Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah perlambatan ekonomi dan perubahan besar di pasar tenaga kerja global, China masih memiliki satu keunggulan dibanding banyak negara Barat, yakni tingginya tingkat partisipasi penduduk dalam dunia kerja.
Berdasarkan survei penggunaan waktu terbaru di China, lebih dari 75% penduduk berusia 18 hingga 59 tahun masih terlibat dalam berbagai bentuk pekerjaan berbayar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat (AS), yang mencatat tingkat partisipasi sekitar 56% untuk kelompok usia yang sebanding.
Temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan utama antara China dan negara-negara Barat bukan terletak pada lamanya jam kerja, melainkan pada jumlah orang yang tetap aktif bekerja.
Dalam beberapa tahun terakhir, jutaan pekerja konstruksi di China kehilangan pekerjaan akibat kemerosotan sektor properti. Di sisi lain, pekerja kantoran juga menghadapi ketidakpastian akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Meski demikian, tingkat keterlibatan masyarakat dalam dunia kerja tetap tinggi.
Survei tersebut juga menunjukkan jam kerja masyarakat China justru cenderung menurun seiring meningkatnya kemakmuran negara tersebut.
Pada survei tahun 2018, rata-rata pekerja di China menghabiskan waktu 7 jam 8 menit per hari untuk pekerjaan tetap maupun usaha keluarga. Dalam survei terbaru, angka tersebut turun menjadi 6 jam 23 menit per hari.
Bahkan, rata-rata jam kerja tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dilaporkan pekerja di AS dan Jerman.
Fenomena serupa juga terlihat di berbagai provinsi di China. Wilayah yang lebih makmur umumnya memiliki jam kerja yang lebih pendek dibandingkan daerah yang tingkat pendapatannya lebih rendah.
Beijing dan Shanghai, misalnya, tercatat memiliki rata-rata jam kerja yang lebih rendah dibandingkan banyak wilayah lain di China. Sebagai dua kota terkaya di negara tersebut, keduanya menikmati waktu luang yang lebih besar dibandingkan daerah yang masih berkembang.
Salah satu pengecualian adalah Zhejiang, provinsi yang menjadi rumah bagi kota Wenzhou dan pusat teknologi Hangzhou. Meski tergolong makmur, para pekerja di wilayah tersebut tetap mencatat jam kerja yang relatif panjang.
Tingginya partisipasi tenaga kerja ini juga terlihat dalam sistem penghargaan buruh yang rutin diberikan pemerintah China setiap tahun.
Melalui medali buruh, pemerintah memberikan penghargaan kepada pekerja yang dianggap berkontribusi besar terhadap pembangunan nasional. Namun, sistem tersebut juga mendapat sorotan karena dinilai belum sepenuhnya mencerminkan struktur pasar tenaga kerja modern China.
Daftar penerima penghargaan masih didominasi insinyur, teknisi, dan pejabat partai. Sementara itu, pekerja sektor jasa dan ekonomi gig yang kini menyerap semakin banyak tenaga kerja relatif kurang terwakili.
Meski demikian, pemerintah China terus mendorong etos kerja dan produktivitas nasional. Dalam pengumuman penghargaan tersebut, federasi serikat pekerja menyerukan agar para pekerja mengikuti teladan penerima medali dengan menunjukkan dedikasi lebih besar terhadap pekerjaan dan pembangunan nasional.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, tingginya jumlah penduduk yang tetap aktif bekerja menjadi salah satu faktor yang membedakan China dari banyak negara Barat saat ini.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd) Add as a preferredsource on Google




