Jakarta, VIVA – Delegasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melakukan kunjungan kerja ke China dalam upaya untuk meningkatkan nilai perdagangan dan investasi kedua negara.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, dia akan menghadiri sejumlah acara yaitu China International Supply Chain Expo dan APEC CEO Forum di Beijing, Summer Davos 2026 di Dalian maupun pertemuan dengan mitra lainnya.
"Target kami ke sini pertama, bagaimana agar membantu 'trade' Indonesia-China bertambah. Tadi disampaikan kalau perdagangan Indonesia-China US$168 miliar tapi masih di bawah Malaysia dan Vietnam, kalau bisa ditambah kan bagus," kata Anindya di KBRI Beijing, dikutip, Senin, 22 Juni 2026.
Anin, sapaan akrab Anindya, mengungkapkan, nilai perdagangan Indonesia dan China mencapai US$167,48 miliar pada 2025, dengan peningkatan ekspor Indonesia sebesar 16,7 persen. Sedangkan dengan Hong Kong, nilai perdagangan Indonesia adalah sekitar US$6 miliar. Sehingga bila digabung antara China dan Hong Kong totalnya menjadi US$173 miliar.
Namun jumlah itu masih di bawah Malaysia yang mencapai US$191,66 miliar dan Vietnam di posisi pertama sebagai mitra dagang China di ASEAN dengan nilai US$296,14 miliar.
"Ketika kita bicara perdagangan itu kan bukan hanya yang besar-besar saja, memang 'the big three' itu kan adalah kelapa sawit, batubara dan baja, tapi dibalik dari situ kan banyak sekali yang volumenya lebih kecil," tambah Anin.
Target kedua Kadin Indonesia datang adalah meningkatkan investasi dari China ke Tanah Air. "Karena Indonesia butuh investasi untuk (pertumbuhan ekonomi) bisa mencapai 8 persen termasuk menciptakan lapangan kerja, jadi benar-benar tujuannya adalah meningkatkan angka baik 'trade' maupun 'investment'," ungkap Anin.
Selain itu, Anin mengaku Kadin Indonesia ingin belajar dari para mitra di China agar usaha lebih berdaya tahan, transparan, terbuka, dan berkelanjutan. "Sehingga ada 'transfer knowledge' juga dalam pertemuan-pertemuan kami," tambah Anin.
Sejumlah bidang yang dapat menjadi prioritas investasi bagi para pelaku usaha China untuk masuk ke Indonesia, menurut Anin, adalah pertama, transisi energi. "Indonesia memiliki banyak sumber energi baik batu bara, minyak dan gas, maupun mineral kritis. Jadi, sektor ini tetap akan menjadi tempat bagi perusahaan-perusahaan China untuk berinvestasi, bukan hanya dalam bentuk pendanaan dan hilirisasi, tetapi juga dalam teknologi untuk manufaktur lanjutan bahkan kecerdasan buatan," jelas Anin.





