Pemerintah Bolivia mengambil langkah drastis untuk menghadapi krisis yang terus membesar setelah Presiden Rodrigo Paz pada Sabtu (20/6/2026) waktu setempat mengumumkan status keadaan darurat nasional. (REUTERS/Claudia Morales)
2/7Keputusan tersebut diambil setelah berminggu-minggu aksi protes antipemerintah yang dipicu kenaikan biaya hidup dan tekanan ekonomi berkembang menjadi krisis politik yang makin dalam. (REUTERS/Claudia Morales)
Penetapan keadaan darurat dilakukan di tengah blokade jalan yang meluas di berbagai wilayah negara Amerika Selatan tersebut. Aksi tersebut telah mengganggu distribusi barang-barang penting, memukul aktivitas ekonomi, dan memicu kekhawatiran akan memburuknya kondisi kemanusiaan. (REUTERS/Claudia Morales)
4/7Gelombang demonstrasi yang didukung serikat pekerja, kelompok petani, serta pendukung mantan Presiden Evo Morales kini tidak hanya menuntut perbaikan kondisi ekonomi, tetapi juga mendesak Presiden Paz untuk mengundurkan diri dari jabatannya. (REUTERS/Patricia Pinto)
Menurut data Kantor Ombudsman Bolivia, blokade jalan yang berlangsung selama sekitar 50 hari terakhir telah menyebabkan kelangkaan makanan, bahan bakar, dan pasokan medis di sejumlah wilayah negara itu. Situasi tersebut juga membuat roda perekonomian nyaris terhenti. (REUTERS/Claudia Morales)
6/7Kantor Ombudsman mencatat sedikitnya 14 orang meninggal dunia dalam periode 1 Mei hingga 15 Juni terkait gejolak yang berlangsung. (REUTERS/Claudia Morales)
7/7Bolivia saat ini menghadapi kekurangan devisa, sementara ekspor gas alam yang selama bertahun-tahun menjadi sumber utama pendapatan negara mengalami penurunan tajam. Pada saat yang sama, inflasi mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir dan pasokan bahan bakar menjadi semakin langka. (REUTERS/Claudia Morales)
Add as a preferredsource on Google




