Kepala Bappenas: S-LCA dapat bantu terjemahkan komitmen SDGs

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan Social Life Cycle Assessment (S-LCA) dapat membantu menerjemahkan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi dampak nyata yang terukur.

S-LCA sendiri merupakan metode analisis untuk mengukur dampak sosial dan sosio-ekonomi dari suatu produk, layanan, atau proses di sepanjang siklus hidupnya.

“Kita perlu mengintegrasikan S-LCA ke dalam seluruh indikator SDGs yang masih tertinggal, sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi risiko sosial, mengarahkan implementasi, serta memaksimalkan dampak dari setiap investasi pembangunan,” ujarnya dalam agenda The 10th International Conference of Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026), di Japfa The Learning Centre (JTLC), Bogor, Jawa Barat, dari keterangan resmi, di Jakarta, Selasa.

Rachmat Pambudy menyampaikan bahwa Indonesia tengah mengakselerasi pencapaian visi Indonesia Emas 2045 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dengan fokus pada penguatan ketahanan pangan dan energi, percepatan hilirisasi industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut, Menteri PPN mengatakan Indonesia telah mencapai lebih dari 62 persen target SDGs. Namun, sekitar 24 persen target lainnya, khususnya pada pilar sosial dan tata kelola, masih memerlukan perhatian serius menjelang tahun 2030.

Karena itu, kata dia, penerapan S-LCA perlu diperluas untuk membantu mengantisipasi risiko sosial, memperkuat implementasi program, dan memaksimalkan dampak pembangunan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Pendekatan ini dianggap membantu menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan sekaligus memastikan bahwa proses transformasi pembangunan tak meninggalkan kelompok rentan dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. “Hal tersebut sejalan dengan prinsip no one left behind sebagai landasan tercapainya SDGs untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Kepala Bappenas.

Forum yang mengusung tema “Unity in Diversity” ini kembali diselenggarakan pertama kali di Asia Pasifik sejak 2010 oleh Life Cycle Indonesia (LCI) bersama JAPFA dan diikuti 430 peserta dari 35 negara dengan 169 kontribusi ilmiah.

Baca juga: Bappenas tegaskan pentingnya sinergi penguatan hulu-hilir sawit

Baca juga: Bappenas berkomitmen siapkan arah pembangunan pasca 2030


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bank Raya Bersama Komunitas Tangan Diatas (TDA) Percepat Transformasi dan Pertumbuhan UMKM Lewat GEN TDA Raya
• 3 jam laludisway.id
thumb
Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Kejaksaan, Ini Alasannya
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Sepekan pada Juli 2026, Ini Penjelasannya
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Insiden Ibu Dilempar Molotov di Koja, Pelakunya Bukan Satu Orang
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Geofest ke-7 di Danau Toba, Sumut Perluas Kerja Sama Internasional Antar-Geopark
• 2 menit lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.