JAKARTA, KOMPAS.com - Di antara deru kendaraan yang tak pernah benar-benar berhenti di Jalan KH Guru Amin, Kalibata, Jakarta Selatan, seorang pria tua tampak duduk diam di pinggir trotoar.
Bukan sekadar beristirahat, ia sedang menunggu sesuatu yang kini semakin jarang datang yaitu pekerjaan.
Di sampingnya, beberapa alat sederhana tersandar di tembok kecil: cangkul, belencong, golok, dan pengki plastik oranye yang warnanya mulai pudar dimakan waktu.
Tidak ada yang benar-benar siap digunakan hari itu, kecuali harapan yang masih ia simpan.
Namanya Surmiti. Usianya sekitar 80 tahun. Sudah lebih dari lima dekade ia menjalani hidup sebagai kuli sindang, buruh kasar yang mengandalkan tenaga untuk menggali tanah, membersihkan saluran, atau mengerjakan pekerjaan konstruksi seadanya di sudut-sudut Jakarta.
Baca juga: Nasib Kuli Sindang di Jakarta, Tersisih Modernisasi dan Alat Berat
Namun kini, hari-harinya lebih sering diisi dengan menunggu.
“Delapan hari ini kosong,” ujarnya pelan, tanpa banyak ekspresi.
Bagi Surmiti, delapan hari tanpa kerja bukan sekadar angka. Itu berarti tidak ada penghasilan.
Tidak ada panggilan mandor. Tidak ada orang yang datang mencari tenaga seperti dulu.
Ia masih ingat masa ketika pekerja seperti dirinya dibutuhkan di hampir setiap proyek kota.
Tanpa banyak administrasi, tanpa perantara rumit, cukup berdiri di pangkalan, lalu nama dipanggil.
“Kalau dulu memang ramai,” katanya singkat, seolah membuka lembaran yang sudah lama tertutup.
Surmiti mulai merantau dan bekerja sebagai kuli sindang sejak 1973. Jakarta saat itu masih jauh berbeda.
Banyak pekerjaan dikerjakan dengan tangan manusia. Galian tanah, saluran air, hingga proyek-proyek besar, semuanya menyerap tenaga kasar dalam jumlah besar.
Baca juga: Kisah Surmiti, Kuli Sindang 80 Tahun yang Bertahan di Jakarta demi Sekolah Cucu
Bagi komunitasnya, Sindanglaut di Cirebon, Jakarta adalah ruang kerja sekaligus ruang hidup. Banyak dari mereka menjadi bagian tak terlihat dari pembangunan ibu kota.