Ringkasan Berita
- Kenteng dibunyikan sembilan kali saat pembukaan Munas-Konbes NU 2026.
- Kenteng berasal dari potongan bom yang tidak meledak pada masa kolonial.
- Gus Salam menjelaskan kenteng menjadi ikon khas Pesantren Al-Falah Ploso.
- Kenteng melambangkan perubahan ancaman menjadi manfaat bagi umat.
Kediri (beritajatim.com) – Dentang kenteng sebanyak sembilan kali menjadi penanda pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Sabtu (20/6/2026) malam. Di balik prosesi tersebut tersimpan sejarah panjang yang menjadi bagian dari identitas pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, menjelaskan bahwa kenteng memiliki nilai historis sekaligus filosofi yang terus diwariskan kepada para santri.
Berasal dari Bom yang Tidak Meledak
Menurut Gus Salam, kenteng merupakan ikon khas Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang memiliki kisah unik sejak masa penjajahan Belanda. Ia menuturkan bahwa di belakang kompleks pesantren pernah ditemukan bom yang dijatuhkan pasukan Belanda. Namun, bom tersebut tidak meledak.
“Dulu ceritanya ketika zaman Belanda di belakang Pondok Ploso ini pernah ada bom yang dikirim Belanda. Alhamdulillah, mungkin karena karomah para masyayikh, bom itu tidak meledak,” ujar cucu salah satu pendiri NU KH Bisri Syansuri di kediaman KH Abdurrohman Al-Kautsar (Gus Kautsar) pengasuh Pondok Al Falah Ploso, Kediri, Minggu (21/6/2026).
Setelah Indonesia merdeka, material bom tersebut ditemukan sekitar dekade 1950-an. Potongan logamnya kemudian dimodifikasi menjadi kenteng yang hingga kini digunakan sebagai penanda berbagai aktivitas pesantren.
Penanda Salat dan Waktu Mengaji
Gus Salam menjelaskan, kenteng tidak hanya digunakan dalam acara seremonial besar seperti pembukaan Munas dan Konbes NU.
Dalam kehidupan sehari-hari, suara kenteng menjadi penanda masuk waktu salat berjemaah, jadwal mengaji, hingga berbagai aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren.
“Jadi mau ngaji itu dikenteng, mau salat jamaah dikenteng. Memang kenteng itu khasnya Ploso,” katanya.
Bahkan, menurutnya, para santri dahulu kerap berebut kesempatan membunyikan kenteng karena telah menjadi tradisi yang membanggakan.
“Kami dulu sampai berebut mengenteng. Bahkan saya pernah membawa pentungannya ke kamar supaya tidak didahului teman-teman,” kenangnya.
Ikon yang Melekat bagi Alumni Ploso
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, kenteng bukan sekadar alat penanda waktu. Suara kenteng menjadi simbol yang selalu membangkitkan kenangan para alumni terhadap kehidupan di pesantren.
Menurut Gus Salam, penggunaan kenteng sebagai penanda salat dan pengajian menjadi ciri khas yang jarang ditemukan di pesantren lain di Indonesia.
“Bagi alumni Ploso, ini sangat ikonik. Identik sekali. Ini salah satu ciri khas pesantren kami,” imbuhnya.
Filosofi Mengubah Ancaman Menjadi Manfaat
Lebih dari sekadar benda bersejarah, Gus Salam menilai kenteng mengandung pesan moral yang sangat kuat.
Bom yang semula dirancang untuk membawa kehancuran justru berubah menjadi alat yang menghadirkan manfaat bagi ribuan santri selama puluhan tahun.
“Segala sesuatu itu sebenarnya netral, tinggal bagaimana kreativitas kita memanfaatkannya,” lanjutnya.
Menurutnya, kenteng mengajarkan bahwa setiap ciptaan Allah memiliki potensi kebaikan apabila dikelola dengan bijaksana.
“Kenteng yang harusnya jadi bom, yang harusnya mudarat, setelah dimodifikasi malah menjadi manfaat sebagai penanda waktu salat dan pengajian,” tambah dia.
Dibunyikan Sembilan Kali Saat Pembukaan Munas
Pada pembukaan Munas dan Konbes NU 2026, kenteng dibunyikan sebanyak sembilan kali. Jumlah tabuhan tersebut melambangkan identitas Nahdlatul Ulama yang dikenal dengan simbol bintang sembilan.
Prosesi ini menjadi pembuka rangkaian forum tertinggi kedua di lingkungan NU sebelum Muktamar.
Legenda yang Terus Dijaga
Dalam penjelasan pada pembukaan Munas, disebutkan bahwa Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pernah menjadi sasaran pemboman pada masa kolonial karena dianggap sebagai tempat bernaung para pejuang Republik.
Atas izin Allah SWT dan karomah pendiri pesantren, KH Ahmad Djazuli Utsman, bom tersebut diyakini tidak meledak. Material logamnya kemudian dimanfaatkan menjadi kenteng yang hingga kini masih digunakan.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, kenteng menjadi pengingat bahwa sesuatu yang semula membawa ancaman dapat diubah menjadi sumber manfaat. Nilai tersebut terus hidup sebagai bagian dari tradisi pesantren sekaligus menjadi simbol spiritual yang mengiringi pembukaan Munas dan Konbes NU 2026. [nm/aje]




