Racik Strategi Pariwisata Era Prabowo Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah perlambatan ekonomi global, fragmentasi geopolitik, dan ketidakpastian arah perdagangan dunia, Indonesia menemukan salah satu sumber ketahanan ekonomi yang kian relevan: pariwisata.

Ketika sejumlah negara masih bergulat dengan lemahnya permintaan eksternal dan fluktuasi harga komoditas, sektor pariwisata nasional justru memperlihatkan daya tahan yang semakin kuat.

Data terbaru menunjukkan bahwa hingga April 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 4,68 juta kunjungan, naik 8,24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, devisa pariwisata pada kuartal I/2026 meningkat 6,3% secara tahunan menjadi US$4,05 miliar.

Yang menarik, pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh bertambahnya jumlah wisatawan, tetapi juga oleh meningkatnya kualitas belanja mereka. Rata-rata pengeluaran wisman mencapai US$1.345,61 per kunjungan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata Indonesia sedang mengalami transformasi. Pemerintah tidak lagi sekadar mengejar kuantitas kunjungan, melainkan mulai mengarahkan sektor ini menjadi penghasil nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa melihat capaian hingga April 2026 sebagai sinyal bahwa fondasi sektor pariwisata nasional semakin kuat.

Baca Juga

  • Bakom Ungkap Perputaran Ekonomi dari 38 Event Pariwisata Capai Rp86 Miliar
  • Qodari: Turis Asing Makin Banyak Belanja di Indonesia, Devisa Pariwisata Tumbuh 6,3%
  • The Heritage Classic & Retro Festival Dorong Ekosistem Otomotif Klasik dan Pariwisata Lembang

Menurutnya, pertumbuhan kunjungan wisatawan dan peningkatan belanja per wisatawan menunjukkan bahwa Indonesia mulai berhasil menggeser orientasi pembangunan pariwisata dari sekadar volume menuju kualitas.

“Devisa pariwisata pada kuartal I/2026 mencapai US$4,05 miliar atau meningkat 6,3 persen secara tahunan. Yang juga menggembirakan, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara meningkat menjadi US$1.345,61 per kunjungan. Ini menunjukkan bahwa yang meningkat bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas belanja wisatawan yang datang ke Indonesia," kata Ni Luh kepada Bisnis, Jumat (19/6/2026).

Kondisi tersebut terjadi ketika perekonomian dunia masih dibayangi berbagai risiko. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam pembaruan World Economic Outlook 2026 masih memperingatkan adanya perlambatan perdagangan global akibat tensi geopolitik dan fragmentasi ekonomi internasional. Sementara itu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga mencatat bahwa sektor jasa, termasuk pariwisata, menjadi salah satu penopang utama pemulihan ekonomi di banyak negara.

Bagi Indonesia, momentum ini menjadi penting karena sektor pariwisata memiliki kemampuan unik dalam menghasilkan devisa tanpa harus bergantung pada ekspor komoditas mentah.

Meski demikian, Ni Luh menekankan bahwa pemerintah menyadari tantangan yang dihadapi masih besar.

Kesadaran atas tantangan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyusun serangkaian strategi yang diarahkan menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.

Strategi pertama yang ditempuh pemerintah adalah diversifikasi pasar wisatawan mancanegara.

"Pertama, melakukan diversifikasi pasar wisatawan mancanegara. Kami memperkuat promosi dan kerja sama pemasaran pada pasar-pasar yang terbukti resilien dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi seperti Australia, Malaysia, Singapura, Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan," katanya.

Langkah ini tidak sekadar soal pemasaran destinasi. Diversifikasi pasar pada dasarnya merupakan strategi mitigasi risiko ekonomi.

Ketika salah satu negara mengalami perlambatan ekonomi atau pembatasan perjalanan, Indonesia masih memiliki sumber wisatawan dari negara lain. Strategi tersebut juga sejalan dengan tren global yang menunjukkan peningkatan mobilitas wisatawan regional.

Bergeser Menuju Quality Tourism

Strategi kedua pemerintah adalah mempercepat transformasi menuju quality tourism.

Selama bertahun-tahun keberhasilan sektor pariwisata sering diukur dari jumlah kunjungan wisatawan. Namun pendekatan tersebut mulai berubah.

"Fokus kami tidak lagi semata-mata mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan," kata Ni Luh.

Perubahan paradigma ini sangat penting karena jumlah wisatawan yang besar tidak selalu menghasilkan manfaat ekonomi yang optimal jika lama tinggal dan tingkat belanjanya rendah.

Oleh karena itu pemerintah menitikberatkan perhatian pada tiga indikator utama yaitu peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay), peningkatan pengeluaran wisatawan (spending), serta penyebaran kunjungan ke lebih banyak destinasi.

“Peningkatan rata-rata belanja wisatawan menjadi US$1.345,61 per kunjungan merupakan sinyal positif bahwa strategi ini mulai menunjukkan hasil,” ucapnya.

Pendekatan quality tourism juga sejalan dengan praktik terbaik berbagai destinasi dunia seperti Jepang, Selandia Baru, dan Swiss yang lebih menekankan nilai ekonomi per wisatawan dibandingkan mengejar volume semata.

Dari perspektif ekonomi, pendekatan ini lebih berkelanjutan karena mampu meningkatkan pendapatan daerah tanpa menambah tekanan berlebihan terhadap lingkungan dan infrastruktur destinasi.

Tak hanya itu, Ni Luh menekankan bahwa perubahan perilaku wisatawan global menjadi alasan lain di balik transformasi tersebut. Saat ini wisatawan semakin mencari pengalaman yang personal, autentik, dan bermakna.

Oleh karena itu pemerintah mengarahkan pengembangan produk wisata ke berbagai segmen bernilai tambah tinggi.

"Oleh karena itu, kami memperkuat pengembangan wisata berbasis budaya (cultural immersion), wisata bahari, gastronomi, wellness tourism, nature and adventure tourism, serta desa wisata," imbuhnya.

Bagi Indonesia, tren ini merupakan peluang besar. Negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan kelompok etnis memiliki modal budaya serta sumber daya alam yang sulit ditandingi banyak negara.

Pilar berikutnya adalah pengembangan event. Ni Luh menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah semakin menempatkan event sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah.

Melalui berbagai agenda nasional dan internasional, pemerintah berupaya menciptakan alasan bagi wisatawan untuk berkunjung sepanjang tahun. Konsep ini penting karena mampu mengatasi persoalan musiman yang selama ini menjadi tantangan sektor pariwisata.

Di berbagai daerah, penyelenggaraan festival budaya, konser musik, sport tourism, hingga pertemuan bisnis terbukti memberikan dampak ekonomi langsung yang signifikan terhadap hotel, restoran, transportasi, dan pelaku UMKM.

Membawa Devisa hingga ke Desa

Lebih lanjut, Ni Luh melanjutkan strategi lainnya pemerintah juga berupaya memastikan manfaat ekonomi pariwisata tidak terkonsentrasi pada destinasi utama.

Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan desa wisata, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Pendekatan ini menjadi krusial karena salah satu kritik terbesar terhadap industri pariwisata adalah tingginya kebocoran ekonomi ketika sebagian besar belanja wisatawan justru mengalir ke pelaku usaha besar atau produk impor.

Pada akhirnya, tujuan besar yang ingin dicapai pemerintah adalah transformasi sektor pariwisata menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang lebih inklusif.

"Dengan strategi tersebut, kami optimistis pariwisata Indonesia dapat terus tumbuh secara berkelanjutan hingga akhir tahun 2026. Yang terpenting, pertumbuhan tersebut tidak hanya menghasilkan lebih banyak wisatawan dan devisa, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat, daerah, dan perekonomian nasional. Inilah esensi transformasi pariwisata Indonesia menuju pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat," tandas Ni Luh.

Pertumbuhan Pariwisata

Optimisme pemerintah mendapat dukungan dari data yang dipaparkan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari. Menurutnya, tren pertumbuhan yang terjadi sepanjang awal 2026 menunjukkan bahwa sektor pariwisata Indonesia berhasil mempertahankan momentum positif.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan jumlah kunjungan wisman Januari-April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan, meningkat dibandingkan 4,33 juta kunjungan pada periode yang sama tahun lalu.

Menariknya, pertumbuhan tersebut terjadi ketika banyak negara masih menghadapi tekanan ekonomi.

"Pertumbuhan ini tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi dunia. Didukung oleh strategi pemasaran yang adaptif melalui optimalisasi pasar jarak dekat dan menengah," ujar Qodari.

Qodari juga menyoroti peningkatan belanja wisatawan asing. Rata-rata pengeluaran wisman pada triwulan I/2026 mencapai US$1.345,61 per kunjungan, naik 5,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1.277,17.

Kombinasi antara kenaikan jumlah wisatawan dan peningkatan belanja inilah yang mendorong lonjakan devisa. Kementerian Pariwisata mencatat devisa pariwisata kuartal I/2026 mencapai US$4,05 miliar atau sekitar Rp68,28 triliun, naik dari US$3,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Qodari, angka tersebut menegaskan posisi strategis pariwisata dalam struktur ekonomi nasional.

Kondusifitas yang Buat Wisatawan Datang

Di lapangan, pelaku usaha melihat keberhasilan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Sekretaris Jenderal ASITA Budijanto Ardiansjah menilai ada beberapa faktor utama yang membuat minat wisatawan tetap terjaga.

"Di tengah situasi geo politik yang tidak menentu saat ini faktor kondusifitas dan tersedianya layanan transportasi udara yang aman dan nyaman menjadi faktor yang paling mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke suatu kawasan," kata Budijanto.

Keamanan menjadi faktor fundamental dalam industri pariwisata global. Berbagai studi UN Tourism menunjukkan bahwa persepsi keamanan sering kali menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan destinasi.

Selain itu, konektivitas udara tetap menjadi urat nadi industri wisata.

"Selain tentu aja selalu ada promosi destinasi baru dikawasan tersebut serta tersedianya fasilitas yang memadai dengan harga yang bersaing," katanya.

Meskipun optimisme menguat, tetapi industri masih menghadapi persoalan klasik. Budijanto menyoroti tingginya harga tiket pesawat domestik yang hingga kini masih menjadi keluhan pelaku usaha.

"Tingginya harga tiket domestik memmang maish menjadi salah satu kendala bagi pariwisata terutama bagi domestic traveller padahal pariwisata domestik inilah yang diharapkan bisa mengisi okupansi diluar jadwal musim liburan," ujarnya.

Persoalan ini penting karena wisatawan domestik merupakan penyangga utama permintaan di luar musim puncak. Ketika harga tiket tinggi, frekuensi perjalanan masyarakat cenderung menurun sehingga tingkat okupansi hotel dan aktivitas ekonomi daerah ikut terdampak. Oleh karena itu industri berharap dukungan kebijakan pemerintah.

Di luar angka kunjungan dan okupansi hotel, pertanyaan yang lebih besar adalah seberapa penting sektor pariwisata bagi perekonomian nasional. Pengamat pariwisata Politeknik Sahid FX Setiyo Wibowo menilai kenaikan devisa 6,3% memberikan dampak yang signifikan terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.

Menurutnya, penerimaan devisa sebesar US$4,05 miliar memperkuat neraca jasa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap ekspor komoditas. Agar dampaknya semakin besar terhadap lapangan kerja dan pendapatan daerah, Setiyo menilai terdapat sejumlah agenda yang harus diprioritaskan.

Pertama, penguatan konektivitas dan infrastruktur destinasi melalui peningkatan akses transportasi, kualitas bandara, pelabuhan, dan infrastruktur digital. Kedua, memperkuat quality tourism melalui peningkatan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan.

Ketiga, memperdalam keterkaitan antara pariwisata dan UMKM sehingga belanja wisatawan semakin banyak terserap oleh produk lokal.

Keempat, memperluas diversifikasi produk wisata mulai dari budaya, gastronomi, wellness tourism, sport tourism, MICE, hingga desa wisata.

Kelima, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, sertifikasi, dan pelatihan tenaga kerja.

“Seluruh agenda tersebut pada dasarnya memperlihatkan satu hal masa depan pariwisata Indonesia tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah orang yang datang, tetapi oleh seberapa besar nilai ekonomi yang tercipta dari setiap perjalanan, ujarnya.

Apalagi, dia melanjutkan bahwa di tengah dunia yang semakin tidak pasti, sektor ini menawarkan alternatif yang semakin menjanjikan. Devisa US$4,05 miliar mungkin belum mampu menggantikan ekspor batu bara, nikel, atau minyak sawit. Namun pariwisata menghadirkan sesuatu yang berbeda: pertumbuhan yang lebih tersebar, lebih padat karya, dan lebih dekat dengan masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ditinggal ke Perayaan Ulang Tahun Tetangga, Rumah Mewah di Gorontalo Hangus Terbakar
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
AS Sempat Tolak Udang RI, Kini KKP Punya Lab Uji Radioaktif Pertama di Asean
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kata PLN soal Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa: Kendala Teknis di Dua Pembangkit Besar
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Dokter Tifa Tak Ditahan! Ucapkan Terima Kasih ke Presiden Prabowo: Keadilan Tidak Mati
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya: Berhentilah Memuji Ketegaran Anak Broken Home
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.