JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah arus perkembangan teknologi yang terus melaju tanpa henti, Sanggar Oplet Robet yang berada di Pinang Ranti, Makasar, Jakarta Timur, tetap eksis dengan pertunjukan khas Betawi meski harus terseok-seok menghadapi persoalan pendanaan.
Sanggar yang berdiri sejak 2002 itu menggabungkan dua kesenian Betawi, yakni tanjidor dan lenong, yang mereka sebut sebagai Tanjilenong atau Jinong.
Dalam setiap pertunjukan, para anggota tidak hanya beradu akting, tetapi juga menari dan memainkan alat musik.
Baca juga: Stasiun Baru JIS Dibuka, KRL Bisa Operasi Lebih Lama Saat Event Besar
Agar tidak terkesan "kuno", Oplet Robet terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Cerita yang diangkat pun tidak hanya berkutat pada sejarah Betawi.
Mereka justru menciptakan kisah-kisah baru dengan sentuhan imajinasi, di antaranya perpaduan cerita kerajaan dengan kehidupan sehari-hari hingga kisah mimpi terbang ke bulan.
“Kami bawa cerita-cerita kerajaan yang notabene kerajaan itu sebenarnya enggak ada, tapi kami masukkan unsur kekinian,” jelas Ketua Sanggar Oplet Robet, Ramdani Qubil, ditemui di kediamannya di wilayah Pinang Ranti, Senin (22/6/2026).
“Kayak tahun kemarin kita bikin ‘Ratu Bengis’, seorang ratu yang anaknya mati pada saat peperangan, lalu ratu mau balas dendam. Jadi tetap pakai cerita, tapi idenya baru dan kekinian supaya kita enggak stuck,” jelas Ramdani.
Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan juga disesuaikan dengan latar cerita. Jika berlatar perkampungan, para pemain menggunakan bahasa Betawi. Sementara untuk lakon yang berlatar kerajaan, mereka menggunakan bahasa Indonesia.
Pertunjukan Oplet Robet juga tidak hanya dipentaskan di panggung-panggung biasa. Mereka mulai menyasar gedung-gedung kesenian agar dapat menjangkau penonton yang lebih luas dari berbagai kalangan.
Baca juga: Tidak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Hanya Wajib Lapor Tiap Minggu
Baru-baru ini, mereka tampil di Gedung Indonesia Kaya (GIK). Selanjutnya, mereka juga tengah mempersiapkan pertunjukan khusus di Gedung Kesenian Jakarta pada Oktober 2026 mendatang.
Tujuannya satu, yakni agar budaya Betawi tidak tenggelam di tengah derasnya budaya populer, terutama yang berasal dari luar negeri.
Menurut Qubil, di usia Jakarta yang hampir menginjak lima abad, masyarakat tidak boleh meninggalkan budaya Betawi.
“Apalagi Jakarta sebentar lagi masuk usia 500 tahun. Kota boleh global, tapi budaya lokal harus menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Mau global kayak apa pun, lokal harus tetap ada, jangan sampai mati,” tegas Qubil.
Qubil menilai, memudarnya kecintaan terhadap budaya lokal, khususnya Betawi, dipengaruhi oleh semakin berkurangnya budaya gotong royong di tengah masyarakat.





