Ringkasan Berita
* Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD5,64 miliar pada Januari-April 2026, didorong oleh pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 5,48 persen.
* Meski ekspor tumbuh, pelaku usaha menyoroti tantangan biaya logistik dan ketergantungan bahan baku impor. Sebagai respons, PT Pelindo terus memperkuat kapasitas infrastruktur di TPK Semarang, yang mencatatkan pertumbuhan arus peti kemas sebesar 12,2 persen, guna menjaga daya saing produk nasional di pasar global.
——————————————————————————-
Semarang (beritajatim.com) – Sektor perdagangan Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah tantangan ekonomi global. Sepanjang periode Januari hingga April 2026, Indonesia sukses mencatatkan surplus neraca perdagangan senilai USD5,64 miliar. Data ini menjadi indikator vital bahwa aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan nasional tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD92,15 miliar, tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan kontribusi ekspor sebesar USD75,57 miliar, mempertegas perannya sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor mencapai USD22,76 miliar, diikuti oleh Amerika Serikat (USD10,17 miliar) dan India (USD6,14 miliar). Sementara itu, kawasan ASEAN dan Uni Eropa masing-masing menyerap produk Indonesia sebesar USD17,70 miliar dan USD6 miliar.
Jawa Tengah turut memberikan kontribusi signifikan dengan nilai ekspor sebesar USD4,5 miliar. Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Tengah, Ade Siti Muksodah, mengungkapkan bahwa produk kayu, komoditas rajut, hingga gula aren menjadi andalan daerah. Namun, ia juga menyoroti tantangan biaya logistik yang cukup tinggi.
“Sekitar 70 persen bahan baku kita masih impor, terutama dari China dan Asia Timur. Kenaikan harga bahan baku plastik, misalnya, secara langsung berdampak pada daya saing harga produk ekspor kita,” ungkap Ade.
Pertumbuhan arus logistik terefleksi jelas di Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang. PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat peningkatan arus peti kemas internasional pada Januari–Mei 2026 sebesar 382.093 TEUs, atau naik 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (340.535 TEUs).
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa perseroan terus menggenjot efisiensi untuk merespons pertumbuhan tersebut. “Kami sedang melakukan commissioning empat unit quay container crane (QCC) baru dan menambah dermaga sepanjang 275 meter untuk memastikan kelancaran operasional,” ujar Widyaswendra.
Meski infrastruktur pelabuhan terus dibenahi, pelaku usaha seperti pengusaha garmen Deddy Mulyadi menilai bahwa konektivitas dan kecepatan layanan pelabuhan masih perlu ditingkatkan untuk menghindari antrean kapal.
Pakar ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Bhimo Rizky Samudro, menegaskan bahwa ke depan, efisiensi logistik adalah kunci. Menurutnya, surplus perdagangan bukan sekadar angka, melainkan cerminan daya saing.
“Indonesia membutuhkan konektivitas yang efisien antara pusat produksi dan pasar global. Selain pembangunan fisik, transformasi digital dan penguatan teknologi logistik mutlak diperlukan untuk menekan biaya operasional dan mempercepat distribusi barang,” pungkas Prof. Bhimo.[rea]




