REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Pekan ini membawa sesuatu yang sudah lama dirindukan Asia Barat: secercah harapan. Pada 14 Juni, Amerika Serikat dan Iran menyepakati sebuah kerangka untuk mengakhiri perang di antara keduanya.
Selat Hormuz dijadwalkan kembali dibuka, pemboman terhadap Lebanon dihentikan, dan yang lebih penting daripada harga minyak adalah berhentinya pertumpahan darah.
Baca Juga
Ini yang Terjadi dalam Pemerintahan Israel Setelah Kesepakatan Damai AS dan Iran
Rakyat Israel Marah Desak Netanyahu Mundur Akibat Gagal Perangi Iran, Hamas, dan Hizbullah
Mengapa Washington dan Teheran Percepat Teken Kesepakatan Sebelum Jadwal Resmi?
Setelah lebih dari seratus hari perang yang merenggut ribuan nyawa, termasuk para petinggi Iran, serta mendorong perekonomian dunia ke tepi jurang, bahkan gencatan senjata yang rapuh sekalipun terasa seperti sinar pertama fajar.
Kita patut menyambut gencatan senjata ini, tetapi sebelum itu kita juga harus memahaminya. Untuk mengetahui mengapa perang ini pecah, dan mengapa serangkaian perang sebelumnya terjadi, kita harus menyebut penyebab yang sama di balik semuanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Penyebab itu adalah "Israel Raya"—bukan negara, melainkan sebuah gagasan, dan gagasan itu sangat mengerikan. Ide "Israel Raya" telah menjadi pemicu perang di Irak, Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran.
Konsep "Israel Raya" berangkat dari keyakinan bahwa Israel memiliki hak atas seluruh Palestina—dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania—serta sebagian wilayah negara-negara tetangga.
Menurut Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, seorang Kristen Protestan fundamentalis yang menjadikan teks-teks Alkitab dari sekitar tahun 700 sebelum Masehi sebagai pedoman geopolitiknya, "Israel Raya" membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat.
Musim panas lalu, Benjamin Netanyahu menyatakan keterikatannya yang sangat mendalam pada visi "Israel Raya" yang, menurutnya, mencakup wilayah Palestina dan kawasan Arab di sekitarnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)