Penjajahan terhadap Kesadaran Jadi Tantangan Generasi Muda di Era Digital

jpnn.com
12 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan PB SEMMI Muhammad Senanatha mengungkapkan, jika pada masa kolonial bangsa Indonesia menghadapi penjajahan yang tampak secara fisik, maka tantangan generasi saat ini hadir dalam bentuk yang lebih halus yakni penjajahan atas kesadaran.

Menurutnya, ledakan teknologi informasi memang membuka akses pengetahuan yang luas, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan banjir disinformasi, polarisasi sosial, dan manipulasi opini publik.

BACA JUGA: Menkomdigi Ajak Generasi Muda Lawan Kejahatan Digital & Jadi Duta Internet Sehat

"Dalam kondisi seperti ini, menjaga kesadaran bangsa menjadi sama pentingnya dengan menjaga kedaulatan negara," katanya di Jakarta, Minggu (21/6).

Karena itu, lanjut dia, Nasionalisme tidak lagi cukup dimaknai sebagai kecintaan terhadap tanah air dalam pengertian simbolik.

BACA JUGA: Bea Cukai dan Perguruan Tinggi Bersinergi Tumbuhkan Literasi Kepabeanan Generasi Muda

Nasionalisme harus hadir sebagai kesadaran untuk menjaga akal sehat publik, merawat persatuan, dan melindungi ruang kebangsaan dari informasi yang memecah belah masyarakat.

Ia mengatakan, Islam sejak awal telah memberikan panduan dalam menghadapi persoalan informasi. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan umat untuk melakukan tabayyun ketika menerima sebuah berita.

BACA JUGA: Berikan Kuliah Umum di Unsrat, Gubernur Akmil Paparkan Dinamika Politik Dunia dan Peran Strategis Generasi Muda

"Prinsip ini menegaskan bahwa memverifikasi informasi bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan sosial," kata dia.

Masalahnya, lanjut dia, di era digital informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memeriksanya.

Sering kali yang menjadi ukuran bukan lagi kebenaran, tetapi seberapa besar sebuah informasi mampu membangkitkan emosi publik.

"Akibatnya, ruang digital dipenuhi pertarungan narasi yang lebih mengedepankan sentimen daripada fakta," terangnya.

Ia mengungkapkan, fenomena ini dapat dibaca melalui pemikiran Ibn Khaldun mengenai 'ashabiyyah.

Menurutnya, kekuatan suatu bangsa bertumpu pada solidaritas sosial dan kesadaran kolektif.

"Ketika masyarakat lebih mudah terpecah oleh informasi yang belum tentu benar daripada dipersatukan oleh kepentingan bersama, maka fondasi kebangsaan sesungguhnya sedang mengalami pelemahan," ucapnya.

Ia melihat, generasi muda menjadi kelompok yang paling menentukan dalam situasi ini.

Sebagai pengguna utama teknologi digital, mereka dapat menjadi pelopor pencerahan atau justru korban manipulasi informasi.

"Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi digital harus menjadi bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda Indonesia," terang dia.

"Di sinilah peran organisasi kader seperti Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) menjadi semakin relevan," ujarnya menambahkan.

Kaderisasi, lanjut dia, tidak boleh hanya melahirkan organisator, tetapi juga membentuk kader yang mampu menjaga akal sehat publik.

Kader harus hadir sebagai pelopor literasi, persatuan, dan pendidikan masyarakat di tengah derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan.

"Pertarungan terbesar abad ini bukan lagi perebutan wilayah atau sumber daya alam, melainkan perebutan kesadaran. Kekuasaan hari ini bekerja melalui opini, persepsi, dan kemampuan memengaruhi cara berpikir masyarakat. Siapa yang mampu menguasai kesadaran generasi muda, akan memiliki pengaruh besar terhadap masa depan bangsa," jelasnya.

Karena itu menurutnya, tantangan Indonesia bukan hanya mencetak generasi yang menguasai teknologi, tetapi generasi yang memiliki keteguhan nilai, daya kritis, dan kesadaran kebangsaan. Sebab teknologi tanpa karakter hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh.

"Jika dahulu H.O.S. Tjokroaminoto dan para pendahulu bangsa berjuang melawan kolonialisme yang merampas kedaulatan tanah air, maka generasi hari ini menghadapi tugas yang berbeda: menjaga kedaulatan kesadaran bangsa. Sebab bangsa yang kehilangan wilayah masih dapat merebut kembali kemerdekaannya, tetapi bangsa yang kehilangan kesadarannya akan kehilangan kemampuan menentukan masa depannya sendiri. Di titik inilah nasionalisme menemukan makna barunya: menjaga arah, identitas, dan cita-cita Indonesia di tengah perang informasi yang semakin kompleks," pungkasnya. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Proyek Rp 12,5 Triliun, LRT Velodrome-Manggarai Ditargetkan Beroperasi Agustus 2026
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Akses Keuangan Meningkat, Warga Perbatasan Bengkayang Kini Kian Dekat dengan Rupiah
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Jawaban Dean Zandbergen Andai Ditawar Klub Super League: Nanti Kalau Aku Sudah Mau Pensiun
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Inpres Gajah Segera Terbit, Jalan Tol Wajib Punya Terowongan Satwa
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Air Mata Rano Karno di Ulang Tahun Jakarta
• 4 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.