Jakarta, VIVA – Banyak orang masih bingung ketika membahas hubungan antara takdir Allah dan perbuatan manusia. Tidak sedikit pula yang menggunakan alasan “semua sudah ditakdirkan” untuk membenarkan kesalahan yang mereka lakukan. Pertanyaan seperti ini kerap muncul ketika seseorang melakukan perbuatan buruk, lalu berdalih bahwa semua yang terjadi merupakan kehendak Allah.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya memberikan penjelasan yang cukup mendalam mengenai konsep qada dan qadar dalam Islam. Menurutnya, memahami takdir tidak boleh dilakukan secara sepotong-sepotong karena bisa menimbulkan kesalahpahaman yang berbahaya.
Dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang muslim memang wajib beriman kepada qada dan qadar Allah. Namun, keimanan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan.
Buya Yahya menjelaskan bahwa qada berkaitan dengan pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Sementara qadar adalah apa yang Allah tetapkan dan berlaku kepada makhluk-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya tersebut.
Menurutnya, Allah sudah mengetahui segala sesuatu sejak zaman azali. Namun, manusia tetap diberi akal, pilihan, dan kemampuan untuk berusaha dalam menjalani kehidupan.
“Allah sudah tahu apa yang terjadi dan akan terjadi,” jelas Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Selasa, 23 Juni 2026.
Jangan Gunakan Takdir untuk Membenarkan DosaSalah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika seseorang beranggapan bahwa jika dirinya memang ditakdirkan masuk surga, maka berbuat dosa tidak akan menjadi masalah.
Buya Yahya menegaskan bahwa cara berpikir seperti itu keliru. Menurutnya, manusia tidak pernah mengetahui apakah dirinya termasuk ahli surga atau ahli neraka.
“Ada orang berkata kalau memang sudah ditentukan saya ini menjadi ahli surga, biarpun saya dosa akan tetap masuk surga. Itu namanya ente sok tahu. Siapa bilang ahli surga?” tegas Buya Yahya.
Beliau menambahkan bahwa hanya Allah yang mengetahui akhir kehidupan seseorang. Karena itu, manusia tidak boleh merasa aman dari dosa hanya karena beranggapan takdirnya sudah ditentukan.





