JAKARTA, KOMPAS.com - Klaim Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait meluasnya konektivitas Jabodetabek melalui layanan Transjabodetabek dinilai belum cukup kuat untuk mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan kendaraan pribadi.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang menegaskan, masyarakat tetap akan bergantung pada kendaraan pribadi apabila layanan transportasi umum belum tersedia secara memadai dan konsisten.
"Warga tetap ingin angkutan umum itu ada setiap saat dibutuhkan. Kalau sarana busnya sedikit atau jarang, masyarakat tetap menggunakan kendaraan pribadi," ujar Deddy saat dihubungi Kompas.com, Senin (22/6/2026).
Baca juga: Di Balik Klaim Konektivitas Jabodetabek, Pengamat Sebut Jakarta Masih Kekurangan 4.000 Bus
Persoalan utama transportasi publik di Jakarta bukan hanya soal penambahan rute atau perluasan jaringan, melainkan ketersediaan armada dan kualitas layanan yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan mobilitas harian warga.
Deddy bahkan memperkirakan Jakarta masih membutuhkan sekitar 4.000 unit bus tambahan untuk menggantikan peran angkutan lama seperti Metro Mini dan Kopaja yang sebelumnya melayani mobilitas perkotaan.
"Hitungan saya kira masih kurang 4.000-an bus pengganti Metro Mini dan Kopaja," kata dia.
Deddy menilai, tanpa penambahan armada yang signifikan, perluasan layanan seperti Transjabodetabek tidak akan berdampak besar terhadap peralihan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Baca juga: HUT Ke-499 Jakarta, Pengamat Sentil Klaim Pramono soal Transportasi: Trayek Ada, Busnya Mana?
"Masih belum menjawab kebutuhan masyarakat. Yang penting itu bukan sekadar ada trayeknya, tetapi kuantitas dan kualitas pelayanannya," ujar Deddy.
Sebelumnya, dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta di Silang Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan sejumlah capaian pembangunan di berbagai sektor.
Di bidang transportasi, Pramono menyebut layanan Transjabodetabek kini semakin memperluas jangkauan wilayah Jabodetabek sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas kawasan aglomerasi.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis seperti pengoperasian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai, pembangunan MRT Jakarta Fase 2A, hingga pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas.
Baca juga: HUT ke-499 Jakarta, Pramono Pamer Capaian: Ekonomi 5,59 Persen, Investasi Tembus Rp 270 T
Pramono menegaskan bahwa berbagai program tersebut merupakan bagian dari persiapan Jakarta menuju kota global sekaligus menyambut usia 500 tahun Jakarta pada 2027.
Namun, Deddy menilai tantangan terbesar transportasi Jakarta saat ini bukan lagi sekadar memperluas jaringan, melainkan memastikan ketersediaan armada yang cukup agar masyarakat benar-benar mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




