Nasib Kuli Sindang di Jakarta, Tersisih Modernisasi dan Alat Berat

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Modernisasi pembangunan di Jakarta perlahan menggeser keberadaan kuli sindang, kelompok pekerja serabutan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari pembangunan ibu kota.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh Surmiti, seorang kuli sindang berusia sekitar 80 tahun yang masih bertahan mencari nafkah di kawasan Jalan KH Guru Amin menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

"Sekarang sepi karena sudah diambil PPSU. Kalau ada galian saluran juga sekarang sudah pakai beko," ujar Surmiti saat ditemui, Jumat (19/6/2026).

Baca juga: Kisah Surmiti, Kuli Sindang 80 Tahun yang Bertahan di Jakarta demi Sekolah Cucu

Di tepi trotoar, Surmiti duduk bersila ditemani cangkul, belencong, golok, dan pengki plastik yang sudah tampak usang. Di tengah hiruk pikuk Jakarta, ia menunggu panggilan kerja yang belum tentu datang setiap hari.

Bahkan, dalam delapan hari terakhir, tidak ada satu pun pekerjaan yang menghampirinya.

"Delapan hari ini kosong," kata dia.

Surmiti merupakan salah satu kuli sindang yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya bekerja sebagai buruh kasar di Jakarta.

Kuli sindang merupakan sebutan bagi pekerja serabutan yang mayoritas berasal dari Sindanglaut, Cirebon, Jawa Barat. Mereka merantau ke Jakarta dan menawarkan jasa tenaga harian untuk berbagai pekerjaan fisik, seperti menggali saluran, membuat septic tank, membersihkan lahan, hingga menggali kuburan.

Surmiti mengaku mulai bekerja sebagai kuli sindang sejak 1973. Selama lebih dari lima dekade, ia menyaksikan langsung perubahan wajah Jakarta sekaligus perubahan nasib profesi yang digelutinya.

Baca juga: Di Pinggir Trotoar Kalibata Jaksel, Kuli Sindang Menunggu Panggilan yang Tak Pasti

Menurut dia, pada masa lalu tenaga kuli sindang sangat dibutuhkan, terutama untuk proyek-proyek pembangunan yang masih mengandalkan tenaga manusia.

"Kalau dulu memang ramai," ujar Surmiti.

Ia mengenang banyak proyek besar yang dikerjakan dengan cara manual. Para mandor proyek kerap datang ke lokasi mangkal untuk mencari tambahan tenaga kerja.

Orang-orang Sindang, kata Surmiti, dikenal memiliki keterampilan dalam pekerjaan penggalian sehingga banyak dipercaya mengerjakan proyek konstruksi.

"Dari dulu ini kan mandor-mandor pemborongan asalnya dari Sindang. Banyak proyek besar dikerjakan orang Sindang," kata dia.

Ia menyebut sejumlah proyek besar, mulai dari pembangunan jalan menuju kawasan Pelabuhan Tanjung Priok hingga proyek pembangkit listrik, pernah melibatkan banyak pekerja asal Sindanglaut.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Surmiti (80) seorang kuli sindang asal Cirebon saat ditemui di tepi Jalan KH Guru Amin menuju kawasan TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Jadi Cirebon ke-599, Sidkon Djampi Dorong Pemprov Jabar Perkuat Dukungan untuk Pesantren
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Serang Iran, Peluang Netanyahu Menang Pemilu Israel Anjlok Drastis
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
No Na Rilis Rollerblade Remix Bareng Jebung, Berawal dari Challenge di Medsos
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Pusat Militer AS Diserang Wabah Flu, Ratusan Tentara Tumbang di Tengah Keputusan Vaksin hanya Opsional
• 2 jam laludisway.id
thumb
BNPB: Banjir di Parigi Moutong Rendam 166 Rumah dan 3 Jembatan Rusak
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.