Harga Minyak Kembali ke US$80 per Barel Usai Kesepakatan Damai AS-Iran Goyah

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (22/6/2026) setelah mediator Qatar dan Pakistan mengungkapkan bahwa pejabat Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati peta jalan (roadmap) untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Melansir CNBC International, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Agustus sempat menguat pada awal perdagangan. Namun, kemudian berbalik turun 0,38% menjadi US$80,26 per barel. 

Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli memangkas sebagian kenaikan awal yang sempat mencapai 3% dan tercatat masih menguat sekitar 1% ke level US$77,52 per barel.

Dalam pernyataan bersama usai perundingan di resor Bürgenstock, Swiss, kedua mediator menyatakan bahwa para pihak akan melanjutkan negosiasi teknis sepanjang pekan ini serta membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.

Perkembangan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan itu memicu kekhawatiran mengenai keberlangsungan perjanjian damai sementara yang rapuh dan baru dicapai pekan lalu.

Trump menyampaikan peringatan tersebut pada Minggu (21/6/2026) waktu setempat, saat Wakil Presiden AS JD Vance bertemu dengan pejabat Iran di Swiss. 

Baca Juga

  • Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$80 per Barel Usai AS-Iran Sepakat Damai
  • Ramalan Fitch Soal Harga Minyak jika Selat Hormuz Dibuka
  • Prabowo Optimistis Ekonomi Menguat, Harga Minyak Turun Jadi Sentimen Positif

Pertemuan itu dibayangi oleh pengumuman Teheran yang menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi pengiriman minyak dunia.

Perundingan di Bürgenstock menjadi negosiasi pertama sejak Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) pekan lalu untuk mengakhiri konflik serta memperpanjang gencatan senjata yang masih rentan selama sedikitnya 60 hari.

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan di kawasan, termasuk di Lebanon. Namun, Iran menuduh Washington gagal menjamin pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon dan menegaskan bahwa pembahasan kali ini hanya berfokus pada implementasi nota kesepahaman, bukan isu yang lebih luas seperti program nuklirnya.

Menurut analis Quantum Strategy David Roche, pasokan minyak Timur Tengah saat ini hampir kembali ke level sebelum perang jika memperhitungkan minyak mentah yang tersimpan di fasilitas penyimpanan maupun di atas kapal tanker.

Meski demikian, dalam laporannya pada Senin, Roche memperingatkan bahwa melimpahnya pasokan saat ini lebih banyak disebabkan oleh pelepasan persediaan (inventory liquidation) ketimbang pemulihan produksi. Kondisi tersebut membuat pasar tetap rentan terhadap gangguan pasokan setelah stok yang ada mulai menipis.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai bahwa apabila gangguan pasokan berlangsung dalam jangka panjang, kondisi itu justru dapat mempercepat transisi menuju kendaraan listrik. 

Percepatan adopsi kendaraan listrik berpotensi mengurangi permintaan minyak mentah dalam jangka panjang dan meningkatkan risiko pelemahan harga minyak.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seskab: Presiden Terima Menteri Rosan di Kertanegara, Bahas Transformasi BUMN
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Sarwendah Disebut Rugi Hingga Rp20 Miliar Imbas Konflik dengan Ruben Onsu
• 6 jam lalucumicumi.com
thumb
Lionel Messi Kembali Jadi Sorotan Utama Jelang Laga Argentina Kontra Austria di Piala Dunia 2026
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Jadi Responden Sensus Ekonomi 2026, Dedi Mulyadi Akui Punya Usaha Pertanian, Peternakan hingga Content Creator
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Foto: Mengintip JPO Penghubung Ancol dan JIS
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.