REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Serangan Israel ke Lebanon selatan terus berlanjut meskipun perjanjian damai antara AS dan Iran telah disepakati.
Salah satu isi kesepakatan yakni tidak boleh ada serangan ke Lebanon. Presiden AS Donald Trump juga telah meminta agar Israel tak berlebihan dalam menyerang Lebanon.
Baca Juga
Gencatan Senjata Lebanon Penentu Damai AS-Iran di Swiss, akankah Israel Hentikan Agresi?
Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
Seni Berinteraksi di Media Sosial: Membongkar Rahasia Pikiran Kita Saat Mengetik Pesan
Seorang analis pertahanan mengatakan bahwa Iran memanipulasi situasi untuk menciptakan ketegangan antara sekutu setia AS dan Israel.
“Saya pikir Iran menggunakan Lebanon sebagai alat untuk memperlebar jurang antara Israel dan Amerika Serikat – atau lebih tepatnya antara pemerintahan Netanyahu dan pemerintahan Trump,” kata Wolfgang Pusztai seperti dilansir Aljazirah, Ahad (21/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Tentu saja, Iran bermaksud untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon selatan. Tetapi Teheran, Beirut, Hizbullah, Israel, dan juga Presiden Trump tahu bahwa ini tidak terlalu realistis. Israel akan membalas jika mereka diserang.”
Menurut Pusztai, untuk saat ini, Israel akan tenang agar tidak merusak upaya Trump. Hanya saja, mereka akan tetap membalas serangan jika diperlukan.
“Dan seperti yang saya katakan, yang terpenting bagi Teheran adalah ini merupakan peluang besar bagi mereka – peluang besar untuk memecah aliansi antara Washington dan Tel Aviv," katanya menekankan.
"Dan inilah yang sedang mereka kejar saat ini.”
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)