JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) berbenah secara internal terlebih dahulu sebelum membuka titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru.
Zulhas, sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa ada begitu banyak masalah di BGN yang harus dibenahi.
"Ini masalahnya banyak sekali di BGN itu. Jadi sekarang internal dulu dibenahi," kata Zulkifli Hasan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Zulhas mencontohkan, salah satu masalahnya adalah kasus siswa yang keracunan seusai menyantap MBG.
Baca juga: Zulhas Ungkap Dugaan Jual Beli Titik SPPG: Dari 21.000 Jadi 27.000 Dapur MBG
Ketua umum Partai Amanat Nasional ini menegaskan, BGN harus menjamin tidak ada lagi kasus keracunan MBG di masa depan.
"Walaupun ini persoalan satu atau dua anak kita, enggak boleh terjadi keracunan lagi. Kalau ini sudah diperbaiki, nanti lebih lanjut baru akan kita lanjutkan," ungkap dia.
Zulhas meminta agar masalah-masalah itu diselesaikan lebih dulu sebelum kembali membuka SPPG baru.
"Yang lain yang baru-baru setop dulu. Fokus kepada misalnya ya, yang enggak perlu ya enggak usah. Sekolah-sekolah yang bagus memang enggak perlu ya enggak usah," ucap dia.
Baca juga: Akui Ada Masalah di MBG, Zulhas Minta Waktu Sebulan untuk Berbenah
Jumlah SPPG membengkak
Sebelumnya, Zulhas melaporkan jumlah SPPG atau dapur MBG membengkak sebanyak 6.877 titik lebih banyak dari yang direncanakan.
"Terjadi jual beli titik ya, yang seharusnya rencana awal titik itu 21.000 tapi sekarang sudah ada 27.000, eh 27.877 ribu titik. Nah, ada membengkak 6.877 titik. Laporan Ibu Nanik tadi barusan," kata Zulhas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).
Zulkifli menyebut adanya pembengkakan SPPG tersebut menyebabkan pemborosan anggaran untuk insentif dapur SPPG diperkirakan lebih dari Rp 1 triliun per bulan.
"Berarti kalau 1 tahun berapa itu, Rp 12 triliun. Nah ini, maka perlu penataan untuk ditata agar bisa diperbaiki dan diselesaikan," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang