Apa mimpi anak-anak di permukiman padat penduduk Jakarta, seperti Tambora? Tidak muluk-muluk. Mereka ingin punya ruang sebagai wadah bermain hingga mengekspresikan diri semisal Liga Akamsi.
Tambora terletak di Jakarta Barat. Wilayah ini termasuk salah satu kawasan padat penduduk. Sebanyak 258.155 jiwa bermukim di area seluas 5,4 km persegi sehingga tingkat kepadatannya mencapai 47.683 jiwa per km persegi (Kecamatan Tambora Dalam Angka 2025, BPS Jakarta Barat).
Kepadatan itu berdampak pada banyak hal. Satu di antaranya adalah keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH), seperti taman, lapangan, dan fasilitas publik sejenis.
Tak heran ajang Liga Akamsi, rangkaian pertandingan sepak bola mini disambut antusiasme. Warga bahkan secara swadaya menyukseskan hajatan tersebut.
Mereka menyulap jalan di salah satu gang menjadi lapangan. Aksesnya dibatasi selama pertandingan berlangsung sesuai kesepakatan bersama.
Partai puncak berlangsung meriah pada Minggu (21/6/2026). Sorak-sorai warga untuk sejenak menggantikan bising lalu lalang kendaraan.
Dua bocah, Gendis dan Rifki kompak mengatakan senang. Sukacita bertambah lantaran Gendis dan timnya keluar sebagai pemenang. Mereka membawa pulang piala dan uang Rp 3 juta.
"Senang, pokoknya senang. Semoga ada lagi tahun depan," ujar Gendis.
Rifki juga mengharapkan hal yang sama. Ia dan teman-teman membutuhkan ruang ekspresi di tengah kepadatan Tambora.
"Nggak muluk-muluk jadi pesepakbola profesional. Saya pingin ada lagi turnamen kayak gini," kata Rifki semringah.
Jalanan lokasi pertandingan Liga Akamsi penuh sesak oleh warga. Anak-anak, muda-mudi, hingga warga lanjut usia tumpah ruah mendukung tim jagoan mereka.
Suasana tambah meriah dengan iringan tabuhan drum dan yel-yel. Spanduk-spanduk dukungan pun melengkapi suasana seolah pertandingan yang berlangsung adalah sepak bola profesional di stadion.
”Dari gang kecil untuk mimpi yang besar” dan ”Sepak bola menjadi alat perjuangan di tengah krisisnya harapan”. Demikian pesan di antara deretan spanduk.
Toisah (52), warga Tambora duduk sejenak setelah berteriak menyemangati anak-anak. Air mukanya cerah karena warga kompak, permukiman padat itu meriah, dan anak-anak tampak bahagia.
"Anak-anak di sini jadi ada kegiatan. Nggak cuma ramai saja. Mereka (anak-anak) semangat main bola daripada tawuran," tutur Toisah.
Ucapan Toisah beralasan. Tawuran kerap terjadi di Tambora dan sekitarnya karena kurangnya ruang ataupun wadah untuk anak-anak menyalurkan minat dan bakat.
"Kegiatan kayak begini positif. Di sini, kan padat, terus anak-anak ruang mainnya terbatas. Jadilah tawuran, kepancing kalau ada ribut-ribut, meresahkan, dan rugikan banyak orang juga," kata Toisah.
Ketua Karang Taruna Unit 5 RW 005 Kelurahan Jembatan Lima, Tambora, Muhammad Fikri Hidayat menyampaikan hal serupa. Sebagian peserta Liga Akamasi adalah anak-anak dari RT yang kerap tawuran.
Sepak bola, lanjut Fikri yang kerap disapa Ojon, menyatukan mereka. Muncul pula tenggang rasa untuk menjaga kampung sendiri daripada melakukan kegiatan negatif, seperti tawuran.
Saya pingin ada lagi turnamen kayak gini.
Penggagas Liga Akamsi, Firqi Hidayatulah puas dengan hasil ajang tersebut di Tambora. Apalagi, Pemprov Jakarta melirik inisiatif warga dengan kehadiran perwakilan Balai Kota, Pemkot Jakarta Barat, dan dinas terkait.
"Semua kumpul di sini menyaksikan pertandingan yang sederhana tapi jadi momen yang sangat mahal. Ini tidak bisa dibayar dengan apapun," ucap Kiwil begitu Firqi disapa.
Kiwil menekankan hal tersebut karena warga berkumpul tanpa memandang suku, agama, dan ras. Mereka punya satu tujuan untuk menyuarakan kebutuhan lingkungannya.
"Ke depannya Liga Akamsi ini akan keliling. Setelah di sini, mungkin ke Muara Angke yang sama-sama padat," ujar Kiwil.
Kiwil berencana agar Liga Akamsi tak sekadar ajang keliling. Bibit-bibit unggul akan dilatih secara khusus ala akademi sepakbola.
Mimpi sederhana warga Tambora mewakili harapan warga Jakarta pada umumnya. Warga butuh tambahan ruang terbuka sebagaimana kota layak huni yang kerap dilontarkan Pemprov Jakarta.
Dalam peringatan hari ulang tahun Jakarta ke-499 di Monumen Nasional pada Senin (22/6/2026), Gubernur Jakarta, Pramono Anung menekankan hari jadi bukan sekadar momentum untuk mengenang perjalanan sejarah.
Lebih jauh lagi adalah pijakan untuk menyiapkan masa depan kota yang lebih maju dan berkelanjutan. Jakarta sedang berdiri di gerbang menuju usia lima abad dengan tanggung jawab memastikan kesiapan menghadapi masa depan sebagai kota global yang tetap berpihak kepada warga.
Pramono menambahkan, keberhasilan pembangunan diukur dari manfaat yang dirasakan langsung oleh warga. Artinya, harus terus memastikan layanan dasar dan program pembangunan mampu menjawab kebutuhan warga.
“Pembangunan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari warga. Pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, bantuan sosial, dan transportasi publik tetap menjadi prioritas agar manfaat pembangunan tidak hanya terlihat dalam data, tetapi juga dirasakan masyarakat,” kata Pramono.
Jakarta, lanjut Politisi PDI Perjuangan itu menghadapi realita perkotaan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, pengelolaan sampah, banjir, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih perlu direspons melalui pembangunan yang fokus pada peningkatan kualitas hidup warga.
Pembangunan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.
Respons yang tepat sangat menentukan arah Jakarta. Apakah dapat tumbuh menjadi kota yang maju secara ekonomi, kuat secara sosial, serta nyaman ditinggali oleh seluruh lapisan masyarakat di tengah persaingan global atau tidak.
“Kita berharap Jakarta menjadi kota yang maju secara ekonomi, kuat secara sosial, dan nyaman ditinggali. Kota yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas, budaya, dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan Jakarta,” ucap Pramono.





