CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sebanyak 243 pemain muda dari total 833 peserta berhasil lolos ke seleksi final PSM Academy setelah mengikuti rangkaian penjaringan bakat di tujuh zona di Pulau Sulawesi. Mereka berasal dari kelompok usia U-16, U-18, dan U-20.
Dari tujuh zona yang telah selesai dilaksanakan, sebanyak 36 pemain lolos dari Polewali Mandar (Sulawesi Barat), 31 pemain dari Malili (Luwu Timur), 39 pemain dari Palopo.
Kemudian 54 pemain dari Sidrap, 38 pemain dari Manado (Sulawesi Utara), 17 pemain dari Gorontalo, serta sekitar 28 pemain dari Bulukumba.
PSM Academy masih akan menggelar seleksi di empat zona tersisa, yakni Kendari, Sulawesi Tenggara pada 27-28 Juni, Bone pada 1-2 Juli, Palu, Sulawesi Tengah pada 11-12 Juli, dan Makassar pada 18-19 Juli.
Seluruh pemain yang lolos dari setiap zona nantinya akan mengikuti seleksi final terpusat di Makassar pada 25-26 Juli 2026.
Program ini menjadi bagian dari upaya PSM Academy menjaring talenta terbaik di Pulau Sulawesi untuk memperkuat tim Elite Pro Academy (EPA) U-16, U-18, dan U-20 Super League musim 2026/2027.
Direktur Teknik PSM Academy, Akbar Rasyid, mengatakan pihaknya tidak menetapkan target jumlah pemain yang akan direkrut.
Menurut mantan penyerang PSM periode 2004-2005 ini, kualitas menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pemain yang berhak melaju ke tahap berikutnya.
“Kalau setiap daerah banyak pemain bagus, otomatis kita ambil banyak. Nanti di seleksi final mereka bertarung lagi dan yang terbaik yang akan kami pilih,” ujar Akbar, Senin (22/6/2026).
Akbar mengaku menemukan banyak talenta potensial selama proses seleksi di berbagai daerah.
Namun, sebagian besar pemain muda tersebut masih menghadapi keterbatasan akses pembinaan dan kompetisi usia dini.
Ia mencontohkan sejumlah pemain berbakat di Palopo yang berkembang melalui permainan sepak bola informal tanpa dukungan sekolah sepak bola yang memadai.
Di sejumlah daerah lain, keterbatasan jaringan dan dukungan keluarga juga menjadi kendala bagi pemain untuk mengikuti seleksi di luar wilayahnya.
Selain itu, minimnya kompetisi kelompok usia di daerah dinilai turut menghambat perkembangan pemain muda.
Meski demikian, pelatih berusia 44 tahun ini mengaku terkesan dengan kualitas talenta yang ditemukan selama proses seleksi berlangsung.
Laporan: Muhammad Akbar




