Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah riset dari perusahaan pengeditan video Kapwing menemukan banyak konten AI di dalam TikTok buruk. Bahkan lebih banyak dibandingkan yang ada di YouTube.
Riset itu menyebutkan 59% video yang tampil di laman For You atau Untuk Anda akun TikTok merupakan video AI dengan kualitas rendah. Jumlah itu tiga kali dari yang ditemukan di YouTube dengan 21%, dikutip dari laman resmi perusahaan, Senin (22/6/2026).
TikTok akan menghadirkan video dalam akun penggunanya berdasarkan beberapa hal, seperti referensi kategori, aktivitas scrolling, pengikut dan likes. Namun sistem berbeda diterapkan pada pengguna baru.
- Modus Baru Penipuan Kuras Rekening Lewat Video di TikTok-Instagram
- Giliran Amerika Mengekor Indonesia, Aturan RI Sudah Mendunia
- Tahun Ini Warga China Tak Suka Nobar Piala Dunia, Ada Apa?
Kapwing menjelaskan pengguna baru akan melihat konten populer yang sesuai untuk khalayak luas. Selain itu juga terdapat konten yang dipengaruhi dari lokasi dan pengaturan bahasa.
Dalam uji coba yang dilakukan Kapwing dengan akun percobaan, mereka menemukan video AI dengan kualitas rendah dan sepertinya telah dihapus.
Konten dengan AI yang buruk juga ditemukan pada kategori untuk anak, sains dan pendidikan, serta kesehatan.
Dari sampel 10.742 video TikTok di seluruh tag populer, konten untuk anak berisi jumlah video AI buruk paling tertinggi mencapai 57,4%. Sementara kategori lainnya yakni sains dan pendidikan sebanyak 35%, kesehatan 33,8%, dan sejarah 33,5%.
Tak semua video dibuat oleh AI. Beberapa kategori yakni kebugaran, musik, dan fashion disebut dalam riset masih banyak dibuat oleh manusia.
Buruk Bagi Otak AnakRiset itu juga menyoroti khusus pada kategori anak-anak dengan hastag #cartoonkids. Hanya tiga dari 100 video yang diperiksa adalah buatan manusia, sisanya 97% adalah konten AI buruk.
Hal ini jelas mengkhawatirkan. Meski bahaya konten otomatis untuk anak bukan hal baru, namun karena menjadi sasaran konten menjadi sangat mengkhawatirkan.
Seorang profesor pediatri Universita Chicago, Dana Suskind juga mengatakan konten-konten berbahaya itu bisa berisiko bagi perkembangan otak.
"Saya sebut ini sebagai disinformasi AI untuk balita dalam skala industri. Ini berisiko untuk perkembangan otak," jelasnya.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




