Sejarah Piala Dunia 2018: Sensasi Mbappe Memupus Mimpi Kroasia

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Medcom.id - Piala Dunia 2018 di Rusia adalah panggung penuh kejutan di mana status tim raksasa bukan lagi jaminan untuk melangkah mudah. Jerman selaku juara bertahan langsung hancur di fase grup, sementara Spanyol dan Argentina tersingkir awal di babak 16 besar.
 
Namun, jika ada satu narasi yang membuat Piala Dunia edisi ke-21 ini begitu dicintai, itu adalah kisah kepahlawanan luar biasa dari sebuah negara kecil berpenduduk hanya 4 juta jiwa bernama Kroasia. Skuad berkaus kotak-kotak merah-putih ini datang ke Rusia bukan untuk menjadi pelengkap, melainkan untuk mengajari dunia tentang arti murni dari kegigihan, pengorbanan fisik, dan mental baja. Maraton Tiga Kali Babak Perpanjangan Waktu Langkah Kroasia di babak sistem gugur adalah potret perjuangan fisik yang paling ekstrem dalam sejarah modern Piala Dunia. Dipimpin oleh kapten sekaligus dirigen lini tengah, Luka Modrić, Kroasia harus melalui jalan terjal yang menguras habis energi mereka.
 
Mereka mencatatkan rekor sebagai tim pertama yang harus bermain hingga babak perpanjangan waktu (120 menit) dalam tiga pertandingan berturut-turut di fase gugur dan tetap keluar sebagai pemenang.

Rinciannya, dua kali menang adu penalti (3-2 vs Denmark di babak 16 besar), (4-3 atas tuan rumah Rusia di perempat final), serta kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris di babak semifinal yang harus diselesaikan lewat babak extra time.

Baca Juga :

Sejarah Piala Dunia 1998: Misteri Ronaldo, Magis Zidane dan Kartu Merah Beckham
Secara matematis, sebelum menginjakkan kaki di babak final, skuad Kroasia telah bermain selama 360 menit di fase gugur—setara dengan mengakumulasikan satu pertandingan ekstra penuh (90 menit) dibandingkan calon lawan mereka, Prancis.
 
Ditambah dengan cedera otot yang dialami barisan pemainnya, Kroasia memikat hati miliaran penonton karena mereka menolak menyerah pada rasa lelah demi membawa nama negara mereka ke puncak dunia. Lahirnya Dinasti Baru Prancis dan Roket Kilat Mbappe Di sisi lain bagan turnamen, Prancis melaju dengan sangat tenang, dingin, dan taktis di bawah asuhan pelatih Didier Deschamps. Jika Kroasia adalah simbol romansa perjuangan, maka Prancis adalah simbol mesin industri sepak bola modern yang sempurna -kokoh di belakang bersama Raphael Varane, dinamis di tengah berkat N'Golo Kante dan Paul Pogba, serta mematikan di depan.
 
Edisi 2018 menjadi panggung penobatan dunia bagi remaja ajaib berusia 19 tahun: Kylian Mbappe.

Pada babak 16 besar melawan Argentina, Mbappé mencatatkan rekor kecepatan lari kilat hingga 38 km/jam dari tengah lapangan, membelah pertahanan Argentina sebelum diganjar penalti. Di laga yang berakhir 4-3 itu, Mbappé mencetak dua gol.

Catatan tersebut menjadikannya remaja pertama yang mampu mencetak dua gol dalam satu laga Piala Dunia sejak Pelé melakukannya pada tahun 1958. Kecepatan Mbappé memberikan dimensi baru bagi taktik serangan balik Prancis yang mustahil dibendung tim mana pun sepanjang turnamen. Hujan Gol di Moskow Laga final yang digelar di Stadion Luzhniki, Moskow, menyuguhkan salah satu partai puncak paling menghibur dan kaya gol di era modern. Kroasia yang kelelahan tetap bermain terbuka dan berani menekan Prancis sejak menit pertama.
 
Namun, efektivitas taktis Prancis dan faktor fisik yang lebih bugar akhirnya menjadi pembeda. Prancis memimpin awal lewat gol bunuh diri Mario Mandžukić dan penalti Antoine Griezmann pasca-analisis VAR. Ivan Perišić sempat menyamakan skor 1-1 lewat tembakan keras.
 
Di babak kedua, Prancis menghukum kelelahan Kroasia lewat dua tembakan jarak jauh berkelas dari Paul Pogba dan Kylian Mbappé. Mandžukić sempat memperkecil skor memanfaatkan blunder kiper Hugo Lloris, namun skor akhir tetap 4-2 untuk kemenangan Prancis.

Baca Juga :

Cetak Brace Hadapi Senegal, Mbappe Pecahkan Rekor Pencetak Gol Terbanyak Timnas Prancis
Prancis keluar sebagai Juara Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Didier Deschamps mengukir rekor elite sebagai orang ketiga yang mampu memenangkan Piala Dunia sebagai pemain (1998) dan pelatih (2018), mengikuti jejak Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer.
 
Meskipun kalah di final, rasa hormat dunia sepenuhnya jatuh kepada Kroasia. Luka Modrić secara resmi dianugerahi gelar Pemain Terbaik (Golden Ball) turnamen. Foto Modrić yang tersenyum getir saat menerima trofi individual di bawah guyuran hujan lebat Moskow menjadi visual abadi edisi 2018: bahwa keindahan sepak bola tidak hanya milik mereka yang mengangkat piala, tetapi juga milik mereka yang berjuang hingga tetes darah terakhir. Fakta Piala Dunia 2018 Tuan Rumah: Rusia
Juara: Prancis (Gelar ke-2)
Runner-up: Kroasia
Top Scorer: Harry Kane (Inggris) – 6 Gol
 
Revolusi Teknologi VAR: Edisi 2018 menjadi tonggak sejarah baru karena menjadi Piala Dunia pertama yang resmi menerapkan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Kehadiran VAR mengubah drastis jalannya laga, menghasilkan rekor 29 hadiah penalti sepanjang turnamen akibat akurasi peninjauan ulang video pelanggaran.
 
Fakta Unik: Bek Prancis, Benjamin Pavard, mencetak gol terbaik turnamen lewat sepakan voli melengkung half-volley luar biasa dari luar kotak penalti ke gawang Argentina. Gol tersebut mendadak viral secara global dan melambungkan nama bek muda tersebut di panggung Eropa.
 
Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ACF)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penikaman di Mal Rusia, 1 Wanita Tewas dan 5 Orang Luka
• 20 jam laludetik.com
thumb
Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Sudah Dibuka, Target 20 Ribu Peserta
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Bung Karno dan Muhammadiyah
• 12 menit lalukumparan.com
thumb
Rano Karno: Puncak Perayaan HUT ke-499 Jakarta Digelar di Bundaran HI 27 Juni
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Wapres Gibran: Pembangunan Tidak Lagi Jawa Sentris, Tapi Indonesia Sentris
• 7 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.