JAKARTA, KOMPAS.com - Belum lama terdengar nama Hotel Sultan menjadi perbincangan publik lantaran proses eksekusi yang cukup rumit.
Perlawanan dari simpatisan hingga karyawan, namun akhirnya negara bisa mengambil kembali tanah yang lama dikuasai oleh sektor privat tersebut.
Kamis (18/6/2026) lalu menjadi akhir drama konflik keluarga Pontjo Sutowo dengan Pusat Pengelolaan komplek Gelora Bung Karno.
Mereka telah 26 tahun berkonflik, saling tuntut dan berakhir dengan eksekusi.
Baca juga: Hotel Sultan Jakarta Akan Dirobohkan Pemerintah
Setelah eksekusi berakhir, cerita baru gedung yang berdiri sejak 1976 itu terbuka di tangan pemerintah.
Pada hari ini, pemerintah menggunakan kata "eventually" yang mengarah pada pembongkaran atau dirobohkan.
"Ya pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan, tapi rencana itu akan dijadikan suatu kawasan baru ya. Eventually iya," ujar CEO Danantara Rosan Roeslani di Istana, Jakarta, Senin (22/6/2026).
"Eventually (dirobohkan), iya, gitu ya," tegasnya.
Baca juga: Aset Hotel Sultan Diangkut dari GBK Siang Ini, Dimulai dari Apartemen
Secara singkat, Rosan menjelaskan Kawasan Hotel Sultan akan tetap memiliki penginapan.
Namun demikian, Presiden Prabowo Subianto meminta agar pengembangan Kawasan tersebut mengarah pada sport tourism karena termasuk dalam Kawasan Gelora Bung Karno.
"Nanti di antaranya pastinya ada hotel juga ya. Dan tidak satu mungkin. Jadi tapi pesan Bapak Presiden ini dijadikan ikon baru untuk Indonesia, sehingga perencanaannya tuh harus dilakukan secara komprehensif dan memberikan dampak yang nyata kepada perekonomian dan juga yang paling penting kepada rakyat Indonesia gitu," imbuh Rosan.
Sejarah Hotel SultanBaca juga: Sempat Dijadwalkan Hari Ini, Pengangkutan Aset Hotel Sultan Diundur hingga 22 Juni
Pembangunan hotel sultan pada awal tahun 1970-an bermula Jakarta menjadi tuan rumah konferensi Pacific Area Travel Association (PATA) ke-23.
Waktu itu, sekitar 3.000 tamu dari berbagai negara diperkirakan akan datang ke Jakarta untuk menghadiri acara berskala internasional pada April 1974, seperti dilaporkan Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Saat itu, belum banyak hotel bertaraf internasional di Jakarta.
Bahkan, kapasitas Hotel Indonesia, yang lebih dulu dibangun, juga tak cukup menampung besarnya okupansi yang ada.
Baca juga: Grand Piano, Seprai, dan Handuk, Saksi Bisu Perjalanan Hotel Sultan
Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, lantas didorong untuk mempercepat pembangunan hotel-hotel baru sebagai bagian dari persiapan menyambut tamu dunia.
Selain Hotel Mandarin, Hotel Sahid, dan Hotel Sari Pan Pacific, lahirlah Hotel Hilton Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Hotel Sultan sampai saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




