JAKARTA, KOMPAS – Sebanyak tujuh perguruan tinggi Indonesia masuk dalam 500 besar peringkat dunia versi QS World University Rankings 2027. Pencapaian peringkat Indonesia di antara 1.504 perguruan tinggi dunia ini dinilai sebagai kontribusi dan menunjukkan daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat internasional.
Ketujuh perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam peringkat 500 besar dunia yakni Universitas Indonesia (191), Universitas Gadjah Mada (206), Universitas Airlangga (276), Institut Teknologi Bandung (287), IPB University (419), Universitas Padjadjaran (496), dan Institut Teknologi Sepuluh November (497).
Adapun Universitas Brawijaya (616), Universitas Diponegoro (662), Universitas Hasanuddin (851-900), Bina Nusantara University (901-950), dan Universitas Sebelas Maret (951-1000). Selanjutnya, Universitas Sumatera Utara (1001-1200), Telkom University (1201-1400), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1202-1400). Di peringkat 1401+ yakni Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Trisakti.
Adapun top 10 universitas dunia yakni Massachusetts Institute of Technology (MIT), peringkat dua yakni Imperial College London dan Stanford University. Peringkat empat dan selanjutnya yakni Oxford of University, Harvard University, University of Cambridge, California Institute of Technology, ETH Zurich, University College London, dan National University of Singapore.
Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah mengatakan di tengah persaingan global yang semakin ketat, UI kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi nomor satu di Indonesia dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Meksipun peringkat UI tahun 2027 turun dua peringkat dari peringkat QS WUR 2026 yakni peringkat 189.
“Bertahan di jajaran 200 besar dunia di tengah persaingan global yang semakin ketat adalah capaian yang patut kita syukuri,” kata Heri seperti dikutip dari siaran pers UI, Senin (22/6/2026).
Ia menandaskan bahwa capaian yang didapat dari kerja kolektif sivitas akademika tersebut bukan tujuan akhir. Hal ini, lanjutnya, justru menjadikan UI harus bekerja lebih keras, lebih cepat, dan lebih cerdas lagi untuk terus meningkatkan kontribusi dan daya saing di tingkat internasional.
Pendidikan tinggi saat ini bergerak sangat dinamis, dan pemeringkatan global mencerminkan kompetisi yang semakin ketat di tingkat internasional untuk terus bertumbuh dan bertransformasi.
Menurut Heri, konsistensi UI masuk dalam peringkat 200 top dunia ditopang oleh kinerja sejumlah indikator utama, yakni Employer Reputation (87,4), Employment Outcomes (81,0), dan International Faculty Ratio (88,4). Capaian tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan dunia kerja terhadap lulusan UI, keberhasilan alumni dalam meniti karier, serta kuatnya jejaring akademik internasional yang dimiliki universitas.
“Berbekal fondasi ini, UI semakin optimistis melanjutkan transformasinya sebagai universitas riset kelas dunia yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemajuan bangsa,” kata Heri.
Sementara itu, Rektor UGM Ova Emilia mengatakan posisi UGM naik 18 peringkat dibandingkan posisi tahun lalu pada peringkat 224. “Kenaikan ini menjadi bukti nyata upaya berkelanjutan universitas dalam memperkuat kualitas akademik dan daya saing internasionalnya,” kata Ova.
Lebih lanjut, Ova mengatakan internasionalisasi menjadi pilar penting dalam kenaikan peringkat UGM. Keterlibatan akademisi asing di lingkungan kampus semakin kuat, sementara jejaring kolaborasi penelitian internasional meluas, menandakan intensifikasi kerja sama riset dengan mitra dari berbagai negara.
“Daya tarik UGM bagi mahasiswa internasional juga meningkat, memperkuat citra kampus sebagai tujuan studi yang relevan dan kompetitif di tingkat global,” katanya.
Ova menambahkan, kenaikan ke peringkat 206 dunia dalam QS WUR 2027 menjadi modal penting bagi UGM untuk terus menarik talenta, memperluas kolaborasi internasional, dan meningkatkan dampak akademik serta sosialnya. “Hasil ini mempertegas posisi UGM sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara, sekaligus menegaskan komitmen institusi untuk terus maju di panggung pendidikan tinggi global,” katanya.
Rektor Universitas Airlangga (Unair) Muhammad Madyan mengatakan peringkat 276 dunia sekaligus menempati posisi ketiga di Indonesia bagi Unair bukan sekadar angka atau posisi dalam sebuah pemeringkatan. “Ini adalah hasil dari perjalanan panjang, kerja keras, komitmen, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika Unair dalam membangun institusi yang semakin unggul dan berdaya saing global,” katanya.
Menurut Madyan, capaian peringkat Unair ini hanyalah salah satu refleksi dari kualitas dan dampak yang telah ditorehkan Unair. Ke depan, Unair akan terus berfokus pada upaya menghasilkan pendidikan bermutu, riset berdampak, inovasi, serta lulusan yang mampu berkontribusi untuk bangsa dan dunia.
“Unair akan terus memperkuat internasionalisasi kampus, memperluas jejaring riset global, meningkatkan kualitas pendidikan dan reputasi akademik. Serta membangun tata kelola institusi yang semakin adaptif, inovatif, dan berbasis data,” tegasnya.
Rektor Binus University, Nelly, menyampaikan hasil pemeringkatan yang menempatkan Binus University sebagai perguruan tinggi swasta di Indonesia masuk dalam universitas berkelas dunia (world class university) menjadi bagian dari perjalanan panjang transformasi Binus memperkuat daya saing global. Lanskap pendidikan tinggi global saat ini semakin kompetitif, dengan perguruan tinggi di berbagai negara terus meningkatkan kualitas dalam aspek riset, reputasi akademik, kolaborasi internasional, serta keterkaitan dengan kebutuhan industri.
Dinamika ini turut tercermin dalam berbagai pemeringkatan global yang menjadi salah satu indikator perkembangan institusi pendidikan tinggi dunia “Pendidikan tinggi saat ini bergerak sangat dinamis, dan pemeringkatan global mencerminkan kompetisi yang semakin ketat di tingkat internasional untuk terus bertumbuh dan bertransformasi,” ujar Nelly.
Di tengah upaya peningkatan perguruan tinggi menjadi universitas berkelas dunia, anggaran pendidikan tinggi masih jadi tantangan. Dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR pekan lalu, pagu indikatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada Rancangan APBN Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp 64,84 triliun. Jumlah ini dinilai belum cukup.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengajukan lagi anggaran tambahan sebesar Rp 17,18 triliun. Peningkatan anggaran, kata Brian, untuk mendukung mutu perguruan tinggi negeri dan swasta dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul dan meningkatkan inovasi bangsa.





