Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Senin (22/6) di zona merah. Berdasarkan data Stockbit, indeks komposit tergelincir 1,25% dan parkir di level 6.099,93. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,62 triliun dengan volume 13,43 miliar saham dan frekuensi 1,11 juta kali.
Top GainersEMDE (Megapolitan Developments) naik 16 poin (28,07%) ke 73
ZONE (Mega Perintis) naik 135 poin (24,77%) ke 680
HDFA (Radana Bhaskara Finance) naik 17 poin (20,24%) ke 101
DPUM (Dua Putra Utama Makmur) naik 20 poin (19,05%) ke 125
MLPT (Multipolar Technology) naik 2600 poin (15,93%) ke 18.925
GMTD (Gowa Makassar Tourism Development) turun 175 poin (12,64%) ke 1.210
BINA (Bank Ina Perdana) turun 400 poin (11,11%) ke 3.200
SMMT (Golden Eagle Energy) turun 225 poin (10,47%) ke 1.925
LUCY (Lima Dua Lima Tiga) turun 150 poin (9,97%) ke 1.355
UDNG (Agro Bahari Nusantara) turun 180 poin (9,60%) ke 1.695
DSSA (Dian Swastatika Sentosa) senilai Rp 957,13 miliar
BBCA (Bank Central Asia) senilai Rp 634,68 miliar
TPIA (Chandra Asri Pacific) senilai Rp 591,84 miliar
BBRI (Bank Rakyat Indonesia (Persero) senilai Rp 389,47 miliar
ANTM (Aneka Tambang) senilai Rp 321,85 miliar
BUMI (Bumi Resources) sebanyak 13,30 juta lembar
DSSA (Dian Swastatika Sentosa) sebanyak 11,28 juta lembar
KOTA (DMS Propertindo) sebanyak 5,87 juta lembar
SDMU (Sidomulyo Selaras) sebanyak 4,05 juta lembar
ESIP (Sinergi Inti Plastindo) sebanyak 3,71 juta lembar
Pergerakan bursa di kawasan Asia terpantau bervariasi pada siang ini. Dihimpun dari data Stockbit dan Yahoo Finance, berikut pergerakannya:
Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 1,72% ke 72.474,22
Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 0,98% ke 23.690,86
Indeks SSE Composite di China naik 0,18% ke 4.098,01
Indeks Straits Times di Singapura turun 0,18% ke 5.183,57
Di pasar valuta asing, rupiah juga tertekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 25 poin (0,14 persen) ke Rp 17.829 per dolar AS.
Investor Was-was, Picu Tekanan Aksi JualChief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Mydral Gunarto, mengatakan anjloknya IHSG hari ini merupakan konsekuensi dari pertama kembali memanasnya tensi geopolitik, terutama terkait dengan perkembangan antara Iran dengan Amerika Serikat yang mana genjatan senjata ataupun juga proses perdamaian.
"Jadi penuh dengan ketidakpastian," katanya kepada kumparan.
Menurut dia, situasi tersebut mendorong investor menerapkan strategi risk averse terhadap aset-aset di negara berkembang. Selain itu, pasar juga masih merespons perkembangan terbaru terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi acuan banyak investor asing dalam menentukan alokasi investasi.
Sentimen eksternal tersebut membuat arus dana asing cenderung lebih berhati-hati sehingga menekan pergerakan indeks domestik sepanjang perdagangan.
Myrdal menilai pelemahan IHSG masih tergolong wajar mengingat pasar menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan sentimen terkait evaluasi indeks global.
“Mungkin itu aja sih jadi kalau selama selat hormuz ditutup lagi kondisi geopolitik memanas lagi terus juga kita ada faktor terkait dengan MSCI sisa-sisa yang kemarin jadi ya wajar kalau IHSG nya negatif sih,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar global dan domestik saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 serta proses peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell.
“Para pelaku pasar global dan domestik cenderung menahan diri atau wait and see menjelang agenda penting pekan ini, yaitu MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026, serta peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell. Ketidakpastian hasil tinjauan ini membuat volatilitas pasar meningkat dalam jangka pendek,” kata Nafan.
Menurut dia, ketidakpastian terkait hasil evaluasi MSCI dan FTSE Russell membuat investor memilih menunggu kejelasan sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko. Kondisi tersebut turut membebani pergerakan IHSG yang sudah tertekan oleh meningkatnya risiko geopolitik global.





