Sebaran RTH di Jakarta Masih Belum Merata, Warga Pinggiran Sulit Akses Taman Besar

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta dinilai masih menghadapi persoalan pemerataan. Meski jumlah taman dan ruang hijau terus bertambah, distribusi RTH yang memiliki fungsi ekologis dan sosial disebut belum merata di seluruh wilayah ibu kota.

Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Muhammad Aminullah mengatakan, sebagian besar ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi ekologis dan sosial masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara kawasan pinggiran Jakarta relatif minim RTH yang memadai.

“Sebarannya terlalu di tengah, daerah pinggir tidak banyak,” kata Aminullah saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Senin (22/6/2026).

Menurut Aminullah, persoalan RTH di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan luas lahan, tetapi juga efektivitas fungsi ekologi dan sosialnya.

Ia menilai banyak ruang hijau yang ada saat ini berupa taman-taman kecil yang ditata untuk kebutuhan estetika dan ruang publik, namun belum tentu berfungsi optimal sebagai kawasan resapan air.

“Kalau taman memang banyak, tapi taman-taman kecil yang ditata dan diberi plang sebagai taman. Tapi secara fungsi ekologi harus ditinjau kembali,” ujarnya.

“Ruang terbuka hijau itu fungsi utamanya soal ekologi. Secara fungsi ekologi belum efektif sepenuhnya,” lanjut dia.

Baca juga: Di HUT Ke-499 Jakarta, Persoalan Sampah Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar

Warga Pinggiran Jakarta Dinilai Sulit Mengakses Taman Besar

Selain fungsi ekologis, Aminullah juga menyoroti aspek sosial dari keberadaan RTH di Jakarta.

Menurut dia, taman-taman besar yang nyaman dan banyak dimanfaatkan masyarakat masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama kawasan pusat kota.

Ia mencontohkan sejumlah taman yang menjadi ruang publik favorit warga seperti Tebet Eco Park.

Namun, warga yang tinggal di wilayah pinggiran Jakarta dinilai belum memiliki akses yang sama terhadap ruang terbuka hijau dengan kualitas serupa.

“Secara fungsi sosial, RTH atau taman-taman yang besar, yang nyaman, juga terlalu terkonsentrasi di tengah. Sebut saja misalnya Tebet Eco Park, dan lain-lain,” kata Aminullah.

“Warga-warga di pinggiran Jakarta sulit mengaksesnya. Mereka harus berkendara dulu ke taman-taman itu,” lanjut dia.

Karena itu, menurut Aminullah, pembangunan ruang terbuka hijau perlu dilakukan secara lebih merata agar manfaat ekologis maupun sosialnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Jakarta.

Baca juga: Banjir Jakarta Didominasi Genangan Lokal, Penguatan RTH dan Resapan Dinilai Penting

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Alih Fungsi Lahan Dinilai Mengurangi Kawasan Resapan

Walhi Jakarta juga menyoroti masih terjadinya alih fungsi lahan yang berdampak pada berkurangnya kawasan resapan air di ibu kota.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
947 Siswa Dikko Marinir Jalani Upacara Pembaretan di Pantai Baruna
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dokter Tifa usai Tak Ditahan Kejari Jakarta Selatan: Ternyata Kebenaran Tidak Padam di Negara Kita
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Puncak Bakti Kesehatan Hari Bhayangkara, Kapolri Minta Jajaran Beri Pelayanan Terbaik ke Masyarakat
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Simak lagi warta tentang promosi wisata olahraga, produk tablet baru
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Gandeng Bintang Timur Atambua, Garudayaksa FC Cari Talenta Lokal NTT untuk EPA Super League Musim Depan
• 2 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.