oleh Jin Ran
Selama ini karena pusat perhatian diarahkan pada perang di Iran dan Ukraina, membuat kita melewatkan suatu kejadian yang tidak kalah menariknya. Pada 12 Juni malam waktu AS, Trump merilis video serangan udara ke Amerika Latin. Dalam video tersebut, terlihat sebuah bangunan berwarna hijau di Venezuela, yang jelas berada di dalam hutan tropis, langsung hancur lebur usai terkena cahaya putih yang menyilaukan.
Trump secara khusus menyebutkan dua nama gadis yaitu Jocelyn Nungaray yang berusia 12 tahun dan Laken Reilly berusia 22 tahun yang dibunuh secara brutal oleh geng preman dalam unggahannya. Selama kampanye presidennya, Trump berjanji kepada keluarga para korban: “Saya akan mendapatkan keadilan untuk kalian dan mengusir monster-monster ini dari Amerika Serikat!”
Setelah menjabat, Trump langsung menetapkan Tren de Aragua (Geng Kereta Aragua) sebagai organisasi teroris asing dan mengusir ribuan orang anggota geng tersebut dari AS. Kali ini, Trump mengambil tindakan tegas dan cepat dengan maksud yang jelas, yaitu saya membuat siapa saja yang membuat susah orang Amerika Serikat lenyap selamanya! Tetapi detail yang paling menarik dari unggahan itu adalah pernyataan Trump yang berbunyi: “Operasi ini dilakukan dalam koordinasi erat dengan teman kita—pemerintah Venezuela. Kami telah menjalin kerja sama yang sangat baik dengan pihak Venezuela.”
Diktator Venezuela Nicolas Maduro telah diculik oleh militer AS pada awal tahun ini dan dibawa ke New York untuk menerima interogasi pemerintah AS. Salah satu tuduhan terhadapnya adalah melindungi dan berkolusi dengan Tren de Aragua! Kemenlu AS telah menawarkan hadiah USD 5 juta untuk penangkapan pemimpin geng ini. Tetapi fakta bahwa mereka terus gagal menangkap Nino Guerrero, tiran lokal yang pandai bersembunyi ini.
Tetapi keberhasilan operasi pemenggalan kepala terhadap Nino Guerrero oleh militer AS kali ini menunjukkan bahwa pemerintah Venezuela, yang sebelumnya berkolusi dengan kelompok perdagangan narkoba besar, pasti sudah bersedia “tekuk lutut” di depan Trump karena tekanan AS.
Lebih mencolok lagi yaitu munculnya Jenderal Francis L. Donovan, komandan Komando Selatan AS di Venezuela, dan bahkan setidaknya 2 unit helikopter Osprey AS yang terekam sedang berputar-putar di atas langit Caracas, ibu kota Venezuela, yang kemudian mendarat di depan gedung kedutaan AS untuk Venezuela.
Setelah menangkap Maduro dan menghabisi bos mafia Venezuela, pemerintahan Trump kini dapat mengalihkan perhatiannya ke negara komunis lain di Benua Amerika yang sudah lama berdiri—Kuba. Kali ini, mereka menggunakan pendekatan dua arah, baik militer maupun diplomatik. …Drone pengintai strategis MQ-4 “Triton” terbaru milik Angkatan Laut AS terus berputar-putar dan memantau pada ketinggian puluhan ribu meter. Tekanan gabungan udara, darat, dan laut ini, baik militer maupun diplomatik, mengirimkan sinyal yang jelas ke Havana: Berakhirnya tirani komunis di Kuba sudah memasuki hitungan mundur terakhirnya.
Ketika Amerika Serikat secepat kilat membersihkan negara-negara kecil di Amerika Latin yang pernah terpancing oleh umpan finansial Partai Komunis Tiongkok (PKT), dan akhirnya mereka terbangun setelah menghadapi kenyataan pahit. Honduras adalah contoh utamanya.
Dua tahun lalu, pemerintah Honduras saat itu terpikat oleh janji-janji PKT tentang “pemberian pinjaman besar dan investasi miliaran dolar,” dan bahkan mengumumkan pemutusan hubungan diplomatiknya dengan Republik Tiongkok (Taiwan) setelah 82 tahun terjalin, untuk beralih ke RRT. Pada saat itu, media PKT menggembar-gemborkan hal ini sebagai “kemenangan bersejarah dalam kerja sama Selatan-Selatan,” sementara para politisi Honduras percaya bahwa mereka telah menemukan “sponsor yang dermawan.”
Namun, 2 tahun telah berlalu, janji-janji tentang KA cepat, bendungan raksasa, investasi miliaran dolar tak ada yang terealisasi. Malahan Honduras harus menghadapi pukulan telak, lantaran pilar ekonomi utama wilayah pertanian selatan Honduras adalah budidaya udang putih.
Sebelumnya, sebagian besar udang putih berkualitas tinggi mereka diekspor ke Taiwan dengan harga tinggi dan menerima pembayaran yang tepat waktu, sehingga dapat mendukung ribuan petani udang dan pabrik pengolahan lokal. Sejak pemutusan hubungan dengan Taiwan, otomatis pasar Taiwan tertutup, tetapi pembeli dari Tiongkok langsung memangkas harga pembelian hingga setengahnya dan sering menolak menerima pengiriman dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.
Hal ini menyebabkan runtuhnya industri udang putih Honduras. Data resmi menunjukkan bahwa ekspor udang putih lokal anjlok sebesar 67%, pabrik pengolahan tutup secara massal, dan puluhan ribu petani udang di wilayah pertanian selatan kehilangan pekerjaan mereka.
Lebih buruk lagi, alih-alih membeli udang mereka, Tiongkok malah membanjiri Honduras dengan barang-barang murah dan berkualitas rendah yang menyebabkan banyak usaha kecil lokal bangkrut. Kemarahan publik di Honduras memuncak, warga berulang kali turun ke jalan untuk protes. Audit pemerintah mengungkapkan bahwa Honduras masih memiliki utang lama kepada Taiwan sebesar lebih dari USD 400 juta.
Baru-baru ini Kongres Honduras menerbitkan dekrit yang mengumumkan pengawasan komprehensif terhadap semua perusahaan dalam negerinya yang terkait bisnis dengan perusahaan Tiongkok, dengan departemen bea cukai, pajak, dan imigrasi bersama-sama melakukan investigasi ketat terhadap perusahaan yang didanai Tiongkok.
Presiden baru Nasry Asfura juga memerintahkan peninjauan komprehensif terhadap semua perjanjian yang ditandatangani dengan PKT di masa lalu. Dalam sebuah wawancara, ia secara blak-blakan mengungkapkan bahwa Inisiatif Sabuk dan Jalan PKT dan apa yang disebut kerja sama, itu tak lain adalah penjarahan terhadap sumber daya Honduras dan dumping produk mereka. Honduras sedang mempertimbangkan secara serius untuk melepaskan diri dari ketergantungan PKT dan memulihkan hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan)!
Sambil membersihkan “halaman belakang” Amerika Serikat, Trump juga sering melakukan reformasi besar-besaran terhadap sistem di dalam negerinya. Baru-baru ini ia memperkenalkan rancangan undang-undang yang menurut pendapat saya, dapat berdampak setidaknya selama satu abad bagi AS—rancangan undang-undang rekonsiliasi senilai USD 350 miliar, di baliknya terdapat anggaran militer jumbo sebesar USD 1,5 triliun. Trump telah menguraikan cetak biru pemanfaatan dana besar itu: untuk membangun “armada emas” Amerika Serikat, mendominasi langit dengan pesawat tempur siluman F-47 terbaru dan pembom strategis B-21, dan mencapai dominasi penuh atas Angkatan Luar Angkasa AS dan drone.
Faktanya, bagian yang benar-benar eksplosif dari rancangan undang-undang itu adalah keterkaitannya dengan “Undang-Undang Penyelamatan Amerika Serikat” (Save America Act). Undang-undang ini mencakup beberapa ketentuan ketat: semua pemilih WN Amerika Serikat wajib menunjukkan kartu identitas diri yang berfoto dan bukti kewarganegaraan, dan melarang sebagian besar surat suara melalui pos.
Undang-undang ini juga secara eksplisit melarang pria transgender dalam gerakan perempuan dan melarang operasi penggantian kelamin untuk anak-anak. Beberapa orang mungkin ingat bahwa “Save America Act” berulang kali gagal melewati ambang batas 60 suara di Senat. Trump menggabungkannya ke dalam RUU lain sehingga akan lolos dengan hanya lebih dari 50 suara. Setelah disahkan nanti, undang-undang ini selain akan berdampak langsung pada pemilihan paruh waktu AS tetapi juga sepenuhnya menutup celah dalam pemilihan AS di masa mendatang. Mengenai “larangan surat suara melalui pos,” Trump telah diam-diam mengambil tindakan menggunakan cara eksekutif bahkan sebelum undang-undang tersebut disahkan.
United States Postal Service (USPS) belum lama ini mengeluarkan peraturan baru yang sangat berdampak: jika negara bagian ingin melakukan pemungutan suara melalui pos harus terlebih dahulu memberikan daftar lengkap semua pemilih melalui pos dan pemilih yang tidak hadir, dan setiap surat suara harus dihubungkan dengan kode batang unik yang dipersonalisasi.
Hanya setelah memverifikasi daftar dan kode batang, kantor pos baru dapat mengeluarkan daftar peserta akhir dan mengirimkannya ke petugas pemilihan. Setiap “surat suara hantu” tanpa kode batang atau tanpa penerima terdaftar akan ditolak pengirimannya! Langkah ini membuat kaum kiri khawatir, sehingga mereka meminta pengadilan untuk segera menghentikan perintah eksekutif tentang keamanan pemilu ini. Namun, pada 28 Mei tahun ini, seorang hakim federal langsung menolak permintaan dari Partai Demokrat. Dan di keesokan harinya, peraturan baru dari USPS ini dapat diimplementasikan.
Trump kini dapat lebih konsentrasi untuk menghadapi kekuatan asing setelah sebagian besar masalah domestinya dapat diatasi. Hari Senin (8 Juni), Pentagon menerbitkan daftar perusahaan industri militer Tiongkok yaitu “Daftar 1260H” yang diperluas yang isinya mencakup raksasa seperti Alibaba, Baidu, BYD, dan Tencent. dan bahkan perusahaan teknologi terkemuka seperti Unitree Robotics dan RoboSense, yang membuat robot humanoid dan berkaki empat.
Dengan adanya daftar tersebut, berarti militer AS secara hukum dilarang membeli produk dari perusahaan-perusahaan tersebut, dan larangan ini mungkin akan diperluas sampai pengadaan pihak ketiga di masa mendatang. Meskipun ini tidak menimbulkan sanksi langsung, namun tidak menutup kemungkinan akan menjadi pendahuluan bagi sanksi komprehensif di kemudian hari.
Yang lebih mengejutkan lagi, Kongres AS pun tidak tinggal diam. Komite Angkatan Bersenjata Senat dengan dukungan suara mayoritas baru saja mengesahkan Undang-Undang Keamanan Pertahanan Nasional untuk Tahun Fiskal 2027, yang secara eksplisit mencantumkan PKT sebagai anggota “Poros Agresor” (Axis of Aggressors) yang menimbulkan tantangan bagi kepentingan AS.
Rencana bernilai USD 1,15 triliun ini memiliki tujuan yang sangat jelas: untuk secara komprehensif meningkatkan kemampuan pertahanan Rantai Pulau Pertama, memberikan bantuan keamanan yang substansial kepada Taiwan, dan bahkan membangun cadangan perbekalan bagi Taiwan untuk menghadapi perang. Secara bersamaan, beberapa anggota kunci Dewan Perwakilan Rakyat AS telah bersama-sama memperkenalkan “End Hostile Patents Act” (RUU Pengakhiran Paten yang Bermusuhan).
Sebelumnya, bagi perusahaan seperti Huawei dan ZTE, yang menghadapi larangan penggunaan peralatan telekomunikasi di AS, tapi mereka masih dapat memanfaatkan paten mereka di AS untuk menghasilkan ratusan juta dolar setiap tahun melalui lisensi paten. Bahkan menuntut perusahaan AS atas pelanggaran paten. Jika RUU baru ini disahkan, maka akan secara langsung melarang pemberian paten AS kepada individu atau entitas mana pun yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Jadi, bagi perusahaan PKT yang memanfaatkan sistem hukum AS untuk menggaet keuntungan dari Warga AS, sambil menerima subsidi dari PKT untuk kegiatan penelitian dan pengembangan sudah bakal menghadapi jalan buntu. Jelas, saat ini Trump sedang dengan cermat mendefinisikan ulang aturan main antar buat kedua kekuatan besar dunia. (***)





