil menunjukkan, lansia yang mengonsumsi probiotik bersama obat antidepresan menunjukkan perbaikan gejala yang lebih baik dibandingkan mereka yang menerima plasebo.

Probiotik adalah bakteri baik yang dapat ditemukan dalam makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, kefir, sauerkraut, tempe, dan tersedia juga dalam bentuk suplemen. Menurut National Center for Complementary and Integrative Health, probiotik dan prebiotik merupakan suplemen yang paling banyak digunakan orang dewasa setelah vitamin.

Baca JugaPotensi Probiotik sebagai Terapi Tambahan untuk Depresi
Baca JugaManfaat Probiotik

Manfaat mengkonsumsi probiotik dilaporkan dalam studi yang dilakukan oleh Dewan Riset Medis India, Institut Nasional untuk Penelitian Infeksi Bakteri, Kolkata. Laporan lengkap studi ini diterbitkan di Journal of the American Geriatrics Society, 17 Juni 2026.

Studi tersebut menemukan bahwa lansia yang mengalami depresi menunjukkan perbaikan gejala setelah mengonsumsi probiotik setiap hari bersamaan dengan obat antidepresan yang rutin mereka konsumsi. Perbaikan yang terjadi memang tidak besar, tetapi dinilai cukup signifikan dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi probiotik.

Dalam studi tersebut, kelompok pembanding menerima plasebo, yakni zat yang tidak mengandung bahan aktif tetapi dibuat menyerupai pengobatan sebenarnya. Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi probiotik mengalami penurunan gejala depresi dan kecemasan yang lebih baik dibandingkan kelompok plasebo.

"Hasil studi kami bersifat baru, dan kami sekarang merencanakan uji klinis lanjutan berskala lebih besar karena temuan yang menggembirakan," kata Saibal Das, salah satu penulis utama studi tersebut dari Dewan Riset Medis India seperti dikutip dari Sciencedaily, Minggu (21/6/2026).

Studi ini melibatkan 58 orang dewasa di India yang berusia minimal 60 tahun dan mengalami depresi sedang. Semua peserta terus menerima pengobatan antidepresan standar. Para sukarelawan secara acak ditugaskan dengan perbandingan 1 bading 1 untuk menerima suplemen probiotik harian atau plasebo selama 12 minggu.

Kelompok yang mengonsumsi probiotik mengalami penurunan gejala depresi dan kecemasan yang lebih baik dibandingkan kelompok plasebo.

Baca JugaPangan Probiotik Membantu Menjaga Kadar Gula Darah

Para peneliti kemudian terus memantau peserta selama 12 minggu berikutnya untuk melacak hasil jangka panjang. Kedua kelompok pun menunjukkan peningkatan yang signifikan selama penelitian berlangsung. Namun, kelompok probiotik mengalami pengurangan gejala depresi dan kecemasan yang sedikit lebih besar.

Para peneliti juga menggunakan sejumlah metode untuk menilai efektivitas terapi probiotik pada lansia yang mengalami depresi. Penilaian dilakukan dengan memakai skala psikologis yang telah terstandar untuk mengukur tingkat depresi dan kecemasan peserta.

Selain itu, tim peneliti memeriksa kadar faktor neurotropik turunan otak serum atau brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Protein ini berperan penting dalam pertumbuhan, pemeliharaan, dan kelangsungan hidup sel saraf serta kerap digunakan sebagai indikator dalam penelitian kesehatan mental.

Penelitian juga mencakup analisis bakteri usus melalui pemeriksaan mikrobiota tinja. Metode ini memungkinkan para ilmuwan memetakan komposisi mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan peserta.

Baca JugaPotensi Probiotik sebagai Terapi Tambahan untuk Depresi
Baca JugaTerbukti, “Bakteri Baik” Usus Dapat Melawan “Bakteri Jahat” Penyebab Tifus
Bersifat awal

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terapi probiotik berkontribusi terhadap perbaikan gejala depresi dan kecemasan. Namun, para peneliti belum menemukan bukti yang cukup bahwa probiotik memberikan peningkatan tambahan pada kualitas hidup secara keseluruhan dibandingkan dengan plasebo.

Para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut masih bersifat awal karena penelitian yang dilakukan merupakan studi percontohan dengan jumlah peserta yang relatif kecil. Oleh karena itu, hasilnya perlu dikonfirmasi melalui penelitian yang lebih besar sebelum dapat diterapkan secara luas.

Studi lanjutan diperlukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat probiotik dalam membantu mengatasi depresi. Penelitian lain juga dibutuhkan untuk mengidentifikasi kelompok pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi tersebut.

Meski demikian, hasil penelitian ini memperkuat dugaan bahwa probiotik berpotensi menjadi pelengkap yang aman bagi pengobatan depresi standar. Secara biologis, probiotik dinilai memiliki mekanisme yang masuk akal untuk mendukung kesehatan mental melalui hubungan antara usus dan otak.

“Visi kami adalah mengembangkan solusi kesehatan yang terjangkau dan dapat diakses lebih banyak orang sehingga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat," kata Abhinaba Ghosh, seorang dokter-ahli saraf dari Tata Medical Center yang juga turut terlibat dalam studi tersebut.

Secara biologis, probiotik dinilai memiliki mekanisme yang masuk akal untuk mendukung kesehatan mental melalui hubungan antara usus dan otak.

Mengurangi mual

Selama ini, probiotik memang telah dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia, terutama dalam menjaga keseimbangan sistem pencernaan. Akan tetapi, manfaat probiotik ternyata jauh lebih besar dan luas.

Studi terpisah lainnya yang dilakukan peneliti Universitas California-Davis Health, Amerika Serikat, menemukan bahwa probiotik secara signifikan dapat memperbaiki gejala mual, muntah, dan sembelit yang terkait dengan kehamilan. Studi ini telah dilaporkan secara lengkap dengan laporan yang diterbitkan di jurnal Nutrients.

Selama kehamilan, hormon seperti estrogen dan progesteron meningkat hingga menyebabkan banyak perubahan fisik. Peningkatan ini juga dapat mengubah mikrobioma usus yang kemungkinan memengaruhi fungsi sistem pencernaan dan menyebabkan gejala yang tidak diinginkan seperti mual, muntah, dan sembelit.

Dalam studi itu, para peneliti menemukan bahwa konsumsi probiotik dapat membantu mengurangi mual dan muntah secara signifikan. Durasi mual yang dialami peserta berkurang sekitar 16 persen, sementara frekuensi muntah menurun hingga 33 persen.

Selain itu, probiotik juga terbukti membantu memperbaiki sejumlah gejala yang memengaruhi kualitas hidup. Peserta melaporkan berkurangnya kelelahan, membaiknya nafsu makan, serta meningkatnya kemampuan untuk menjalani aktivitas sosial sehari-hari. Bahkan, probiotik juga terbukti mengurangi sembelit secara signifikan.

Baca JugaAyam dengan Probiotik Lebih Sehat Dikonsumsi
Baca JugaProbiotik Menjaga Kesehatan

Salah satu penulis studi tersebut dari Universitas California-Davis Health, Yu-Jui Yvonne Wan, mengatakan, penelitian ini memberikan wawasan penting tentang dampak mikroba usus terhadap fungsi saluran pencernaan selama kehamilan.

“Mikrobiota usus kita menjelaskan mengapa kita adalah apa yang kita makan dan mengapa metabolit dan produk yang dihasilkan bakteri memiliki dampak besar pada kesehatan kita. Mereka memengaruhi saluran pencernaan serta kesehatan kulit dan fungsi neurologis,” ucapnya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Motor Listrik Mulai Jadi Incaran Maling
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Shinobi: Art of Vengeance Siap ke di Nintendo Switch 2 September
• 7 menit lalumedcom.id
thumb
Pemadaman Bergilir di Pulau Jawa, Bos PLN Sampaikan Permohonan Maaf
• 21 jam lalunarasi.tv
thumb
Hadiri Munas Alim Ulama dan Konbes NU, Mbak Wali Harap Lahir Keputusan Terbaik untuk Kemaslahatan Umat
• 6 jam laluberitajatim.com
thumb
Strategi Cerdas Atur Keuangan di Masa Liburan Sekolah dan Tahun Ajaran Baru
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.