Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi baru-baru ini mendorong sejumlah produsen otomotif global memutar otak.
Memanfaatkan momentum ini, beberapa merek kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) asal China mulai gencar menawarkan lini kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) maupun hybrid sebagai alternatif berkendara yang jauh lebih ramah kantong.
Chery Indonesia menjadi salah satu pabrikan yang unjuk gigi lewat teknologi hybrid andalannya, yakni Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH. Pihak Chery mengklaim kedua model tersebut menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang sangat kompetitif bagi konsumen di tanah air.
Berdasarkan hasil simulasi internal, perjalanan harian komuter pulang-pergi sejauh 40 kilometer hanya menghabiskan biaya kurang dari Rp14.000, dengan catatan kendaraan beroperasi penuh dalam mode listrik (Electric Vehicle mode).
Sementara untuk rute luar kota dengan jarak tempuh 240 kilometer, biaya energi yang dihabiskan berada di bawah Rp160.000.
Angka ini bahkan bisa ditekan hingga setengahnya jika pengemudi melakukan pengisian daya (charging) berkala di tengah perjalanan sehingga mobil sama sekali tidak menyedot bensin.
Jika diakumulasikan untuk penggunaan rata-rata 1.200 kilometer per bulan, total biaya energi Tiggo 8 CSH diperkirakan hanya menyentuh Rp568.909, sedangkan Tiggo 9 CSH jauh lebih irit di angka Rp392.199. Nominal ini jauh lebih murah dibanding mobil bensin konvensional sekelasnya yang rata-rata menembus lebih dari Rp1 juta per bulan.
"Melalui Chery Super Hybrid, kami ingin menunjukkan bahwa efisiensi dan fleksibilitas dapat berjalan beriringan. Konsumen tidak perlu memilih antara kendaraan yang hemat dan kendaraan yang mampu mendukung berbagai kebutuhan perjalanan," ujar Budi Darmawan Jantania, Vice Country Director Chery Business Unit dalam keterangan resminya.
Di segmen listrik murni, iCAR, submerek dari Chery yang fokus pada kendaraan listrik, tidak mau kalah. Mereka mengklaim penggunaan SUV listrik teranyarnya mampu memangkas pengeluaran biaya energi konsumen hingga Rp1 juta per bulan.
Melalui simulasi bertumpu pada SUV listrik semi offroad iCAR V23 tipe Y RWD, biaya pengisian daya baterai hanya memakan Rp153.000 per bulan. Angka ini mengacu pada asumsi jarak tempuh harian sejauh 30 kilometer membelah kepadatan lalu lintas perkotaan.
Sebagai perbandingan konkret, mobil bermesin bensin konvensional dengan konsumsi rata-rata 12 kilometer per liter membutuhkan modal sekitar Rp1,2 juta per bulan untuk jarak tempuh yang sama.
Product Planning Manager iCAR Indonesia, Tommy Hermansyah, menegaskan bahwa efisiensi ekstrem ini tidak memangkas esensi ketangguhan mobil bergenre SUV.
"Menariknya, penghematan tersebut dapat dinikmati tanpa harus mengorbankan hal-hal yang selama ini menjadi daya tarik sebuah SUV. Pengguna tetap mendapatkan desain yang berkarakter, posisi berkendara yang tinggi, pengalaman berkendara yang menyenangkan, hingga fleksibilitas modifikasi," pungkas Tommy.





