Brisbane (ANTARA) - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ekspor pupuk ke Australia, dan juga rencana pengiriman ke sejumlah negara lain, tidak akan mengganggu pasokan bagi petani dalam negeri karena kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional terpenuhi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Prinsipnya adalah penuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Untuk ekspor karena desainnya industri kita untuk ekspor dan arahan dari Bapak Presiden adalah kalau gudang-gudang kita penuh dengan pupuk, maka kita tidak boleh membiarkan sahabat-sahabat Indonesia kekurangan dengan pupuk," kata Rahmad dalam pernyataan pers, di Brisbane, Australia, Selasa.
Rahmad menjelaskan Indonesia memiliki kapasitas produksi yang melebihi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut membuat industri pupuk nasional memiliki surplus struktural, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Menurut dia, ekspor dilakukan dengan memanfaatkan surplus produksi 2026, sehingga tidak mempengaruhi kebutuhan urea dalam negeri. Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk yang lebih besar dibandingkan kebutuhan nasional, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Berdasarkan data Pupuk Indonesia, potensi ekspor urea dari Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebesar 1,5 juta ton pada 2026, namun dengan komitmen utama tetap pada kebutuhan dalam negeri. Adapun kebutuhan urea nasional ditaksir mencapai 6,3 juta ton per tahun. ada 2026, sementara target produksi urea Pupuk Indonesia mencapai 7,8 juta ton.
"Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani kita. Surplus ini bukan karena krisis, kemudian kita ekspor. Tetapi desain struktural industri pupuk di Indonesia adalah sebagian ekspor oriented," ujarnya.
Pada pekan ini, sebanyak 47.250 ton pupuk urea dari Indonesia tiba di Pelabuhan Brisbane, Australia. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari kesepakatan ekspor sebanyak 250.000 ton antara Indonesia dan Australia hingga akhir 2026 melalui skema kerja sama antarpemerintah (Government to Government/G to G).
Pemerintah Australia menyambut kedatangan pasokan pupuk dari Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Australia dan kawasan.
First Assistant Secretary Department of Agriculture, Fisheries and Forestry Australia Amanda Calmers mengatakan pasokan pupuk urea dari Indonesia sebesar 47.250 ton memberikan kepastian dan kepercayaan kepada para petani di negara tersebut sekaligus berperan penting mendukung ketahanan pangan di Australia dan kawasan.
"Kedatangan urea dari Indonesia hari ini adalah kesepakatan komersial yang didukung oleh kedua pemerintah dan merupakan contoh dari kemitraan dan persahabatan kita yang mendalam," kata Amanda.
Ia mengatakan kerja sama tersebut mencerminkan hubungan erat antara Australia dan Indonesia yang selama ini terjalin sebagai negara bertetangga sekaligus mitra strategis. Hubungan ekonomi kedua negara juga terus berkembang seiring implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
"Australia memang memiliki kepercayaan yang mendalam dan ikatan yang tak terputus dengan Indonesia, tetangga dan mitra kita. Mereka juga teman kita," ujar Amanda.
Baca juga: Dari penyangga pangan menuju kekuatan industri baru
Baca juga: Pupuk Indonesia: Sejumlah negara Asia jajaki peluang impor urea RI
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional terpenuhi sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Prinsipnya adalah penuhi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Untuk ekspor karena desainnya industri kita untuk ekspor dan arahan dari Bapak Presiden adalah kalau gudang-gudang kita penuh dengan pupuk, maka kita tidak boleh membiarkan sahabat-sahabat Indonesia kekurangan dengan pupuk," kata Rahmad dalam pernyataan pers, di Brisbane, Australia, Selasa.
Rahmad menjelaskan Indonesia memiliki kapasitas produksi yang melebihi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut membuat industri pupuk nasional memiliki surplus struktural, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Menurut dia, ekspor dilakukan dengan memanfaatkan surplus produksi 2026, sehingga tidak mempengaruhi kebutuhan urea dalam negeri. Indonesia memiliki kapasitas produksi pupuk yang lebih besar dibandingkan kebutuhan nasional, sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Berdasarkan data Pupuk Indonesia, potensi ekspor urea dari Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebesar 1,5 juta ton pada 2026, namun dengan komitmen utama tetap pada kebutuhan dalam negeri. Adapun kebutuhan urea nasional ditaksir mencapai 6,3 juta ton per tahun. ada 2026, sementara target produksi urea Pupuk Indonesia mencapai 7,8 juta ton.
"Kita memiliki kapasitas yang memang lebih besar dari kebutuhan petani kita. Surplus ini bukan karena krisis, kemudian kita ekspor. Tetapi desain struktural industri pupuk di Indonesia adalah sebagian ekspor oriented," ujarnya.
Pada pekan ini, sebanyak 47.250 ton pupuk urea dari Indonesia tiba di Pelabuhan Brisbane, Australia. Pengiriman tersebut merupakan bagian dari kesepakatan ekspor sebanyak 250.000 ton antara Indonesia dan Australia hingga akhir 2026 melalui skema kerja sama antarpemerintah (Government to Government/G to G).
Pemerintah Australia menyambut kedatangan pasokan pupuk dari Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Australia dan kawasan.
First Assistant Secretary Department of Agriculture, Fisheries and Forestry Australia Amanda Calmers mengatakan pasokan pupuk urea dari Indonesia sebesar 47.250 ton memberikan kepastian dan kepercayaan kepada para petani di negara tersebut sekaligus berperan penting mendukung ketahanan pangan di Australia dan kawasan.
"Kedatangan urea dari Indonesia hari ini adalah kesepakatan komersial yang didukung oleh kedua pemerintah dan merupakan contoh dari kemitraan dan persahabatan kita yang mendalam," kata Amanda.
Ia mengatakan kerja sama tersebut mencerminkan hubungan erat antara Australia dan Indonesia yang selama ini terjalin sebagai negara bertetangga sekaligus mitra strategis. Hubungan ekonomi kedua negara juga terus berkembang seiring implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).
"Australia memang memiliki kepercayaan yang mendalam dan ikatan yang tak terputus dengan Indonesia, tetangga dan mitra kita. Mereka juga teman kita," ujar Amanda.
Baca juga: Dari penyangga pangan menuju kekuatan industri baru
Baca juga: Pupuk Indonesia: Sejumlah negara Asia jajaki peluang impor urea RI





