IHSG Sesi I Anjlok 1,25% ke 6.099, Pasar Was-was soal Perang dan Agenda MSCI

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Senin (22/6) di zona merah. Berdasarkan data Stockbit, indeks komposit tergelincir 1,25% dan parkir di level 6.099,93. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,62 triliun dengan volume 13,43 miliar saham dan frekuensi 1,11 juta kali.

Top GainersTop LosersTop ValueTop VolumeBursa Asia

Pergerakan bursa di kawasan Asia terpantau bervariasi pada siang ini. Dihimpun dari data Stockbit dan Yahoo Finance, berikut pergerakannya:

Di pasar valuta asing, rupiah juga tertekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 25 poin (0,14 persen) ke Rp 17.829 per dolar AS.

Investor Was-was, Picu Tekanan Aksi Jual

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Mydral Gunarto, mengatakan anjloknya IHSG hari ini merupakan konsekuensi dari pertama kembali memanasnya tensi geopolitik, terutama terkait dengan perkembangan antara Iran dengan Amerika Serikat yang mana genjatan senjata ataupun juga proses perdamaian.

"Jadi penuh dengan ketidakpastian," katanya kepada kumparan.

Menurut dia, situasi tersebut mendorong investor menerapkan strategi risk averse terhadap aset-aset di negara berkembang. Selain itu, pasar juga masih merespons perkembangan terbaru terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi acuan banyak investor asing dalam menentukan alokasi investasi.

Sentimen eksternal tersebut membuat arus dana asing cenderung lebih berhati-hati sehingga menekan pergerakan indeks domestik sepanjang perdagangan.

Myrdal menilai pelemahan IHSG masih tergolong wajar mengingat pasar menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan sentimen terkait evaluasi indeks global.

“Mungkin itu aja sih jadi kalau selama selat hormuz ditutup lagi kondisi geopolitik memanas lagi terus juga kita ada faktor terkait dengan MSCI sisa-sisa yang kemarin jadi ya wajar kalau IHSG nya negatif sih,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar global dan domestik saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang pengumuman MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 serta proses peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell.

“Para pelaku pasar global dan domestik cenderung menahan diri atau wait and see menjelang agenda penting pekan ini, yaitu MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026, serta peninjauan ulang atau rebalancing indeks FTSE Russell. Ketidakpastian hasil tinjauan ini membuat volatilitas pasar meningkat dalam jangka pendek,” kata Nafan.

Menurut dia, ketidakpastian terkait hasil evaluasi MSCI dan FTSE Russell membuat investor memilih menunggu kejelasan sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko. Kondisi tersebut turut membebani pergerakan IHSG yang sudah tertekan oleh meningkatnya risiko geopolitik global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Disentil Ruben Onsu Gegara Anaknya Ikut Live, Brand Mie Instan Ini Bantah Jadikan Sarwendah dan Giorgio Antonio Brand Ambassador
• 9 jam lalugrid.id
thumb
DPRD Surabaya Dorong Kampung Pancasila Jadi Solusi Persoalan Sampah
• 2 jam laludetik.com
thumb
Pabrik Sandal di Tangerang Terbakar, Asap Hitam Membubung
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Biaya Operasional Mobil Listrik, Mulai dari Rp158 per kilometer
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
HUT Jakarta, Pramono Ungkap Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59%
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.